Bersyukur dan Menghargai Diri Sendiri

001 Menghargai diri sendiri mengandung arti bahwa diri kita merupakan perpaduan dari dua diri, yaitu diri yang menghargai dan diri yang dihargai. Aku adalah diriku yang menghargai sedangkan tubuhku, pikiranku, perasaanku, dan segala potensiku adalah diriku yang aku hargai. Menghargai diri sendiri adalah kebajikan diantara dua sisi ekstrim, yakni rendah diri dan keangkuhan.

Menghargai diri sendiri bukanlah rendah diri yang berarti mengeluh; ia bukan pula keangkuhan yang berarti membusungkan dada, tetapi ia berarti memandang diri sendiri sebagai sosok penting dan berharga.

Untuk menjadikan diri sebagai sosok penting dan berharga, yang perlu pertama kita lakukan adalah menerima diri sendiri apa adanya, baik secara fisikal, intelektual, sosial, maupun emosional. Secara lahiriah, setiap manusia memang berbeda; berbeda warna kulitnya, berbeda postur tubuhnya, berbeda parasnya, namun dalam hubungannya dengan Allah Swt., kita semua adalah sama.

Oleh karena Itu, perbedaan bentuk tubuh, warna kulit, asal usul keturunan tidak seharusnya membuat kita rendah diri dan mengeluh, tidak pula membuat kita angkuh .Merasa rendah diri sama buruknya dengan keangkuhan. Rendah diri berarti menginjak-injak harga diri sendiri, sedangkan keangkuhan berarti menginjak-injak harga diri orang lain.

Di balik perbedaan-perbedaan tersebut pasti terdapat hikmah yang tersembunyi. Mengeluh atau menyombongkan diri tentang keberadaan kita hanya membuat kita lupa bersyukur yang pada akhirnya berbagai potensi penting yang ada di dalam diri kita tidak dapat kita gali dan tumbuhkembangkan. Keluh kesah dan keangkuhan hanya akan menghambat kita meraih berbagai keberhasilan.

Kebanyakan di antara kita mengira bahwa berbagai keberhasilan yang kita capai dapat meningkatkan harga diri, tetapi yang sebenarnya tejadi adalah menghargai diri sendirilah yang mengantarkan kita mencapai berbagai keberhasilan. Semakin kita menghargai diri sendiri, semakin banyak pula keberhasilan yang kita raih. Jadi, menghargai diri sendiri mendahului keberhasilan, sedangkan keberhasilan tidak terjadi secara langsung, tapi terjadi secara aksidental dan merupakan suatu kelanjutan.

Juga, bukan kegagalan yang menyebabkan seseorang menjadi rendah diri, tetapi perasaan rendah dirilah yang mengakibatkan berbagai kegagalan. Semakin seseorang merasa rendah diri semakin sukar pula dia mencapai suatu keberhasilan. Hal ini dikarenakan sukar bagi orang yang rendah diri untuk memulai aktifitas yang sama sekali baru baginya. Kalimat yang sering dia ucapkan, “Saya orang bodoh; saya orang miskin; saya orang kecil; saya orang jelek; saya keturunan orang biasa-biasa saja; saya pemalas; saya tidak mampu berbuat apa-apa”, dan berbagai citra buruk lainnya.

Perasaaan rendah diri tidak terbentuk begitu saja, tetapi ia terjadi sebagai efek insidental dari pencitraan diri negatif yang telah berlangsung lama yang berasal dari dalam diri seseorang atau dari orang lain. Pencitraan diri katagori pertama merupakan pilihan seseorang agar dia dapat terhindar dari pekerjaan berat dan beresiko. Pencitraan diri katagori kedua berasal dari orang tua atau sosok dewasa lainnya seperti kakek-nenek, paman-bibi, guru, dan sebagainya.

images (41)Ketika seseorang telah menerima salah satu atau lebih citra negatif sebagai realitas bagi dirinya, maka citra negatif tersebut akan menjadi sugesti batiniah yang akan terus bekerja pada dirinya. Dia akan menjalani hidupnya di dunia ini sesuai dengan citra diri negatif yang dia bawa kemana pun dia pergi. Ketika seseorang mempercayai bahwa dirinya bodoh dan tidak berdaya, maka dia telah membuat sugesti terhadap dirinya yang membuatnya benar-benar bodoh dan tak berdaya untuk menyelesaikan suatu persoalan yang sebenarnya bisa dia selesaikan. Ya, dia sudah memfonis dirinya tidak mampu sebelum dia mencoba.

Seorang penjahat akan terus melakukan kejahatan selama dia masih memelihara citra dirinya sebagai penjahat dan meganggap bahwa kejahatan adalah sesuatu yang tidak mungkin baginya untuk mengubahnya menjadi kebaikan. Orang bodoh akan tetap dalam kebodohan sepanjang dia menerima citra dirinya sebagai orang bodoh dan percaya bahwa tidak mungkin baginya berubah menjadi pandai. Dan, orang miskin akan tetap dalam kemiskinan selama dia menganggap bahwa kemiskinan adalah realitas hidupnya yang tidak mungkin lagi dapat diubah.

Pencitraan diri secara negatif telah mengakibatkan begitu banyak orang terjebak pada rutinitas keseharian dan enggan untuk melakukan sesuatu yang baru. Kegagalan, kegoncangan, dan kekecewaan sering kali membuat mereka takut menanggung resiko untuk melakukan perubahan. Seseorang yang merasa lebih tenteram menjalani hidupnya tanpa bersinggungan dengan resiko kegagalan, baginya kebodohan, kemiskinan, dan ketidakmampuan adalah keadaan yang memang sudah dari sananya.

Anggapan bahwa segala sesuatu sudah dari sananya merupakan bentuk pelarian diri seseorang atas ketidakberdayaannya menghadapi tantangan hidup. Hidup merupakan rangkaian pilihan; dan seseorang yang merasa rendah diri lebih dikarenakan pilihan hidupnya yang berlindung di bawah citra diri negatif. Tujuannya agar dia selalu punya dalih untuk bermalas-malasan dan terhindar dari berbagai tugas berat yang menantang.

Ya, banyak orang menempelkan citra negatif pada diri mereka, padahal citra paling positif telah diberikan Allah Swt pada makhluk yang bernama manusia. Allah Swt berfirman,
“Sesusngguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. Al-Tin: 4).
Jadi, menurut pandangan Islam, manusia dari sananya adalah baik.

Manusia telah dikaruniai Allah dengan berbagai potensi dasar yang sangat besar, tetapi kebanyakan orang baru memanfaatkannya sedikit saja. Menghargai diri sendiri berarti mensyukuri segala potensi dasar itu dengan memanfaatkannya sesuai dengan tujuan untuk apa Allah memberikan semua itu kepada kita. Di dalam Alqur’an surat Ibrahim ayat 7 Allah Swt berfirman,
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya, azab-Ku sangat pedih.”

Besyukur dapat dilakukan oleh setiap orang yang mau mengubah citra dirinya, dari citra diri negatif menjadi citra diri positif. Tentu saja, ini bukan perkara mudah, terutama bagi mereka yang sudah terbiasa hidup malas dengan berlindung di bawah citra diri negatif.

Dengan menghargai diri sendiri, manusia dapat menjadi pribadi yang sesuai dengan citra diri positif yang dia pahatkan pada dirinya. Seseorang yang memiliki citra diri sebagai orang pandai, dia akan terus berusaha membuktukannya dalam kehidupan. Dia gunakan pendengaran, penglihatan, dan kemampuan berpikir logisnya untuk menuntut ilmu, dia gunakan kedua tangannya dengan berbagai keterampilan, maka barbagai keberhasilan selalu menyertainya.

Mereka itulah orang-orang yang bersyukur, yaitu orang-orang yang menghargai dirinya dengan menumbuhkembangkan dan memanfaatkan segala potensi yang dimilikinya untuk mengabdi kepada Allah dan mengabdi kepada kemanusiaan dalam rangka mengabdi kepada-Nya.Hanya orang-orang yang pandai bersyukurlah yang senantiasa mengalami keberhasilan dalam hidupnya. Baginya segala apa yang Allah berikan padanya adalah yang terbaik untuknya.

Artikel ini pernah dimuat di Harian Mitra Dialog

AERTIKEL TERKAIT LAINNYA:

Antara Kebahagiaan Hakiki dan Kesenangan Sesaat
Antara Gemar Memberi dan Ingin Selalu Diberi
Bekal Perjalanan Hidup sesudah Mati
Ikhlas: Bertindak dan Beramal tanpa Kepalsuan
Qonaah dan Roja; Mengubah Kekurangan Menjadi Kelebihan
Mengendalikan Diri dari Prasangka Buruk
Bersyukur dan Menghargai Diri Sendiri
Bersaing tanpa Harus Mendengki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: