Konflik Internal antara Ruh dan Nafsu

388454_348148181956795_374917686_n (1) Manusia terlahir ke alam dunia sebagai individu dengan berbagai potensi yang dimilikinya, dan kepribadiannya terbentuk secara bertahap dimulai sejak dia masih berada di alam kandungan hingga akhir hidupnya di alam dunia. Sebagai individu setiap orang merupakan satu kesatuan antara ruh dan jasad. Dalam pengertian ini, tidak terdapat perbedaan antara Ramli dan Joni, yang membedakan di antara keduanya adalah kepribadian mereka masing-masing .

Ruh adalah wakil Tuhan yang diutus untuk memerintah di muka bumi dan jasad manusia yang berasal dari tanah adalah pelaksana perintah tersebut. Untuk melaksanakan tugas kekhalifahannya, ruh membutuhkan jasad demikian pula sebaliknya. Namun dalam realitasnya, keduanya seringkali mempunyai perbedaan kepentingan yang tidak mudah untuk didamaikan.

Dengan ruhnya, manusia mempunyai fitrah yang condong kepada kebenaran dan nilai-nilai luhur yang akan mengantarkan manusia ke derajat yang paling tinggi; dan dengan jasadnya, manusia mempunyai hawa nafsu yang cenderung untuk senantiasa mengejar kenikmata-kenikmatan lahiriah yang jika tidak dikendalikan akan menurunkan derajat manusia ke tingkat yang paling rendah. Dengan demikian, manusia sepanjang hidupnya senantiasa dihadapkan pada konflik internal antara dua dorongan, yaitu dorongan kemajuan yang bersumber dari fitrahnya dan dorongan kemunduran yang bersumber dari hawa nafsunya.

Pergulatan dua dorongan dalam berinteraksi dengan lingkungan mengarahkan manusia untuk memilih salah satu dari dua dorongan tersebut yang dimanifestasikan dalam bentuk perilaku. Kepribadian adalah semua jenis perilaku manusia yang terbentuk dari pilihan dorongan-dorongan tersebut dan kebiasaan individu dalam bereaksi dan menyesuaikan diri terhadap segala dorongan dan rangsangan yang berasal baik dari dalam atau luar dirinya. Corak perilaku ini merupakan kesatuan fungsional yang khas pada setiap orang

Pilihan setiap orang untuk bereaksi terhadap segala dorongan dan rangsangan mungkin berbeda. Memilih dorongan kemajuan berarti melangkah menuju kepada kesempurnaan; sebaliknya, memilih dorongan kemunduran berarti menjauh dari kesempurnaan. Dengan demikian, perkembangan kepribadian itu bersifat dinamis, yang berarti selama individu masih mau menambah dan meningkatkan kualitas ilmu, iman dan amalnya, meningkatkan kualitas pengalaman dan keterampilannya, semakin mantaplah kepribadiannya. Kepribadian yang mantap dalam bahasa Alqur’an disebut dengan Qalbun Salim.

Hati adalah unsur ruhaniah penentu segala perbuatan manusia , apakah seseorang memilih dorongan kamajuan atau kemunduran ditentukan oleh hatinya. Yang dimaksud dengan hati di sini tentu bukanlah hati fisik, tetapi hati spiritual yang berperan sebagai penghubung antara fitrah dengan realitas yang ada di dunia luar. Ia adalah raja yang memerintah, mengatur, dan mengendalikan kepribadian. Dengan kata lain, kepribadian seseorang ditentukan oleh bagaimana hatinya; jika hatinya baik, baiklah kepribadiannya, dan jika hatinya buruk, buruk pula kepribadiannya.

11515731 Sebagai pengambil keputusan dan penentu kepribadian, hati menjadi medan pertempuran dan ajang perebutan pengaruh antara fitrah yang memperperjuangkan termanifestasikannya nilai-nilai moral yang agung dalam kehidupan dan nafsu yang memosisikan dirinya sebagai oposisi.

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai eksekutor perbuatan, hati dibantu oleh akal, yaitu unsur ruhaniah yang berperan sebagai penasihat dan mediator dalam mempertimbangan tingkah laku. Ia adalah kapesitas intelektual yang dengannya manusia potensial mampu membedakan antara perilaku yang secara substansial bernuansa humanistik dan perilaku binatang.

Fitrah, hati, akal, dan nafsu adalah struktur kepribadian yang masing-masing mempunyai sistem kerjanya sendiri, namun antara satu dengan yang lainnya haruslah terjalin keharmonisan dan keseimbangan dalam menjalankan fungsinya. Jika tidak, maka akan terjadi apa yang disebut dengan MPD (Multiple Personality Deviancy) atau kepribadian ganda yang menyimpang.

Fitrah adalah sistem kepribadian yang orisinal, pemegang kendali moral atau filter kepribadian yang mengarahkan hati, akal, dan nafsu agar tetap berada pada tujuan yang sesuai dengan nilai-nilai ilahiah dan mendorong kepada kesempurnaan insaniah. Ia adalah wujud malakuti yang telah tercipta dan hidup di alam primordial jauh sebelum fisik manusia lahir ke muka bumi. Di alam primordial semua ruh manusia telah memberikan kesaksian di hadapan Allah Swt. dan menerima amanat sebagai khalifah di muka bumi. Allah Swt. berfirman; “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (QS. Al-A’raf: 172).

Setelah ruh bertemu dengan jasad, fitrah manusia senantiasa berusaha membangkitkan kesaradaran akan kesaksian yang pernah diucapkan dihadapan Tuhannya; menyampaikan pesan-pesan ilahiah ke dalam hatinya. Jika fitrah menguasai sebagian besar energi psikis seseorang, maka kepribadiannya akan mengarah kepada kesempurnaan. Tetapi sebaliknya, jika hawa nafsu seseorang yang dominan, menguasai hati dan intelek dan membuat fitrahnya terisolasi, maka dia akan bertindak primitif, agresif, dan anti sosial; dan sejak saat itulah dia menjadi terasing dari dirinya yang berdampak langsung pada kegelisahan dan keresahan pada hatinya.

Keterasingan dan ketidakdamaian dengan diri sendiri pada akhirnya dapat pula membuat seseorang terasing dari lingkungannya dan susah untuk berdamai dengan orang lain. Ketika seseorang menjalani hidupnya dengan membiarkan fitrahnya terisolasi, tanpa moral dan tanpa prinsip hidup, maka dia tidak ubahnya seperti binatang liar yang berkeliaran di kota-kota dan desa-desa, bahkan kehadirannya di tengah masyarakat dapat membahayakan keamanan dan keselamatan nyawa dan harta orang lain.

Para rasul diutus untuk membimbing manusia agar hidup sesuai dengan fitrahnya yang senantiasa merindukan kedekatan hubungan vertikal dengan Penciptanya dan kedekatan hubungan horizontal dengan sesamanya. Membimbing manusia dari kehidupan hewani menuju kehidupan rabbani, dari kehidupan yang dikuasai nafsu ammarah menuju kehidupan dengan nafsul mutmainnah, dan dari kehidupan yang gelap gulita menuju kehidupan yang terang benderang.

Dinul Islam bukan sekedar sebuah aturan manual yang dijadikan sebagai paspor menuju surga, tetapi ia adalah sebuah paket sosial, intelektual, dan spiritual yang tujuannya adalah untuk membersihkan jiwa manusia agar fitrahnya teraktualisasikan dalam kehidupan; sebuah paket kehidupan yang bertujuan untuk membentuk manusia-manusia yang bekepribadian nafsul mutmainah, yaitu kepribadian yang mendatangkan ketenangan, kedamaian, keselamatan, dan keamanan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi sesama manusia.

sunflower111_320_320_0_9223372036854775000_0_1_01 Ketika kepribadian nafsul mutmainah ini telah terbentuk, maka jasad menjadi nur dan nafsu menjadi cahaya sehingga tubuh yang berasal dari tanah terasa ringan untuk melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan yang diamanatkan kepada ruh yang bersal dari alam malakuti; mata terasa ringan untuk bangun di tengah malam untuk melaksanakan salat tahajud, kaki terasa ringan melangkah ke masjid untuk salat berjamaah, dan tangan terasa ringan untuk membantu sesama.

Ketika nafsu seseorang telah tunduk pada ruhnya, dia akan senantiasa mendambakan kedekatan hubungan dengan Allah Azza wa Jalla. Dan kedekatan hubungan dengan Allah hanya dapat dicapai apabila disertai pula dengan kesediaan untuk mendekati sesama manusia. Dia menjadi pecinta Allah; dan para pecinta Allah tidak akan pernah tinggal diam ketika melihat saudara-saudaranya berbalut duka karena kemiskinan, kebodohan, kekerasan, dan penyakit. Mereka, baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, terjun ke medan laga untuk membantu nasib orang lain yang hidup serba kekuarangan. Keberadaan seseorang yang nafsunya telah tunduk pada ruhnya memberikan rasa aman bagi lingkungan dimana dia betempat tinggal; dia adalah pribadi yang enggan melakukan tindakan yang merugikan atau mencelakakan orang lain karena dia sadar bila dia tidak suka mendapat perlakuan seperti itu, orang lain pun mempunyai perasaan yang sama. Duka orang lain adalah dukanya juga. Dan akhirnya, seseorang yang nafsunya telah tunduk pada ruhnya menyintai orang lain sebagaimana dia menyintai dirinya sendiri, menyayangi dan menghargai orang lain sebagaimana dia menyayangi dan menghargai dirinya sendiri.

Artikel ini pernah dimuat di Harian Kabar Cirebon

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA:
Fitrah dan Bakat; Urgensinya dalam Pendidikan Anak
Ikhlas: Bertindak dan Beramal tanpa Kepalsuan
Iedul Fitri: Mengembalikan Kesadaran Diri
Bersaing tanpa Harus Mendengki
Ulul Albab
Membuka Mata Hati dengan Membaca
Mengenal Diri
Bekal Perjalanan Hidup sesudah Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: