Mengendalikan Diri dari Prasangka Buruk

akal Kita dan prasangka kita adalah dua hal yang berbeda. Jadi, kita bukanlah prasangka itu sendiri. Oleh karena itu, kita tidak boleh larut di dalam prasangka, tetapi harus mengendalikannya.

Allah Swt. Melarang kita untuk berprasangka buruk kepada siapa pun, termasuk kepada diri kita sendiri. Firman Allah Swt.,

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa.” (QS. Al-Hujarat: 12).

Kita hampir tidak pernah menyadari bahwa betapa besarnya ketergantungan kita pada prasangka dalam kehidupan kita sehari-hari, terutama dalam membentuk opini tentang diri kita maupun orang lain. Dan sayangnya, kita lebih sering berprasangka buruk ketimbang berprasangka baik. Itulah sebabnya, berita buruk tentang seeorang yang belum pasti kebenarannya lebih mudah dipercaya dan lebih mudah tersebar. Hanya sedikit saja di dunia ini orang yang mampu melepaskan diri dari jeratan prasangka buruk.

Prasangka adalah produk pikiran; dan manusia adalah makhluk berpikir. Oleh karena itu, manusia tidak pernah berhenti berpikir walau sesaat pun, bahkan ketika sedang tidur pun dia tetap menjalankan aktifitas berpikirnya. Hal ini dapat dibuktikan, ketika seseorang baru saja bangun tidur, dia masih tetap dapat mengingat mimpinya tadi malam.

otak_p10Pikiran manusia terbagi menjadi dua bagian, yakni pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran sadar juga terbagi menjadi dua bagian, yaitu pikiran sengaja dan pikiran otomatis.

Pikiran sengaja adalah pikiran yang berada di bawah kendali kehendak. Seseorang yang dengan sengaja berpikir, dia menyadari bahwa dirinya sedang berpikir. Sedangkan pikiran otomatis dapat ditemukan pada kebanyakan orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang berpikir, meskipun sebenarnya mereka sedang melakukannya. Pikiran sengaja mendahului pikiran otomatis. Sedangkan pikiran otomatis tidak terjadi secara langsung, tetapi ia terjadi secara aksidental dan merupakan suatu kelanjutan.

Jika seseorang dikecewakan oleh rekan bisnisnya yang telah menghianatinya, mungkin dia berpikir untuk melakukan balas dendam. Dia memikirkan hal itu mungkin hanya beberapa menit saja. Begitu pikiran sengaja menghentikan aktifitasnya, pikiran otomatis segera mengambil alih. Pikiran-pikiran buruk tentang rekan bisnisnya itu akan terus mengiang-ngiang di benaknya tanpa dia sadari, bahkan hingga larut malam dia tetap terjaga tanpa mampu memejamkan matanya.

Juga, tidak sedikit ilmuwan atau pengarang yang tidak dapat menemukan jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya ketika mereka sedang memikirkannya dengan sengaja. Tetapi mereka justru dapat memecahkan masalah tersebut pada saat mereka berpikir otomatis. Mungkin ketika mereka sedang berada di teras rumah, di tempat tidur, di pantai, atau bahkan di kamar mandi.

Apa yang dipikirkan oleh pikiran otomatis merupakan kelanjutan dari pikiran sengaja. Jika pikiran sengaja memikirkan hal-hal positif,maka pikiran otomatis akan melanjutkannya. Begitu pula sebaliknya, pikiran otomatis akan terus memikirkan hal-hal negatif segera setelah pikiran sengaja berhenti memikirkannya.

Itulah sebabnya, Islam mengajarkan bahwa berpikir sesaat tentang kebaikan itu lebih utama daripada sholat sunnah seribu rakaat karena berpikir sesaat akan sangat berpengaruh terhadap kehidupan secara keseluruhan.

Dalam dua puluh empat jam selama sehari semalam, barangkali kita berpikir dengan pikiran sengaja hanya selama beberapa saat saja, selebihnya kita berpikir secara otomatis.

Segala sesuatu yang dipikirkan oleh pikiran sadar, baik pikiran sengaja maupun pikiran otomatis, akan terekam di dalam pikiran bawah sadar. Prasangka baik atau buruk sebagai produk dari pikiran sadar akan terpahatkan dan terkesankan di dalam pikiran bawah sadar yang kemudian akan termanifestasi dalam kehidupan. Semua pengalaman, kejadian, dan keadaan seseorang merupakan reaksi dari pikiran alam bawah sadar terhadap pikiran sadar.

Prasangka mempengaruhi hidup kita. Ia sering kali menjadi kenyataan dalam kehidupan. Apabila kita berprasangka baik pada seseorang, maka ia akan benar-benar menjadi baik terhadap kita, karena tanpa kita sadari alam bawah sadar kita menuntun kita untuk memperlakukan dia secara baik-baik. Tetapi sebaliknya, orang yang sebenarnya baik kepada kita, tetapi karena kita berprasangaka bahwa dia adalah orang yang membenci kita, maka prasangka tersebut akan benar-benar menjadi kenyataan; dia akan membenci kita., karena tanpa kita sadari , alam bawah sadar kita menuntun kita untuk memperlakukan dia sebagai orang yang membenci kita.

Prasangka buruk telah mengorbankan banyak hal, baik dalam kehidupan pribadi maupun masyarakat. Kemalasan, pesimis dalam menatap masa depan, dan ketidakberdayaan sering kali merupakan reaksi pikiran bawah sadar atas prasangka buruk seseorang yang telah dia tanamkan pada dirinya sendiri. Prasangka buruk benar-benar menjadi penghalang spesifik terhadap kemajuan dirinya.

Persaudaraan berubah menjadi kebencian, kesetiakawanan berubah menjadi permusuhan, dan persahabatan diantara bangsa-bangsa berubah menjadi konflik bersenjata sering kali sebagai akibat dari prasangka buruk seseorang atau suatu bangsa terhadap orang atau bangsa lain.

293457625_10b568f7c7Lihat betapa prasangka buruk George W Bush bahwa Saddam Husein telah memiliki dan mengembangkan senjata pemusnah massal telah menyengsarakan berjuta-juta rakyat Irak yang tak berdosa.

Salah satu cara untuk bereaksi terhadap prasangka buruk adalah dengan berusaha menemukan fakta-fakta. Tetapi yang sering dilakukan oleh banyak orang adalah berusaha menemukan fakta-fakta berdasarkan prasangka buruk, sehingga bukan fakta yang mereka dapatkan melainkan prasangka yang mereka kira fakta, persis seperti yag dipertontonkan George W Bush. Ya, kita sering kali berada di dalam lingkaran prasangka buruk.

Prasangka adalah produk pikiran, pikiran berada di bawah kendali kehendak. Oleh karena itu, untuk bereaksi terhadap prasangka buruk, berikan outo-sugesti konstruktif kepada pikiran. Sibukkan pikiran sadar dengan hal-hal yang baik, makapikiran bawah sadar akan mereproduksi dan memanifestasikannya dalam kehidupan sesuai dengan kesan yang diberikan pikiran sadar.

Sekali pikiran berada dalam kendali kehendak, maka ia telah menjadi pelayan kita. Dan ketika pikiran berada dalam genggaman kehendak, maka kita akanmenjadi raja dari kerajaan kita, bukan menjadi budak dari prasangka.

Atikel ini pernah dimuat di harian Mitra Dialog

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA:
Ikhlas: Bertindak dan Beramal tanpa Kepalsuan
Bersaing tanpa Harus Mendengki
Antara Kebahagiaan Hakiki dan Kesenangan Sesaat
Antara Gemar Memberi dan Ingin Selalu Diberi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: