Mengenal Diri

images Ada sebuah adigium yang berbunyi, “Barang siapa mengenal dirinya
maka dia akan mengenal Tuhannya”. Istilah mengenal diri mengandung arti bahwa diri kita merupakan gabungan dari dua diri, yaitu diri yang mengenal dan diri yang dikenal. Diri yang mengenal adalah diriku sebagai subjek sedangkan diriku yang aku kenal adalah diriku sebagai objek. Antara diri subjek dan diri objek bukanlah dua hal yang terpisah, tetapi keduanya merupakan satu kesatuan yang memungkinkan manusia mempunyai kemampuan untuk mengenal dan sadar akan siapa dirinya yang sebenarnya. Binatang tidak.

Lalu, siapakah manusia itu sebenarnya? Manusia dalam bahasa Alqur’an sering disebut dengan basyar atau insan. Manusia sebagai basyar adalah manusia dalam bentuk lahiriahnya, yaitu sosok makhluk yang dapat berjalan dengan tegak, yang perlu makan, minum, tidur, kawin, dan dapat terserang penyakit. Ketika mati, tubuhnya secara gradual terurai, dari individu, organ, jaringan, sel, molekul, atom sampai ke sub atom untuk kemudian dikembalikan lagi ke alam, dan tidak ada unsur sekecil apa pun dari tubuhnya yang hilang, hanya mengalami perubahan.

Adapun manusia sebagai insan menunjuk pada dimensi ruhaniahnya. yang secara kodrati adalah makhluk yang paling mulia karena Allah telah memberinya akal. Akal adalah perpaduan antara rasio dan kalbu. Dengan rasionya manusia potensial dapat memahami realitas konkret, dan dengan kalbunya manusia potensial dapat memahami realitas spiritual. Dengan demikian, dengan akalnya manusia potensial dapat memahami berbagai realitas, baik realitas konkret maupun realitas spiritual.

Ruh insan sudah ada sejak zaman azali jauh sebelum fisik basyar lahir ke alam dunia, dan akan tetap ada sampai ke alam akhirat nanti. Namun, hal ini bukan berarti ada dua jenis manusia, yaitu manusia insan dan manusia basyar. Keduanya, insan dan basyar, adalah satu kesatuan yang membentuk manusia tunggal dengan dua dimensi, yaitu dimensi insan yang menunjuk pada kapasitas ruhaniahnya dan dimensi basyar yang menunjuk pada kapasitas fisiknya

Dilihat dari dimensi basyar manusia adalah mikrokosmos sementara alam semesta adalah makrokosmos. Apa yang ada di alam semesta baik dari unsur benda mati, tumbuhan, maupun hewan ada pula pada diri manusia. Sedangkan dari dimensi insan menurut Muhammad Iqbal manusia adalah makrokosmos. Ini bererti manusia insan mempunyai potensi yang tak terbatas yang tidak akan pernah habis untuk diaktualisasikan.

images (21) Tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS Al-Dzariyat:6), sedangkan tujuan hidupnya adalah sebagai khalifah di muka bumi, Allah berfirman di dalam QS A-Baqarah: 30; “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di muka bumi.” Manusia dipilih sebagai khalifah atau wakil Tuhan karena kapasitas intelektual dan ruhaniahnya yang melebihi makhluk lain. Dengan aktifitas intelektual dan ruhaniahnya manusia membuat gagasan-gagasan dan rencana-rencana; dan dengan aktifitas fisiknya manusia mengaktualisasikan gagasan-gagasan dan rencana-rencananya itu dalam kehidupan nyata sebagai perwujudan dari pengabdiannya kepada Allah.

Dengan demikian, terdapat hubungan fungsional antara insan dan khalifah, dan antara basyar dan hamba. Sebagai insan-khalifah, manusia telah diberi akal dan dengan akalnya ia mempunyai kemampuan untuk menyusun konsep-konsep ilmu pengetahuan. Dan sebagai basyar-hamba, manusia berkewajiban untuk tunduk dan patuh kepada Allah dengan mengamalkan ilmunya(1). Insan kamil adalah orang yang menjalankan fungsi kekhalifahannya dengan berilmu amaliah dan dengan beramal ilmiah.

Oleh karena itu, kesempurnaan diberikan kepada seseorang sesuai dengan kualitas ilmu dan amalnya. Semakin tinggi ilmunya dan semakin baik amalnya semakin tinggi dan baik pula kualitasnya sebagai manusia. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah ilmunya dan semakin buruk amalnya semakin rendah dan buruk pula kualitasnya sebagai manusia.

Khalifah adalah derajat tertinggi yang tidak Allah berikan kepada makhluk lain kecuali manusia. Ia adalah manusia ideal yang telah diberi mandat sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Untuk mencapai derajat tersebut, setiap orang haruslah berusaha mengembangkan dirinya secara terus menerus dengan meningggalkan cara hidup instinktif dan beralih kepada cara hidup yang bersumber dari spirualitasnya dengan berpedoman pada Alqur’an dan Sunnah.

Spiritualitas manusia adalah unsur ilahiah yang paling suci dan paling baik dalam bentuk fitrah atau jiwa ilahiah yang ditanamkan. Ia mempunyai kecenderungan menuju sumbernya, yaitu Tuhan; dan tugas manusialah untuk mengubah potensialitas spiritualnya menjadi aktualitas. Sebaliknya, hawa nafsu berhubungan dengan raganya yang berada pada tataran hewani dan selalu menuntut kepuasan lahiriah semata. Dan bagi orang yang sudah terbiasa menjalani hidupnya di bawah kendali hawa nafsu dan syahwatnya, hatinya menjadi gelap, tidak lagi dapat membedakan antara yang hak dan yang batil; dan sebagai akibatnya, dia tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai khalifah, tetapi turun derajatnya ke derajat binatang, atau bahkan lebih buruk dari pada binatang.

images (3) Jalaludin Rumi mengemukakan, untuk meraih derajat kesempurnaan atau insan kamil dimana dimensi ilahiah teraktualisasikan, manusia harus menjalani tiga proses latihan spiritual secara terus menerus selama hidupnya; takhalli atau zero mind process, yaitu pengosongan diri dari segala perbuatan dosa dan maksiat; tahalli atau character building, yaitu menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji; dan akhirnya tajalli atau self-actualization, yaitu suatu kondisi ketika dimensi ilahiah di dalam diri manusia termanifestasikan.

Artikel ini pernah dimuat di Harian Radar Cirebon

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA:
Fitrah dan Bakat; Urgensinya dalam Pendidikan Anak
Ikhlas: Bertindak dan Beramal tanpa Kepalsuan
Iedul Fitri: Mengembalikan Kesadaran Diri
Bersaing tanpa Harus Mendengki
Ulul Albab
Membuka Mata Hati dengan Membaca
Konflik Internal antara Ruh dan Nafsu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: