Qadha puasa Ramadhan

A. Khoirul, NU Online | Selasa, 07 Oktober 2008 07:20
Qadha‘” adalah bentuk masdar dari kata dasar “qadhaa”, yang artinya; memenuhi atau melaksanakan. Adapun menurut istilah dalam Ilmu Fiqh, qadha dimaksudkan sebagai pelaksanaan suatu ibadah di luar waktu yang telah ditentukan oleh Syariat Islam. Misalnya, qadha puasa Ramadhan yang berarti puasa Ramadhan itu dilaksanakan sesudah bulan Ramadhan.

Namun demikian, menurut para ahli bahasa Arab, penggunaan istilah qadha untuk pengertian seperti tersebut di atas (istilah dalam ilmu fiqh) sama sekali tidak tepat. Lantaran pada dasarnya kata qadha, semakna dengan kata “ada’” yang artinya; pelaksanaan suatu ibadah pada waktu yang telah ditentukan oleh Syariat Islam.<>

Oleh sebab itu, tidaklah tepat kata qadha’ dimaksudkan untuk istilah yang artinya bertolak belakang dengan ada’. Akan tetapi, nyatanya istilah qadha’ tersebut telah membudaya, menjadi baku dan berlaku dalam ilmu fiqh, untuk membedakannya dengan kata ada’ yang merupakan pelaksanaan suatu ibadah pada waktu yang telah ditentukan.

Wajibkah Qadha’ Puasa Dilaksanakan Secara Berurutan?

Qadha’ puasa Ramadhan, wajib dilaksanakan sebanyak hari yang telah ditinggalkan, sebagaimana termaktub dalam Al-Baqarah ayat 184. Dan tidak ada ketentuan lain mengenai tata cara qadha’ selain dalam ayat tersebut.

Adapun mengenai wajib tidaknya atau qadha ‘ puasa dilakukan secara berurutan, ada dua pendapat. Pendapat pertama, menyatakan bahwa jika hari puasa yang di­tinggalkannya berurutan, maka qadha’ harus dilaksanakan secara berurutan pula, lantaran qadha’ merupakan pengganti puasa yang telah ditinggalkan, sehingga wajib dilakukan secara sepadan.

Pendapat kedua, menyatakan bahwa pelaksanaan qadha’ puasa tidak harus dilakukan secara berurutan, lantaran tidak ada satu­pun dalil yang menyatakan qadha ‘ puasa harus berurutan. Sementara Al-Baqarah ayat 184 hanya menegaskan bahwa qadha’ puasa, wajib dilaksanakan sebanyak jumlah hari yang telah ditinggalkan. Selain itu, pendapat ini didukung oleh pernyataan dari sebuah hadits yang sharih jelas dan tegas).

Sabda Rasulullah SAW:

قَضَاءُ رَمَضَانَ إنْ شَاءَ فَرَّقَ وَإنْ شَاءَ تَابَعَ

Qadha’ (puasa) Ramadhan itu, jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya terpisah. Dan jika ia berkehendak, maka ia boleh melakukannya berurutan. ” (HR. Daruquthni, dari Ibnu ‘Umar)

Dari kedua pendapat tersebut di atas, kami lebih cendong kepada pendapat terakhir, lantaran didukung oleh hadits yang sharih. Sementara pendapat pertama hanya berdasarkan logika yang bertentangan dengan nash hadits yang sharih, sebagaimana terse. but di atas.

Dengan demikian, qadha’ puasa tidak wajib dilakukan secara berurutan. Namun dapat dilakukan dengan leluasa, kapan saja dikehendaki. Boleh secara berurutan, boleh juga secara terpisah.

Bagaimana Jika Qadha’ Tertunda Sampai Ramadhan Berikutnya?

Waktu dan kesempatan untuk melaksanakan qadha’ puasa Ramadhan adalah lebih dari cukup yakni, sampai bulan Ramadhan berikutnya. Namun demikian, tidak mustahil jika ada orang-orang –dengan alasan tertentu– belum juga melaksanakan qadha’ puasa Ramadhan, sampai tiba bulan Ramadhan berikutnya.

Kejadian seperti ini, dapat disebabkan oleh berbagai hal, baik yang positif maupun negatif seperti; selalu ada halangan, sering sakit misalnya, bersikap apatis, bersikap gegabah, sengaja mengabaikannya dan lain sebagainya. Sehingga pelaksanaan qadha’ puasanya ditangguhkan atau tertunda sampai tiba Ramadhan benkutnya.

Penangguhan atau penundaan pelaksanaan qadha’ puasa Ra­madhan sampai tiba Ramadhan berikutnya –tanpa halangan yang sah–, maka hukumnya haram dan berdosa. Sedangkan jika penangguhan tersebut diakibatkan lantaran udzur yang selalu menghalanginya, maka tidaklah berdosa.

Adapun mengenai kewajiban fidyah’ yang dikaitkan dengan adanya penangguhan qadha’ puasa Ramadhan tersebut, di antara para Fuqaha ada dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa; penangguhan qadha’ puasa Ramadhan sampai tiba bulan Ramadhan berikutnya, tidak menjadi sebab diwajibkannya fidyah. Baik penangguhannya tersebut karena ada udzur atau tidak.

Pendapat kedua menyatakan bahwa; penangguhan qadha’ puasa Ramadhan sampai tiba bulan Ramadhan berikutnya ada tafshil (rincian) hukumnya. Yakni jika penangguhan tersebut karena udzur, maka tidak menjadi sebab diwajibkannya fidyah. Sedangkan jika penangguhan tersebut tanpa udzur, maka menjadi sebab diwajibkannya fidyah.

Sejauh pengamatan kami, kewajiban fidyah akibat penangguhan qadha ‘puasa Ramadhan sampai tiba bulan Ramadhan berikutnya, tidaklah didasarkan pada nash yang sah untuk dijadikan hujjah. Oleh sebab itu, pendapat tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Yang dengan demikian, secara mutlak tidak ada kewajiban fidyah, walaupun penangguhan tersebut tanpa udzur.

Bagaimana Jika Meninggal Dunia sebelum Qadha?

Memenuhi kewajiban membayar hutang adalah sesuatu yang mutlak. Baik yang berhubungan dengan manusia, apalagi berhubungan dengan Allah SWT. Sehingga orang yang meninggal dunia sebelum memenuhi kewajiban qadha’ puasa Ramadhan, sama artinya dengan mempunyai tunggakan hutang kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, pihak keluarga wajib memenuhinya.

Adapun dalam praktik pelaksanaan qadha’ puasa Ramadhan tersebut, ada dua pendapat yakni; Pendapat pertama, menyatakan bahwa; pelaksanaan qadha’ puasa Ramadhan orang yang meninggal dunia tersebut gapat diganti dengan fidyah, yaitu memberi makan sebesar 0,6 kg bahan makanan pokok kepada seorang miskin untuk tiap-tiap hari puasa yang telah ditinggalkannya.

Sabda Rasulullah SAW:

مَن مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيُامْ أُطْعِمَ عَنْهُ مَكَانَ يَوْمٍ مِسْكِيْنٌ

Siapa saja meninggal dunia dan mempunyai kewajiban puasa, maka dapat digantikan dengan memberi makan kepada seorang miskin pada tiap hari yang ditinggalkannya.” (HR Tirmidzi, dari Ibnu ‘Umar)

Hadits tersebut di atas, yang mendukung pendapat pertama ini. Namun oleh perawinya sendiri yakni, Imam Tirmidzi telah dinyatakan sebagai hadits gharib. Bahkan oleh sebagian ahli hadits dinyatakan sebagai hadits mauquf, atau ditangguhkan alias tidak dipakai. Sehingga hadits ini tidak dapat dijadikan hujjah.

Namun demikian, para Fuqaha yang menyatakan pendapat ini menguatkannya dengan berbagai peristiwa seperti; bahwa masyarakat Madinah melaksanakan hal yang seperti ini, yakni memberi makan kepada seorang miskin untuk tiap-tiap hari yang telah ditinggalkan puasanya oleh orang yang meninggal dunia.

Pendapat kedua, menyatakan bahwa; jika orang yang memiliki kewajiban qadha’ puasa meninggal dunia, maka pihak keluarganya wajib melaksanakan qadha’ puasa tersebut, sebagai gantinya. Dan tidak boleh dengan fidyah. Sedangkan dalam prakteknya, pelaksanaan qadha’ puasa tersebut, boleh dilakukan oleh orang lain, dengan seijin atau atas perintah keluarganya.

Sabda Rasulullah SAW:

مَنْ مَاتَ وَ عَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

Siapa saja meninggal dunia dan mempunyai kewajiban qadha puasa, maka walinya (keluarganya) berpuasa menggantikannya.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah)

Pendapat kedua ini, kami kira lebih kuat lantaran hadits yang mendasarinya shahih. Sementara pendapat pertama dinilai lemah karena hadits yang mendasarinya marfu’gharib atau mauquf seperti dijelaskan di atas. Sedangkan peristiwa yang menguatkannya yakni, apa yang dilakukan oleh masyarakat Madinah ketika itu, sama sekali tak dapat dijadikan hujjah, lantaran bukan suatu hadits.

Bagaimana Jika Jumlah Hari yang Ditinggalkan Tidak Diketahui?

Melaksanakan qadha’ puasa sebanyak hari yang telah ditinggalkan merupakan suatu kewajiban. Baik qadha’ puasa untuk di­rinya sendiri, maupun untuk anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Namun dalam hal ini, tidak mustahil terjadi bahwa jumlah hari yang harus qadha’ puasa itu tidak diketahui lagi, misalnya lantaran sudah terlalu lama, atau memang,sulit diketahui jumlah harinya. .

Dalam keadaan seperti ini, alangkah bijak jika kita tentukan saja jumlah hari yang paling maksimum. Lantaran kelebihan hari qadha’ puasa adalah lebih baik ketimbang kurang. Dimana kelebihan hari qadha’ tersebut akan menjadi ibadah sunnat yang tentunya memiliki nilai tersendiri.

KH Arwani Faishal
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Mas’ail PBNU

Shalawat Jauharul Kamal

Antara Pegawai, Business Owner,  Investor dan Guru

PEGAWAI

Employed adalah pegawai yang bekerja pada orang lain. dia punya majikan atau atasan. Jenis pekerjaan, waktu kerja, libur bahkan pakaian/seragam pun diatur oleh orang lain. Dia harus bekerja,  tidak bekerja tidak dapet duit.

Self-Employed adalah orang yang bekerja pada dirinya sendiri. Jenis pekerjaan, waktu/tempat kerja dan libur mereka sendiri yang mengatur. Mereka tudak punya majikan/atasan tapi tetap harus bekerja, tidak bekerja tidak dapet duit.

BUSINESS OWNER adalah pemilik usaha yang mempekerjakan orang lain. Pegawai atau karyawan bekerja padanya.

IINVESTOR adalah para pemilik modal. Dia tidak bekerja dan tidak mempekerjakan orang lain, tapi uang yang bekerja padanya.

GURU tidak mencari uang, tapi uanglah yang mencari guru. Para guru menjalani profesinya karena panggilan jiwa. Mereka menjalani

 

 

 

 

 

Shalawat Jauharatul Kamal Fi Madh Khair al-Rijal
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَاقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِ الْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِيّ، وَنُوْرِ اْلأَكْوَانِ الْمُتَكَوِّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ الْحَقِّ اْلرَّبَّانِيّ، اَلْبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوْنِ اْلأَرْبَاحِ الْمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِي، وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الْحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ الْمَكَانِي، اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ الْحَقِّ الَّتِى تَتَجَلَّى مِنْهَا عُرُوْشُ الْحَقَائِقِ عَيْنِ الْمَعَارْفِ اْلأَقْـوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلأَسْقَمِ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى طَلْعَةِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ الْمُطَلْسَمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ صَلاَةً تُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ .

Artinya:“Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad. Ia adalah haqiqat rahmat sifat-sifat Tuhan, ia bagaikan mutiara yang yang mengetahui semua nama-nama (asma) dan sifat-sifat Allah, ia yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, ia yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, ia yang membawa (mempunyai) agama Allah, ia adalah al-Haqiqat al-Muhammadiyyah (Hakikat Muhammad) yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalir dan berlimpah rahmat Tuhan kepada setiap orang yang menghadap-Nya. seperti halnya para nabi dan para wali, ia yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat. Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad yang menjadi ‘ain al-Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran)., telah tampak dari padanya seluruh Hakikat keadilan yang seperti ‘arsy sebagi sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu Engkau yang terdahulu, jalan Engkau yang sempurna dan lurus. Ya Allah! limpahkanlah rahmat dan keselamtan-Mu kepada Nabi Muhammad yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajalli, ia yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, ia tempat datangnya kasih-Mu, ia yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui haqiqat.”

Shalawat Jauharatul Kamal adalah salah satu shalawat yang menjadi Wazhifah (tugas rutin) dalam Thariqah Tijaniyyah selain shalawat al-Fatih yang dibaca secara berjamaah ataupun dalam keadaan sendiri. Redaksi shalawat Jauharatul Kamal diajarkan langsung oleh Sayyidul Wujud Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Sayyidi Syaikh al-Imam Ahmad Ibn Muhammad At-Tijany (1150-1230 H, 1737-1815 M) dalam keadaan sadar/jaga (bukan mimpi). Sebagaimana dijelaskan oleh Sayyidi Syaikh al-Imam Muhammad al-Arabiy al-Tijaniy:

جَوْهَرَةُ الْكَمَالِ مِنْ إِمْــلاَءِ

اِمَـامِ اْلاِرْسَـالِ وَاْلأَنْبِيَاءِ

عَلَى حَبِيْبِهِ الْوَلِـيِّ الْعَالِـمِ

قُطْبِ الْوَرَى أَحْمَـدَ نَجْلِ سَالِـمِ

Artinya:”Shalawat Jauharatul Kamal berasal dari ucapan Nabi Muhammad yang merupakan pemimpin para Rasul dan Nabi. Yang disampaikan kepada kekasihnya seorang wali yang A’lim, manusia terkemuka yaitu Syaikh al-Imam Ahmad al-Tijaniy merupakan keturunan syaikh Ibn Salim.”[1]

Syaikh Muhammad Fathan Ibn Abdul wahid al-Susiy al-Nazhifiy berkata:

وَمَنْ تَوَهَّمَ أَنَّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنْقَطَـعُ جَمِيْعُ مَدَدِهِ عَلَى أُمَّتِهِ بِمَوْتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَسَائِرِ اْلأَمْوَاتِ ، فَقَدْ جَهِلَ رُتْبَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسَاءَ اْلأَدَبَ مَعَهُ وَيُخْشَى عَلَيْهِ أَنْ يَمُوْتَ كَافِراً ، إِنْ لَمْ يَتُبْ مِنْ هَذَا اْلاِعْتِقَادِ .

Artinya:” Siapa saja yang meragukan Rasulullah dengan mengatakan bahwa bantuan Rasulullah telah terputus kepada ummatnya dengan sebab wafatnya beliau sama seperti halnya mayyit yang lain, maka sungguh ia tidak mengenal sama sekali akan kedudukan Rasulullah dan ia telah melakukan adab yang buruk kepada Rasulullah, dikhawatirkan ia mati dalam keadaan kafir jika ia tidak bertaubat dari keyakinan seperti itu.”[2]

Redaksi Shalawat Jauharatul Kamal, tampaknya lebih menjelaskan atau menafsirkan kalimat yang terdapat dalam shalawat al-Fatih yakni pada kalimat ( اَلْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ ) Misalnya, shalawat tersebut mengungkapkan sifat-sifat Nabi Muhammad, sebagai Hakikat rahmat dari sifat-sifat Tuhan, yang merupakan pusat pengetahuan. Kemudian dikatakan bahwa Nabi Muhammad, sebagai al-Haqiqat al-Muhammadiyyah yang memiliki sifat yang dipuji, yang mengalir dan menyinari keseluruh alam. Selanjutnya dikatakan bahwa Nabi Muhammad, sebagai wujud yang paling sempurna.

Makna al-Fatih li ma Ughliqa pada intinya adalah :

1) Nabi Muhammad adalah sebagai pembuka belenggu ketertutupan segala yang maujud (ada) di alam.

2) Nabi muhammad sebagai pembuka keterbelengguan al-Rahmah al-Ilahiyyah (kasih saying Tuhan) bagi para makhluk di alam.

3) Hadirnya Nabi Muhammad menjadi pembuka hati yang terbelenggu oleh Syirik.

Sedangkan makna al-Khatimi li ma Sabaq pada intinya adalah :

1) Nabi Muhammad sebagai penutup kenabian dan kerasulan.

2) Nabi Muhammad menjadi kunci kenabian dan kerasulan.

3) tidak ada harapan kenabian dan kerasulan lagi bagi yang lainnya.

Pemikiran-pemikiran (faham) tasawuf Syaikh Ahmad al-Tijani terkandung dalam penafsirannya tentang makna al-Fatih Lima Ughliq dan al-Khatim Lima Sabaq. Syaikh Ahmad al-Tijani mengatakan bahwa al-Fatih li ma Ughliq mempunyai makna bahwa Nabi Muhammad merupakan pembuka segala ketertutupan al-Maujud (yang ada di alam). Alam pada mulanya terkunci (mughallaq) oleh ketertutupan batin (hujubaniyat al-Buthun). Wujud Nabi Muhammad menjadi “sebab” atas terbukanya seluruh belenggu ketertutupan alam dan menjadi “sebab” atas terwujudnya alam dari “tiada” menjadi “ada”. Karena wujud Nabi Muhammad alam keluar dari “tiada” menjadi “ada”, dari ketertutupan sifat-sifat batin menuju terbukanya eksistensi diri alam (nafs al-Akwan) di alam nyata (lahir). Jika tanpa wujud Nabi Muhammad, Allah tidak akan menciptakan segala sesuatu yang wujud, tidak mengeluarkan alam ini dari “tiada” menjadi “ada”.

Imam Muhammad Ibn Said al-Bushiriy mengatakan dalam al-Burdah:

وَكَيْفَ تَدْعُوْ إِلَى الدُّنْيَا ضَرُوْرَةُ مَنْ

لَوْلاَهُ لَمْ تَخْرُجِ الدُّنْيَا مِنَ الْعَـدَمِ

Artinya:” Bagaimana mungkin kesusahan beliau dapat menyeru kepada dunia, padahal kalau bukan karena beliau dunia ini tidak tercipta.”

Ungkapan sifat-sifat Nabi Muhammad di atas, menunjukan bahwa Syaikh Ahmad al-Tijaniy merumuskan maqam Nabi Muhammad sebagaimana telah dikemukakan para sufi terdahulu, terutama dalam mensifati pemahaman mereka terhadap haqiqat (Hakikat) Nabi Muhammad, tidak dapat dibantah bahwa ia sependapat, bahkan ia menjelaskan konsep dasar tersebut.

Hal ini, menunjukan bahwa dari aspek pemikiran, Syaikh Ahmad al-Tijaniy menganut tasawuf falsafi sedangkan konsep-konsep dasar tasawufnya: Nur Muhammad, Ruh Muhammad, al-Haqiqat al-Muhammadiyyah. Dengan demikian, bahwa corak (paham) tasawuf yang digunakan oleh Syaikh Ahmad al-Tijaniy adalah corak (paham) tasawuf yang dikembangkan oleh Imam ‘Abdul Karim al-Jiliy dengan konsep dasar al-Insan al-Kamil, yang berasal dari Imam Ibn Arabiy dengan konsep Haqiqat al-Muhammadiyah. Terlepas apakah Syekh Ahmad al-Tijani terpengaruh oleh pemikiran filosofis Abd. Karim al-Jili yang berasal dari Ibn. ‘Arabi atau tidak, corak pemikiran tasawuf demikian dikembangkan oleh dua sufi tersebut. Pemikiran Syaikh Ahmad al-Tijaniy “mengawinkan”, menyatukan kembali dua corak {faham} tasawuf yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang telah “bercerai” sejak abad ketiga Hijriyah sehingga masing-masing mempunyai metodologi tersendiri.

Inilah yang dimaksud bahwa Thariqat Tijani merupakan thariqat yang terakhir dan seluruh thariqat akan masuk kedalam lingkup ajarannya, dalam arti seluruh amalan sufi {wali} dan seluruh corak pemikiran para sufi terakomodir dalan ajaran thariqat yang dikembangkannya, hal ini bisa dimengerti karena cahaya maqam wali khatm merupakan sumber seluruh cahaya kewalian. Sebagai perbandingan seluruh syari’at para nabi terakomodir kedalam syari’at Nabi Muhammad, karena syari’at para nabi bersumber dari cahaya Khatm an-Nabiyyin (penutup para nabi).[6]

Keutamaan Shalawat Jauharatul Kamal

Diantara keutamaan membaca shalawat Jauharatul Kamal yang disebutkan langsung oleh Rasulullah kepada Imam Ahmad Ibn Muhammad al-Tijaniy sebagai berikut :

أَنَّ الْمَرَّةَ الْوَاحِدَةَ تَعْدِلُ تَسْبِيْحَ الْعَالَمِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ

Artinya:” Membaca shalawat Jauharatul Kamal sekali, pahalanya menyamai tiga kali lipat tasbihnya alam.”

أَنَّ مَنْ قَرَأَهَا سَبْعَ مَرَّاتٍ فَأَكْثَرَ يَحْضُرَهُ رُوْحُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْخُلَفَاءِ اْلأَرْبَعَةِ مَا دَامَ يَذْكُرُهَا

Artinya:” Siapa yang membacanya 7 kali atau lebih, maka akan didatangi Ruh Nabi Muhammad dan 4 khulafaur Rasyidin selama ia dalam keadaan membaca shalawat itu.”

أَنَّ مَنْ لاَزَمَهَا أَزْيَدَ مِنْ سَبْعِ مَرَّاتٍ يُحِبُّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَحَبَّةً خَاصَّةً وَلاَ يَمُوْتُ حَتَّى يَكُوْنَ مِنَ اْلأَوْلِيَاءِ

Artinya:” Siapa saja yang melazimi membacanya lebih dari 7 kali, maka ia akan sangat dicintai oleh Rasulullah sebenar-benar cinta khusus dan ia tidak akan meninggal dunia sehingga menjadi salah satu dari para kekasih Allah.”[3]

Adapun keutamaan shalawat Jauharatul Kamal yang disebutkan oleh Imam Ahmad Ibn Muhammad al-Tijaniy adalah:

مَنْ دَاوَمَ عَلَيْهَا سَبْعًا عِنْدَ النَّوْمِ عَلَى طَهَارَةٍ كَامِلَةٍ وَفِرَاشٍ طَاهِرٍ يَرَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya:” Siapa saja yang konsisten membacanya 7 kali menjelang tidurnya dalam keadaan bersuci yang sempurna dan di tempat tidur yang suci (tidak ada najis), maka ia akan melihat Nabi Muhammad.”[4]

قَالَ الشَّيْخُ أَحْمَدُ التِّجَانِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَعْطَانِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةً تُسَمَّى بِجَوْهَرَةِ الْكَمَالِ مَنْ ذَكَرَهَا اثْنَتَيْ عَشْرَةَ مَرَّةً وَقَالَ : هَذِهِ هَدِيَّةٌ مِنِّي اِلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ , فَكَأَنَّمَا زَارَهُ فِي رَوْضَتِهِ الشَّرِيْفَةِ, وَكَأَنَّمَا زَارَ أَوْلِيَاءَ اللهِ تَعَالَى وَالصَّالِحِيْنَ مِنْ أَوَّلِ الْوُجُوْدِ اِلَى وَقْتِهِ وَفِي رِوَايَةٍ اِلَى اْلأَبَـدِ

Artinya:” Syaikh Ahmad al-Tijaniy berkata: Rasulullah memberikan kepadaku redaksi shalawat yang dinamai Jauharatul kamal, siapa saja yang telah membacanya sebanyak 12 kali dan berkata: Shalawat ini aku hadiahkan kepada engkau Ya rasulullah. Maka seakan-akan ia menziarahi Rasulullah di Raudhahnya yang mulia dan seolah-olah ia telah menziarahi para wali Allah besera menziarahi orang-orang shalih dari sejak zaman Nabi Adam sampai waktu ia membacanya bahkan riwayat lain menyebutkan sampai dunia musnah.”

Syaikh Muhammad Fathan Ibn Abdul wahid al-Susiy al-Nazhifiy mengumpulkan keutamaan shalawat Jauharatul kamal dalam Nazham al-Durratul Kharidah:

بِسَابِعَةٍ مِنْهَا حُضُوْرُ نَبِيِّنَا

مَعَ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَقُدْوَتِي

Dengan membaca 7 kali Jauharatul kamal, akan hadir Nabi Muhammad beserta para Khulafaur Rasyidin dan Syekh Ahmad al-Tijaniy.

وَلَوْ دُمْتَ ذِكْرَهَا دُهُوْرًا طَوِيْلَةً

لَمَا فَارَقُوْكَ بِالذَّوَاتِ الْكَرِيْمَةِ

Seandainya engkau konsisten membacanya sampai masa yang lama, maka mereka semua tidak akan meninggalkan engkau dengan zat mereka yang mulia.

وَتَغْيِيْرُ جِلْسَةٍ بِهَا لِلتَّأَدُّبِ

جَرَى عَمَلٌ بِهِ لَدَا جُلِّ اِخْوَتِي

Mengubah posisi duduk kepada duduk yang lebih bagus lantaran menjalankan adab (atas kehadiran Nabi beserta para khalifah dan syaikh Ahmad al-Tijaniy). Adab seperti itu menjadi kebiasaan di sisi pembesar saudaraku (pengikut Tijaniyyah).

وَمَنْ دَامَ عِنْدَ النَّوْمِ سَبْعًا يَرَى النَّبِيّ

بِشَرْطِ الْوُضُوْءِ مَعْ طَهَارَةِ بُقْعَةِ

Siapa saja yang selalu membacanya ketika hendak tidur sebanyak 7 kali, maka ia akan melihat Nabi Muhammad, dengan syarat ia memiliki wudhu dan tempat tidurnya suci (tidak ada najis).

وَتَالٍ لَهَا اثْنَتَيْنِ مَعْ عَشْرَةٍ كَأَنَّ

مَا زَارَ أَحْمَدَ النَّبِيَّ بِرَوْضَةِ

Yang membacanya sebanyak 12 kali seakan-akan ia telah menziarahi Nabi Muhammad di Raudhah.

وَكُلِّ نَبِيٍّ مَعْ وَلِيٍّ مِنْ أَدَمَا

اِلَى وَقْتِ ذِكْرِهَا بِإِذْنِ الْوَسِيْلَةِ

Seolah-olah ia juga telah menziarahi seluruh Nabi dan para wali dari sejak zaman Nabi Adam sampai ketika ia membaca shalawat tersebut dengan catatan bahwa ia telah mendapat izin dari Syaikh Ahmad al-Tijaniy dan pengikutnya.

وَبَعْدَ الْفَرَاغِ قُلْ بِقَلْبِ مَذَلَّةٍ

اِلَيْكَ رَسُوْلَ اللهِ هَذِى هَدِيَّتِي

Setelah selesai membaca jauharatul kamal maka katakanlah olehmu dengan hati yang penuh ketundukan dan khusyu’: “Aku hadiahkan shalawat ini kepada engkau Ya Rasulullah.

وَخَمْسًا وَسِتِّيْنَ اتْلُهَا عِنْدَ شِدَّةِ

وَلِلْخَيْرِ مَرَّةً بُعَيْدَ الْفَرِيْضَةِ

Bacalah jauharatul kamal sebanyak 65 kali ketika terjadi kesulitan dan kepelikan dan bacalah satu kali setiap selesai mengerjakan shalat fardhu untuk mendapatkan segala kebaikan.[5]

Keutamaan-keutamaan Shalawat Jauharatul Kamal yang disebutkan di atas hanya akan diperoleh bagi orang yang telah melakukan baiat Thariqah Tijaniyah dan istiqamah mengamalkannya.

<<< Perhatian>>
persyaratan membaca shalawat ini:
1. wajib bersuci atau berwudhu dengan sempurna .. jika bertayammum tidak mencukupi syarat dan tidak diperkenankan membaca shalawat ini
2. wajib suci tempat, pakean, badan dari najis dan hadas
3. wajib dibaca pada tempat yg agak luas sekira muat 6 orang
4. jangan dibaca saat di kendaraan baik darat, laut maupun udara.
5. orang yg beristinja (cebok) pake tisu atau sejenisnya yang bukan menggunakan air maka ia tidak diperbolehkan membaca shalawat ini walaupun ia ketika berwudhu pakai air. lantaran bersuci yang ia lakukan tidak tahaqquq (sempurna) kata orang betawi kaga danta.
6. Shalawat Jauharatul Kamal ini saya tidak ijazahkan secara umum, lantaran shalawat ini bagian Asrar dari Thariqah Tijaniyah dan hanya Khusush buat pengamal Thariqah Tijaniyah

Tarikan Tijaniyah

Tata Cara Thoriqoh Tijaniyah
Thariqah Tijaniyah di dalam mendidik mengarahkan dan membina para muridnya yang dalam istilah mereka disebut Ikhwan Thariqah Tijaniyyah atau Ikhwan Tijani mempunyai syarat- syarat dan aturan- aturan sebagai berikut;

1.Syarat Masuk

Untuk memasuki atau mengambil wirid dzikir dari Thariqah Tijaniyah, seorang harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut;

Calon Ikhwan Tijaniy tidak mempunyai wirid Thariqah.
Mendapatkan talqin wirid Thariqah Tijaniyah dari orang yang mendapat izin yang sah untuk memberi wirid Thariqah Tijaniyah.
Keterangan

Apabila calon Ikhwan Tijaniy telah masuk thariqah lainnya, maka harus dilepaskan. Karena Thariqah Tijaniyah tidak boleh dirangkap dengan thariqah lainnya.
Wirid dari selain Syaikh Ahmad At-Tijaniy yang tidak termasuk ikatan thariqah, seperti hizib-hizib, shalawat dan sebagainya, boleh diwiridkan oleh Ikhwan Tijaniy selama tidak mengurangi kemantapannya terhadap Thariqah Tijaniyah
2. Kewajiban Ikhwan Tijaniy

Setelah seorang tercatat sebagai Ikhwan tijaniy, maka dia mempunyai kewajiban-kewajiban sebagai berikut:

Harus menjaga syari’at.
Harus menjaga shalat lima waktu berjama’ah bila mungkin.
Harus mencintai Syaikh Ahmad At-Tijani selama-lamanya.
Harus menghormati siapa saja yang ada hubungannya dengan Syaikh Ahmad At-Tijani.
Harus menghormati semua Wali Allah dan semua thariqah.
Harus mantap pada thariqahnya dan tidak boleh ragu-ragu.
Selamat dari mencela Thariqah Tijaniyah.
Harus berbuat baik kepada kedua orang tua.
Harus menjauhi orang yang mencela Thariqah Tijaniyah.
Harus mengamalkan Thariqah Tijaniyah sampai akhir hayatnya.
3.Larangan atas Ikhwan Tijani

Adapun hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang ikhwan tijani adalah sebagai berikut;

1.Tidak boleh mencaci, membenci dan memusuhi Syaikh Ahmad At-Tijaniy.

2.Tidak boleh ziarah kepada wali yang bukan Tijani, khusus mengenai robithah saja.

3.Tidah boleh memberi wirid Thariqah Tijaniyah tanpa ada izin yang sah.

4.Tidak boleh meremehkan wirid Thariqah Tijaniyah.

5.Tidak boleh memutuskan hubungan dengan makhluk tanpa izin syara’,terutama dengan ikhwan Tijani.

6.Tidak boleh merasa aman dari makrillah.

Keterangan

– Ziarah kepada wali yang bukan Tijani yang tidak boleh adalah ziarah karena istimdad, tawassul,dan do’a. Sedangkan ziarah untuk silaturrahim, untuk mengaji/menuntut ilmu atau ziarah semata-mata karena Allah Swt, maka boleh.Bagi Ikhwan Tijani yang belum tahu ziarah yang boleh dan yang tidak boleh, hendaknya jangan melaksanakan ziarah, karena bisa membatalkan keterikatannya dengan Thariqah Tijaniyah.

– Yang dimaksud meremehkan wirid ialah musim-musiman dalam melaksanakan wirid Thariqah Tijaniyah, mengundurkan waktunya tanpa udzur dan melakukan wirid dengan bersandar tanpa adanya udzur

– Makrillah adalah siksa /azab Allah yang tampaknya seperti rahmat-Nya.

4.Aturan Melaksanakan Dzikir

Seorang Ikhwan Tijani yang akan melaksanakan wirid atau dzikir Thariqah Tijaniyah, hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut;

a.Dalam keadaan normal, suara bacaan dzikir harus terdengar oleh dirinya sendiri.

b.Harus suci dari najis,baik badan, pakaian,tempat dan apa saja yang dibawanya.

c.Harus suci dari hadats, baik besar maupun kecil.

d.Harus menutup aurat seperti shalat, baik pria maupun wanita.

e.Tidak boleh berbicara.

f.Harus menghadap kiblat.

g.Harus dengan duduk.

h.Harus ijtima’ dalam melaksanakan dzikir wadhifah dan dzikir hailalah sesudah ‘Ashar pada hari jum’at apabila di daerahnya ada ikhwan Tijani lain.

i.Istihdlorul-Qudwah, yaitu saat melakukan wirid dari awal hingga akhir membayangkan seakan-akan berada di hadapan Syaikh Ahmad At-Tijani dan lebih utama membayangkan Sayyidil Wujud Muhammad Saw, dengan keyakinan bahwa beliaulah yang mengantarkan wushul kepada Allah Swt.

j. Mengingat dan memikirkan makna wirid dari awal sampai akhir. Kalau tidak bisa, hendaknya memperhatikan dan mendengarkan bacaan wiridnya.

Keterangan

-Kalau ada udzur boleh berbicara asal tidak lebih dari dua kata. Kalau lebih dari itu, maka wiridnya batal, kecuali disebabkan oleh orangtuanya atau suaminya sekalipun bukan ikhwan Tijani.

– Kalau ada udzur boleh tidak menghadap kiblat, seperti sedang dalam perjalanan atau sedang berada dalam ijtima’ (perkumpulan).

-Kalau ada udzur boleh tidak duduk, seperti sakit atau dalam perjalanan.

5.Penyebab keluar dari Thariqah Tijaniyah

Seorang Ikhwan Tijani dianggap keluar dari Thariqah ini jika:

a. Mengambil wirid dari thariqah lain.

b. Melanggar larangan ziarah kepada wali yang di luar Tijani.

c. Berhenti dari Thariqah Tijaniyah.

6.Aurad Thariqah Tijaniyah

Di dalam Thariqah Tijaniyah ada dua macam dzikir :yaitu 1).Dzikir Lazim (yang harus di amalkan) dan 2).Dzikir Ikhtiyari (yang lebih baik kalau di amalkan). Dan pada kesempatan ini hanya dzikir lazim saja yang akan di jelaskan secara agak terperinci. Dzikir lazim yang harus di amalkan oleh setiap ikhwan tijani terdiri dari tiga macam:

a.Wirid Lazim

Waktu Pelaksanaan

Wirid lazim di amalkan dua kali sehari semalam, yaitu yang pertama, pagi hari (setelah shubuh sampai waktu dhuha).Apabila ada udzur, maka waktunya bisa di undur sampai waktu maghrib. Lebih baik serta memperoleh keutamaan yang besar, jika diamalkan sebelum waktu shubuh dengan syarat harus selesai ketika waktu shubuh telah tiba. Kedua, sore hari (setelah ashar sampai waktu isya’). Apabila ada udzur, maka waktunya bisa diundur sampai waktu shubuh.

Bacaan Wirid Lazim

1.Hadlrah Al-Fatihah kepada Nabi Muhammad Saw dan Sayyidisy Syaikh Abil Abbas Ahmad bin Muhammad At-Tijaniy.

2.Membaca istighfar 100 kali.

3.Membaca Shalawat Nabi 100 kali, berupa shalawat fatih sebagai berikut:

اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما اغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهدى الى صراطك المستقيم وعلى اله حق قدره ومقداره العظيم

Atau Shalawat biasa ;

صل على سيدنا محمدلا اله الا الله محمد رسول الله عليه سلام الله Atau اللهم صل على سيدنا محمد

4.Membaca tahlil /hailalah 100 kali, yang terakhir kalinya dipanjangkan lalu disambung dengan:

لا اله الا الله محمد رسول الله عليه سلام الله

b.Wirid Wadhifah

Waktu Pelaksanaan

Wirid wadhifah dilaksanakan dua kali dalam sehari semalam, yaitu siang hari dan malam hari. Kalau tidak bisa dua kali, maka cukup sekali saja yaitu siang hari saja atau malam hari saja. Apabila dalam sehari semalam tidak melaksanakan sama sekali maka wajib mengqodlo’. Demikian pula jika wirid lazim sudah habis tapi belum mengerjakannya,maka harus diqodlo’ juga.

Bacaan Wirid Wadhifah

1.Hadlrah Al-Fatihah sama dengan wirid lazim.

2. Membaca shalawat fattih sekali

3. Membaca isighfar 30 kali sebagai berikut:

استغفر الله العظيم الذى لا اله الا هو الحي القيوم

4. Membaca Shalawat fatih 50 kali.

5. Membacatahlil atau hailalah 100 kali yang ditutup seperti pada wirid lazim.

6. Membaca Shalawat Jauharaul Kamal 12 kali sebagai berrikut:

 

الفُـهُومِ والمَعَـانِي،
وَنُـورِ الأَكْـوَانِ المُتَـكَوِّنَـةِ الآدَمِـي صَـاحِبِ الحَـقِّ الـرَّبَّانِي، البَرْقِ الأَسْطَعِ بِمُزُونِ الأَرْبَاحِ المَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ البُحُورِ وَالأَوَانِي، وَنُـورِكَ اللاَّمِعِ الـذِي مَـلأْتَ بِهِ كَوْنَكَ الحَـائِطِ بِأَمْكِنَةِ المَـكَانِي،
اللَّهُـمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الحَقِّ التِي تَتَجَلَّى مِنْهَا عُرُوشُ الحَقَـائِقِ عَيْــنِ المَـعَارِفِ الأَقْـوَمِ صِـرَاطِـكَ التَّـــامِّ الأَسْـقَــمِ، اللَّهُـمَّ صَـلِّ وَسَلِّـمْ عَلَى طَلْعَةِ الحَـقِّ بَالحَـقِّ الكَـنْزِ الأَعْـظَمِ إِفَـاضَتِـكَ مِنْـكَ إِلَيْــكَ إِحَـاطَـةِ النُّـورِ المُطَــلْسَــمِ صَلَّـى اللهُ عَلَيْـهِ وَعَـلَى آلِـهِ، صَـلاَةً تُعَرِّفُنَـا بِـهَا إِيَّـــاهُ

7. Membaca do’a semampunya.

سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.

8.Diakhiri dengan membaca Al-Fatihah sekali dan shalawat fatih sekali.

c.Wirid Hailalah

Waktu Pelaksanaan

Wirid hailalah dilakukan setelah shalat ‘Ashar hari jum’at sampai waktu maghrib. Apabila ada udzur dan tidak bisa melaksanakannya sampai waktunya habis, tidak usah di qodlo’.

Bacaan Wirid Hailalah

Yang dibaca pada saat melaksanakan wirrid hailalah adalah “Laa ilaaha illallah” atau “Allah” tanpa hitungan, mulai setelah melaksanakan shalat ‘Ashar sampai maghrib. Kalau sendirian, membaca sebanyak 1600 kali,atau 1500 kali, aau 1200 kali atau 1000 kali . Dan di akhiri dengan bacaan:

لا اله الا الله سيدنا محمد رسول الله عليه سلام الله عليه وسلم.

Dengan suara keras danmemanjangkan bacaan “Laa ilaaha illallah”,lalu membaca:

سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين.

7.Syarat Membaca Jauharatul Kamal

Dalam melaksanakan pembacaan wirid Shalawat Jauharatul Kamal ada syarat-syarat yang harus di penuhi, yaitu sebagai berikut;

a.Harus dalam keadaan suci dari:

1).Najis, baik pada badan, pakaian, tempat, dan apa saja yang dibawanya.

2).Hadats, baik hadats kecil atau besar dan bersucinya harus dengan air. Jadi tidak boleh dengan tayamum.

b.Harus menghadap qiblat.

c.Harus duduk dan tidak boleh berjalan.

d.Tempatnya harus luas dan cukup dengan tujuh orang.

Happy and Feeling Good

Adalah lumrah untuk berbicara dengan teman-teman dan keluarga ketika Anda sedang berbahagia. Setiap saat, Anda ingin mengungkapkan mengapa Anda bahagia dan ingin berbagi kebahagiaan dengan orang-orang dekat Anda. Dalam pelajaran ini, mari kita perhatikan berbagai cara bagaimana Anda dapat mengekspresikan diri ketika Anda bahagia.Berikut adalah beberapa contoh.

“I’m very happy right now.” = Saya sangat bahagia sekarang
“I’m happy.”= Saya bahagia.
“I haven’t been this happy in a long time.”= Saya belum pernah bahagiaseperti ini dalam waktu yang lama. Continue reading →

Draft

Betapapun diterangkan apa yang dimaksud dengan Islam Nusantara kelompok ekstrimis radikal tidak akan pernah mau mengerti. Bukan tujuan mereka untuk mengerti tetapi mereka lebih berupaya bagaimana Islam Nusantara dapat dijadikan sebagai FITNAH untuk menyerang NU. Itulah sebabnya mereka membuat pemahaman sendiri tentang Islam Nusantara, menyesatkannya sendiri lalu menyebarkannya sebagsi FITNAH yang sangat keji ketengah-tengah madyarakat.

1. Kelompok ekstrimis radikal memaksakan kehendak pengertian Islam Nusantara menurut versi mereka sendiri. Gg Bagi mereka Islam Nusantara harus dipahami sebagai agama baru yang kitab sucinya bukan Al-Qur’an, nabinya bukan nabi Muhammad, anti Arab, sholatnya pake bahasa Nusantara, hajinya bukan di Mekkah, kalau mati dikafani dengan kain batik dan pengikut kaum nabi Luth. Bagi mereka Islam Nusantara harus dipahami seperti itu, tidak ada yang lain.

2. Setelah mereka membuat pemahaman Islam Nusantara menurut versi mereka sendiri seperti di atas, dan karena seperti itu maka Islam Nusantara adalah aliran sesat yang harus segera dihabisi.

3. Dan yang paling mengerikan adalah setelah pemahaman Islam Nusantara mereka buat sendiri,  sesatkan sendiri lalu mereka jadikan sebagai FITNAH SANGAT KEJI yang kemudian  dengan berbagai cara mereka sebarkan ke tengah masyarakat awam untuk membenci dan memusuhi NU.

 إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ، كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ،الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌمِنَ الْعَمَلِ

“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang fuqahanya (ulama) banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang minta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal.” (HR. Ath-Thabrani).

BASYAR ADALAH KENDARAAN DAN INSAN ADALAH SUPIRNYA

 

Tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah dan tujuan hidupnya adalah sebagai khalifah yang diberi mandat untuk memakmurkan kehidupan di muka bumi. Manusia dipilih sebagai khalifah karena kapasitas intelektual dan spiritualnya yang melebihi makhluk lain. Dengan mengaktualisasikan potensi intelektual dan spiritualnya manusia dapat menunaikan tugas hidupnnya melalui aktivitas raganya sebagai perwujudan dari pengabdiannya kepada Allah.

 

Dengan demikian, terdapat hubungan fungsional antar insan dan basyar. Sebagai insan manusia telah diberi kemampuan untuk menyusun konsep-konsep ilmu pengetahuan, dan sebagai basyar manusia berkewajiban untuk tunduk dan patuh kepada Allah dengan mengamalkan ilmunya. Insan paripurna adalah orang yang dapat menggunakan semaksimal mungkin raganya untuk menjalankan fungsi kekhalifahan dan kehambaannya dengan berilmu amaliah dan dengan beramal ilmiah.

 

Oleh karena itu, kesempurnaan diberikan kepada seseorang sesuai dengan kualitas ilmu dan amalnya. Semakin tinggi ilmunya dan semakin baik amalnya semakin tinggi dan baik pula kualitasnya sebagai manusia. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah ilmunya dan semakin buruk amalnya semakin rendah dan buruk pula kualitasnya sebagai manusia.

 

Setiap hari berarti suatu kehidupan baru. Berbahagialah bagi orang yang dapat mengisi hari-hari dalam hidupnya dengan ilmu dan amal shaleh.

=========

Apa yang kita inginkan dari anak-anak kita, BERIKANLAH.

BERILAH mereka makanan yang baik dan halal (bukan dari hasil korupsi).

Jika kita menginginkan mereka taat dalam menjalankan agama, BERILAH bantuan kelancaran kegiatan keagamaan.

Jika kita menginginkan mereka menjadi orang-orang berilmu dan mandiri secara ekonomi, BERILAH bantuan pendidikan anak-anak yatim dan dhuafa.

Dal lain-lain.

Keberhasilan dan prestasi mereka merupakan anugerah dari Allah maka lakukanlah Tahadduts binni’mah (bukan ujub/riya) setiap kali mereka mendapatkan keberhasilan sebagai ungkapan rasa syukur dan bersedekahlah sehingga orang lain pun ikut merasakan kebahagiaan ini.

Semua rahasia keberhasilan anak-anak kita bertemu pada kebiasaan kita berbagi epada orang lain didampingi tentu saja dengan usaha-lahir seperti pendidikan dan pergaulan yang baik.

RENUNGAN JUM’AT PAGI

 

Kebutaan mata hati adalah suatu kondisi ketika fitrah seseorang terkubur dan terisolasi sehingga dia lupa tujuan hidup dan kewajiban-kewajibannya, lupa akan jalan kebenaran yang harus ditempuhnya dikarenakan dirinya telah menjadi budak harta, budak pangkat dan jabatan, budak nafsu birahi dan budak nafsu-nafsu lahiriah lainnya. Kebutaan mata hati juga dapat terjadi terutama karena hati terhalangi oleh pikiran-pikiran salah seperti prasangka buruk, egois dan fanatik kelompok, sudut pandang yang keliru, eksklusifisme, kesombongan, iri-dengki, dan lain-lain. Dalam kondisi seperti ini, hati menjadi gelap, tidak mampu melihat hakikat kebenaran karena keterlenaannya pada hal-hal lahiriah dari dunia fenomenal.

 

Kebutaan mata hati ini benar-benar telah mengubah keramahan agama menjadi pembenar terhadap segala bentuk tindak kekerasan dan mengubah kelembutan manusia menjadi sosok makhluk yang lebih kejam dan lebih ganas daripada srigala. Kebutaan mata hati juga disinyalir sebagai penyebab penyalahgunaan  teknologi informasi sebagai sarana penyebaran kebencian, permusuhan, kekerasan dan tindakan destruktif lainnya. Sungguh mengherankan jika mereka yang terlibat atau menyebabkan tindakan atau kebijakan yang mendatangkan malapetaka bagi kemanusiaan bena-benar memahami agama dan pesan-pesan cinta dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

_&&&&

Ada dua jenis cinta yang bersifat fitri, yaitu CINTA ILAHIAH  dan CINTA INSANIAH. Keduanya dapat dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan antara satu dari yang lainnya.

 

Cinta ilahiah adalah cinta akan diri seseorang dalam kaitannya dengan Yang Maha Ada, Allah Swt. Dengan cinta ilahiah, manusia senantiasa berada dalam orbit kerinduannya untuk semakin dekat secara vertikal kepada Allah Swt. Adapun cinta insaniah adalah cinta akan diri seseorang dalam kaitannya dengan seluruh umat manusia. Dengan cinta insaniah , semua manusia mempunya rasa kemanusiaan yang sama yang membentuak kesatuan faktual dengan satu nurani insani bersama yang membuat manuasia merindukan kedekatan hubungan secara horizontal dengan sesamanya.

 

Kedua jenis cinta tersebut merupakan potensi dasar manusia yang dibawa sejak  di alam primordial. Tugas manusialah untuk mengaktualisasikannya.

 

Ketika cinta ilahiah teraktualisasikan, seseorang yang karena kesadarannya senantiasa mendambakan kedekatan hubungan dengan Allah Azza wa Jall, dan kedekatan hubungan dengan Allah hanya dapat dicapai apabila diserti pula dengan kesediaan untuk mendekati sesama manusia. Para pecinta Allah tidak akan pernah tinggal diam ketika melihat saudara-saudaranya berbalut duka karena kemiskinan, kebodohan, kekerasan, dan penyakitl. Meraeka, baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, terjun ke medan laga untuk membantu nasib orang lain yang hidup serba kekuaangan. Para pecinta adalah mereka yang juga pecinta sesamanya; mereka enggan melakukan tindakan yang merugikan atau mencelakakan orang lain, karena mereka sadar bila mereka tidak suka mendapat perlakuan seperti itu, orang lain pun mempunyai perasaan yang sama. Duka orang lain adalah duka mereka juga.

 

Sumber: Dari akun Instagramku @motivartist. Versi lengkapnya pernah dimuat di harian Radar Cirebon.

=========

Jika fitrah menguasai sebagian besar energi psikis seseorang, maka kepribadiannya akan mengarah kepada kesempurnaan yang selalu membangkitkan visi, kreatifitas, ketahanan mental, integritas, dan komitmen yang menjadi sumber energi dan perasaan, yang mengaktifkan nilai-nilai kemanusiaan yang paling dalam: kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, prinsip kepercayaan, pengendalian diri, dan pelayanan. Tetapi sebaliknya, jika hawa nafsu seseorang yang dominan, menguasai hati dan intelek dan membuat fitrahnya terisolasi, maka dia akan bertindak primitif, agresif, dan anti sosial; dan sejak saat itulah dia menjadi terasing dari dirinya yang berdampak langsung pada kegelisahan dan keresahan pada hatinya.

 

Keterasingan dan ketidakdamaian dengan diri sendiri pada akhirnya dapat pula membuat seseorang terasing dari lingkungannya dan susah untuk berdamai dengan orang lain. Ketika seseorang menjalani hidupnya dengan membiarkan fitrahnya terisolasi, tanpa moral dan tanpa prinsip hidup, maka dia tidak ubahnya seperti binatang liar yang berkeliaran di kota-kota dan desa-desa, bahkan kehadirannya di tengah masyarakat dapat membahayakan keamanan dan keselamatan nyawa dan harta orang lain.

 

Dinul Islam bukan sekedar sebuah aturan manual yang dijadikan sebagai paspor menuju surga, tetapi ia adalah sebuah paket sosial, intelektual, dan spiritual yang tujuannya adalah untuk membersihkan jiwa manusia agar fitrahnya teraktualisasikan dalam kehidupan; sebuah paket kehidupan yang bertujuan untuk membentuk manusia-manusia yang bekepribadian nafsul mutmainah, yaitu kepribadian yang mendatangkan ketenangan, kedamaian, keselamatan, dan keamanan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi sesama manusia.

 

 Ketika k

Hati adalah unsur ruhaniah penentu segala perbuatan manusia , apakah seseorang memilih dorongan kamajuan atau kemunduran ditentukan oleh hatinya. Yang dimaksud dengan hati di sini tentu bukanlah hati fisik, tetapi hati spiritual yang berperan sebagai penghubung antara fitrah dengan realitas yang ada di dunia luar. Ia adalah raja yang memerintah, mengatur, dan mengendalikan kepribadian. Dengan kata lain, kepribadian seseorang ditentukan oleh bagaimana hatinya; jika hatinya baik, baiklah kepribadiannya, dan jika hatinya buruk, buruk pula kepribadiannya.

Sebagai pengambil keputusan dan penentu kepribadian, hati menjadi medan pertempuran dan ajang perebutan pengaruh antara fitrah yang memperperjuangkan termanifestasikannya nilai-nilai moral yang agung dalam kehidupan dan nafsu yang memosisikan dirinya sebagai oposisi.

 

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai eksekutor perbuatan, hati dibantu oleh akal, yaitu unsur ruhaniah yang berperan sebagai penasihat dan mediator dalam mempertimbangan tingkah laku. Ia adalah kapesitas intelektual yang dengannya manusia potensial mampu membedakan antara perilaku yang secara substansial bernuansa humanistik dan perilaku binatang.

 

Fitrah, hati, akal, dan nafsu adalah struktur kepribadian yang masing-masing mempunyai sistem kerjanya sendiri, namun antara satu dengan yang lainnya haruslah terjalin keharmonisan dan keseimbangan dalam menjalankan fungsinya. Jika tidak, maka akan terjadi apa yang disebut dengan MPD (Multiple Personality Deviancy) atau kepribadian ganda yang menyimpang.

===={{{====

Sebagai individu setiap orang apapun warna kulit, suku, bahasa dan agamanya adalah sama, merupakan perpaduan antara ruh dan jasad; yang membedakan antara satu orang dengan yang lainnya adalah kepribadiannya.

 

Dengan ruhnya, manusia mempunyai fitrah, suara hati yang condong kepada kebenaran dan nilai-nilai luhur yang akan mengantarkan manusia ke derajat yang paling tinggi; dan dengan jasadnya, manusia mempunyai nafsu syahwat yang cenderung untuk senantiasa mengejar kenikmata-kenikmatan lahiriah yang jika tidak dikendalikan akan menurunkan derajat manusia ke tingkat kemundurunan yang paling rendah. Dengan demikian, manusia sepanjang hidupnya senantiasa dihadapkan pada konflik internal di dalam dirinya antara dua dorongan, yaitu dorongan kemajuan (growth motivation) yang bersumber dari fitrahnya dan dorongan kemunduran (deficiency motivation) yang bersumber dari hawa nafsunya.

 

Pilihan setiap orang untuk bereaksi terhadap segala dorongan dan rangsangan mungkin berbeda. Memilih dorongan kemajuan (progression choice) berarti melangkah menuju kepada kesempurnaan; sebaliknya, memilih dorongan kemunduran (regression choice) berarti menjauh dari kesempurnaan.

 

Masyarakat bukan hanya kumpulan individu-individu, tetapi ia adalah pribadi-pribadi yang membentuk kesatuan fungsional bersama. Dengan demikian perilaku kelompok-kelompok masyarakat merupakan perwujudan dari kepribadian tiap-tiap individu di dalamnya. Masyarakat sebagaimana individu selalu dihadapkan pada konflik dua dorongan tersebut. Itulah sebabnya kebaikan dan keburukan selalu ada bahkan seringkali berdampingan di masyarakat manapuun, dan yang paling sulit diketahui oleh kebanyakan orang awam adalah ketika kebathilan dibungkus dengan kemasan kebaikan. Bgaimana cara kelompok-kelompok masyarakat memperjuangkan nilai-nilai luhur mungkin berbeda demikian pula dengan yang memperjuangkan kejahatan. Nilai-nilai manakah yang seseorang pilih dan perjuangkan menentukan ke arah mana dia melangkah, menuju kepada kesempurnaan atau menjauh darinya.

MENGENAL DIRI

 

Manusia dalam bahasa Alqur’an sering disebut basyar atau insan; namun ini tidak berarti ada dua jenis manusia, yaitu manusia basyar dan manusia insan. Basyar dan insan adalah satu kesatuan yang membentuk manusia tunggal dengan dua dimensi, yaitu dimensi basyariyah yang menunjuk kepada jasmaninya dan dimensi insaniyah yang menunjuk lebih kepada ruhnya.

 

Manusia dari dimensi basyariyah adalah sosok makhluk yang dapat berjalan dengan tegak, mempunyai bebagai kebutuhan jasmaniah, dapat terserang penyakit dan ketika mati tubuhnya terurai dari individu ke organ, jaringan, sel, molekul, atom, sub atom lalu kembali ke asalnya, tanah. Adapun manusia dari dimensi insaniyah adalah makhluk yang telah diberinya hati spiritual dan intelek yang dengan keduanya manusia potensial menjadi makhluk terbaik.

 

Spiritualitas dan intelektualitas manusia adalah dua potensi luar biasa. Tugas manusialah untuk mengubah potensialitas tersebut menjadi aktualitas. Jika tidak, maka manusia turun derajatnya ke derajat binatang, bahkan dapat lebih buruk daripada binatang.

 

Dengan spiritualitasnya, setiap manusia potensial menjadi seorang relijius meskipun dia bukan seorang jenius. Dengan intelektualitasnya, manusia potensial menjadi seorang jenius meskipun mungkin saja dia tidak menjadi seorang relijius. Dengan demikian, manusia potensial menjadi seorang relijius yang jenius, atau seorang jenius yang relijius, tetapi dia dapat pula tidak menjadi seorang relijius dan tidak pula seorang jenius.

Relijiusitas tanpa diimbangi intelektualitas dapat membuat orang bergairah dalam beragama tetapi sangat rentan dibodohi dengan hal-hal, termasuk kebathilan, yang dibungkus dengan kemasan agama. Intelektualitas tanpa diimbangi relijiusitas dapat mendorong orang menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan.

 

ORANG YG TAK TERSENTjUH API NERAKA

Rasulullah saw bersabda :

‎ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ، ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ،ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻛُﻢْ ﺑِﻤَﻦْ ﺗُﺤَﺮَّﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ؟ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﺑَﻠَﻰ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻫَﻴِّﻦٍ، ﻟَﻴِّﻦٍ، ﻗَﺮِﻳﺐٍ، ﺳَﻬْﻞٍ

“Maukah kalian aku tunjukkan orang yang Haram baginya tersentuh api neraka?” Para sahabat berkata, “Mau, wahai Rasulallah!” Beliau menjawab:
“(yang Haram tersentuh api neraka adalah) orang yang *Hayyin, Layyin, Qarib, Sahl*.”
(H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Hiban).

1. Hayyin
Orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin.
Tidak mudah memaki, melaknat serta teduh jiwanya..

2. Layyin
Orang yang lembut dan santun, baik dalam bertutur-kata atau bersikap. Tidak kasar, tidak semaunya sendiri. Lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk sesama manusia

3. Qarib
Akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan bagi orang yang diajak bicara. Dan murah senyum jika bertemu.

4. Sahl
Orang yang tidak mempersulit sesuatu. Selalu ada solusi bagi setiap permasalahan.

 

 

English expressions

Bagi yang berminat belajar bahasa Inggris on line gratis, saya rekomendasikan FOLLOW akun Instagram @engliguidance. Anda akan selalu mendapat postingan tentang English Expressions, English Grammar, Business English, dan Strategi UN B. Inggris secara teratur

Greetings; Two Example Dialogs

Slides-1-4

Small Talk (1)

Salma: Hi Mary.” = Hai Maria
Maria: “Oh, hi.” = Oh, hai
Salma: “How are you doing?” = Bagaimana kabarmu?
Maria: “I’m doing all right. How about you?” = Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan Anda?
Salma: “Not too bad. The weather is great, isn’t it?”
= Tidak terlalu buruk (lumayan baik). Cuaca cerah, bukan? Continue reading →

Greetings

Bagi yang berminat belajar bahasa Inggris on line gratis, saya rekomendasikan FOLLOW akun Instagram @engliguidance. Anda akan selalu mendapat postingan secara teratur

Informal Greetings

Pelajaran ini kita mulai dengan memperhatikan contoh percakapan antara dua orang sahabat lama yang bertemu di jalan. Karena mereka sudah lama saling mengenal, maka percakapan mereka pun bersifat informal:

A: Hello!
B: Hi
A: How are you?
B: Great, thanks, and you?
A: Fine, thanks. Continue reading →

STRATEGI MENJAWAB SOAL REPORT TEXT

 

downloadReport Text adalah teks bahasa Inggris yang menghadirkan informasi tentang sesuatu seperti alam, hewan, tumbuhan, hasil karya manusia, dan fenomena sosial dengan apa adanya. Informasi yang dihadirkan dalam Report Text adalah hasil dari observasi dan analisis secara sistematis. Continue reading →

BERPIKIR LEBIH BERHARGA DARI PADA UANG

images (14)Ada sebuah pepatah dalam Bahasa Inggris yang sangat popular di telinga kita. Begitu popularnya pepatah ini, sampai-sampai mereka yang tidak bisa Bahasa Inggris pun sering mengucapkannya. Pepatah tersebut berbunyi Time is money yang bila diterjemahkan secara harfiah ucapan tersebut berarti waktu adalah uang. Kata uang di sini adalah kata metaforis yang maknanya adalah berharga. Jadi waktu adalah berharga. Continue reading →

STRATEGI MENJAWAB SOAL GREETING CARD (Congratulations Text)

 

images (11)
GREETING CARD (Kartu Ucapan) adalah text yang berupa kartu ucapan yang biasanya diberikan kepada seseorang untuk menyampaikan: ucapan selamat (Congratulations), perasaan simpati (sympathy). Permintaah maaf (apology), atau saran (suggestion). Continue reading →