Fitrah dan Bakat; Urgensinya dalam Pendidikan Anak

1005608_382133075224972_2035814532_s Fitrah dan bakat adalah dua hal yang berbeda. Fitrah bukanlah warisan dari orang tua, tetapi ia adalah ruh ilahiah yang ada dalam diri setiap manusia. Allah berfirman, “Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku” (QS Al-Hijr:29).

Fitrah telah ada sejak zaman azali. Adapun bakat adalah kemampuan-kemampuan terterntu yang secara potensial ada dalam diri manusia yang diwariskan dari orang tuanya. Fitrah bersifat fundamental, sedangkan bakat bersifat instrumental.

Dimaksudkan dengan bersifat fundamental, artinya bahwa fitrah itu adalah asal kejadian yang dimiliki manusia secara umum. Dimaksudkan dengan bersifat instrumental, artinya bahwa bakat yang merupakan kemampuan-kemampuan potensial yang berbeda-beda itu dimmiliki manusia secara berbeda-beda. Bakat satu orang dengan yang lainnya mungkin saja berbeda. Fitrah secara intrinsik pastilah sangat penting, sedangkan bakat tentu sangat berguna, paling tidak dalam konteks kehidupan duniawi.

Fitrah bertemu dengan jasad ketika manusia masih berada di alam kandungan. Perhatikan bagaimana Alqur’an mangafirmasi penciptaan manusia, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, dan tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk lain). Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Baik”. (QS Al-Mu’minun:12-14)

28weeks Pertumbuhan seorang manusia di dalam kandungan, dari pertemuan sperma dan ovum sampai tahap embrio, tidak jauh berbeda dari pertumbuhan seekor binatang. Namun, tahap akhir pembentukannya benar-benar memberikan satu status makhluk spiritual yang sama sekali berbeda dari jenis binatang. Kreasi baru tersebut dilukiskan Alqur’an dengan cara yang mengesankan; “Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain.” Jelas, mennunjukkan penambahan unsur ontologis baru yang menjadikannya khalifah di muka bumi.

Peniupan ruh Tuhan pada diri manusia sama sekali tidak ada kaitannya dengan kehidupan, sebab sejak dari awal sperma dan ovum bersifat organik dan tidak mati. Peniupan ruh-Nya ke dalam manusia adalah penegasan yang paling gamblang dan pasti tentang sebuah elemen atau unsur ilahiah (yakni, spiritual) dalam diri manusia(1). Artinya, Allah menciptakan manusia dengan satu keadaan tertentu, yaitu dengan menempatkan pada dirinya kekhususan-kekhususan dan keadaan itulah yang menjadi fitrahnya.

Fitrah manusia adalah suara hatinya. Ia telah menerima pancaran sifat-sifat Ilahiah seperti Maha Benar, Maha Mengetahui, Maha Adil, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Bijaksana, dan lain-lain. Maka suara hatinya pun adalah suara Tuhan yang terekam dalam jiwanya. Allah Maha Benar, maka fitrah manusia pun cinta kepada kebenaran. Jika seseorang hendak berbuat kejahatan, suara hatinya pasti akan melarangnya. Dan, jika dia tetap melakukannnya, dia akan menyesal. Penyesalan adalah pertanda bahwa dia kembali kepada fitrahnya.

Fitrah setiap manusia adalah sama. Oleh karena itu, nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan bersifat universal. Keadilan, kejujuran, dapat dipercaya,, kebajikan, dan altruisme diterima oleh manusia primitif sampai fase manusia berteknologi modern sekarang ini.

Bakat, berbeda dari fitrah, adalah kemampuan potensial individu yang diwariskan dari orang tuanya dan bersama-sama dengan lingkungan membentuk kepribadiannya. Bakat dan minat manusia berbeda-beda, begitu pula kepribadiannya.
J.L. Holland mengemukakan enam tipe kepribadian yang didasarkan pada minat dan kemampuan individu, yaitu konvensional, sosial, investigatif, artistik, realistis, dan pengusaha.

Keenam kepribadian tersebut masing-masing dapat dikaitkan dengan jenis pekerjaan yang cocok dengannya. Seseorang yang berkepribadian konvensional berbakat dan cocok bekerja sebagai resepsionis, sekretaris, operator komputer, teller, dan akuntan. Adapun yang berkepribadian sosial berbakat dan cocok bekerja sebagai guru, ahli terapi, konsultan manajemen, konselor, atau ibu rumah tangga yang penuh kasih sayang. Bagi yang berkepribadian investigatif berbakat dan cocok bekerja sebagai ilmuwan, dokter, peneliti, penerjemah, atau dosen.

Sedangkan yang berkepribadian artistik berbakat dan cocok bekerja sebagai musisi, seniman, penulis, disainer, aktor, atau jurnalis. Seseorang yang berkepribadian realistis berbakat dan cocok bekerja sebagai pilot, supir, mekanik, insinyur, petani, atau juru masak. Dan yang berkepribadian pengusaha berbakat dan cocok bekerja sebagai pengusaha, eksekutif, manajer, atau sales.

Pada dasarnya setiap orang merupakan gabungan dari dua atau lebih tipe kepribadian tersebut. Dan, seseorang yang cerdas secara spiritual, fitrahnya melandasi pembentukan kepribadian apa pun minat dan bakat yang dimilikinya.

Fitrah dan bakat adalah potensi luar biasa yang ada di dalam diri manusia yang perlu digali dan diaktualisasikan. Jika tidak, maka manusia turun derajatnya ke derajat binatang, bahkan dia dapat lebih buruk daripada binatang.

Dengan fitrahnya, setiap manusia berpotensi menjadi seorang relijius meskipun dia bukan seorang jenius. Dengan bakatnya, manusia berpotensi menjadi seorang jenius meskipun mungkin saja dia tidak menjadi seorang relijius. Dan setiap manusia berpotensi menjadi seorang relijius yang jenius, atau seorang jenius yang relijius. Tetapi, dia dapat pula tidak menjadi seorang relijius, tidak pula serang jenius.

Fitrah dapat ditumbuhkembangkan dan diaktualisasikan dengan bimbingan syariat yang dibawa para utusan Allah. Kebahagiaan hakiki hanya mungkin tercapai bila manusia menjalani hidupnya sesuai dengan fitrahnya yang dimanifesikan melalui aktifitas, aktifitas sosial, dan teknologi yang dikendalikan moral.

Ketika fitrah seseorang teraktualisasikan, suara hatinya selalu membangkitkan visi, kreatifitas, ketahanan mental, integritas, dan komitmen. Suara hatinya adalah sumber energi dan perasaan yang mengaktifkan nilai-nilai kemanusiaan yang paling dalam: kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, prinsip kepercayaan, pengendalian diri, dan pelayanan. Suara hatinya mengaktifkan dzikir, hubungan antara manusia dengan Tuhan, yang dijadikan sebagai landasan berpikir dan berperilaku. Namun, jika fitrah tidak dibarengi dengan arti penting pengembangan bakat, maka orang akan mudah dimarginalisasikan dan kalah dalam percaturan ekonomi, sains dan teknologi, sosial, politik, militer, olah raga, dan seni.

Sebaliknya, pengembangan bakat yang semata-mata bertujuan untuk mencapai kesuksesan di bidang materi, tetapi tanpa disertai prinsip-prinsip moral yang agung, akan menghasilkan orang yang selalu mengejar materi dan potensial membutakan hati nurani.

transformasi sufiUntuk menghasilkan manusia yang berhati nurani dan berkeahlian, atau berkeahlian dan berhati nurani, diperlukan model pendidikan yang memadukan keduanya. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang berbasis fitrah dan bakat., yaitu pendidikan yang menyeimbangkan antara hati nurani dan keahlian, kesejahteraan lahir dan batin, moral dan nalar, dan keseimbangan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi sebagai alternatif dari model pendidikan sekarang.

Pendidikan di tanah air sekarang belum mampu menumbuhkembangkan spiritualitas dan bakat anak didik sehingga mereka kurang dapat mengembangkan diri setelah mereka lulus. Tidak sedikit juara kelas yang tidak tahu apa yang harus mereka perbuat setelah mereka meninggalkan bangku sekolah. Ini disebabkan pendidikan sekarang yang lebih berorientasi pada perolehan nilai ujian, bukan pada pembentukan karakter, sebagaimana yang dipertunjukkan pada penyelenggaraan Ujian nasional (UN)

Artikel ini pernah dimuat di Harian Mitra Dialog

ARTIKEL TERKAIT LAINNY:
Membuka Mata Hati dengan Membaca
Iedul Fitri: Mengembalikan Kesadaran Diri
Konflik Internal antara Ruh dan Nafsu
Mengenal Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: