Antara Kebahagiaan Hakiki dan Kesenangan Sesaat

images (10) Hidup senang dan bahagia adalah dambaan setiap orang. Tanyakan kepada siapa pun, “Apakah Anda ingin hidup senang dan bahagia?” Kita pasti akan mendapatkan jawaban positif. Dan tanyakan kepada kepada siapa pun, “Apakah Anda ingin hidup menderita dan sengsara?” Kita pasti akan mendapatkan jawaban negatif.

Bagi kebanyakan orang, kesenangan dan kebahagiaan adalah dua hal yang tidak berbeda, meskipun keduanya sebenarnya tidaklah sama. Senang dapat dirasakan oleh binatang maupun manusia, tetapi bahagia khusus dirasakan oleh manusia. Kesenangan lebih bersifat fisikal, sedangkan kebahagiaan bersifat fisikal, intelektual, dan spiritual. Kesenangan berlangsung singkat dan cepat berlalu, tetapi kebahagiaan dapat bertahan lebih lama. Kesenangan timbul sebagai reaksi saraf teradap faktor-faktor eksternal, seperti saraf mata ketika melihat pemandangan yang indah, organ-organ pencernaan ketika berhubungan dengan makanan, indera penciuman ketika membau wewangian, dan indera perasa ketika bersentuhan antara pria dan wanita. Adapun kebahagiaan bersumber dari dalam, yakni ketika diri intelektual dan diri spiritual teraktualisasikan.

Kesenangan itu bersifat relatif, sedangkan kebahagiaan bersifat hakiki. Segala sesuatu ada yang bersifat relatif dan ada pula yang bersifat hakiki. Sesuatu disebut bersifat relatif apabila ia memiliki sifat yang dikaitkan dengan sesuatu yang lain; dan sesuatu disebut bersifat hakiki apabila ia mempunyai sifat yang terjadi tanpa didahului oleh sifat yang lain. Sesuatu yang bersifat relatif itu mungkin dinilai berbeda antara satu orang dengan yang lainnya, tetapi yang hakiki dinilai sama bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, makan buah durian adalah sesuatu yang menyenangkan, tetapi tidak bagi sebagian yang lainnya. Namun setiap orang akan merasa bahagia jika diperlakukan secara adil. Jadi, memakan buah durian adalah kesenangan yang bersifat relatif, sedangkan diperlakukan secara adil adalah kebahagiaan yang bersifat hakiki.

Yang memotivasi orang untuk mengejar kesenangan adalah syahwat atau daya tarik yang ada pada diri setiap orang, Allah Swt berfirman:

CHIO Aachen 2011 - Day 6 “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatangn ternak, dsn sawah ladang. Itulah kesenangan hidup dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14).

Ketertarikan pada lawan jenis, pada anak-anak, pada harta dan kekayaan bukanlah merupakan efek insidental dari sebab-sebab spesifik seperti pendidikan atau kebiasaan, tetapi ia merupakan sesuatu yang bersifat alami dan naluriah. Dengan daya tarik, manusia terdorong untuk mengejar segala hal yang dapat mendatangkan kesenangan. Ia merupakan dinamika mendasar yang dengannya manusia termotivasi untuk bertindak dan berperilaku.

Memuaskan seluruh keinginan daya tarik dapat dikatakan mustahil. Betapa pun kaya-rayanya seseorang, dia pasti masih mempunyai keinginan yang belum terpenuhi. Anda mungkin mempunyai keinginan membeli sebuah sepeda motor baru, tetapi Anda belum mempunyai cukup uang. Teman Anda yang sudah memilikinya mungkin ingin membeli sebuah mobil, tapi uang tabungannya belum cukup. Begitu pula para miliarder, mereka pasti mempunyai keinginan yang belum terjangkau. Mereka pun sama seperti kita, belum mempunyai cukup uang. Kita semua miskin; hanya Allah Yang Maha Kaya. Kepunyaan-Nya segala yang ada di langit dan di bumi

Dunia dengan segala kesenangannya hanyalah bersifat sementara, tidak ada realitas permanen di dalamnya. Malangnya, banyak orang yang jatuh cinta pada hal-hal yang bersifat sementara. Barang siapa mencintai sesuatu maka dia akan menjadi budaknya. Demikian pula orang yang mencintai kesenangan dunia, dia akan menjadi budaknya; budak harta, budak jabatan, budak nafsu birahi, dan budak-budak nafsu lahiriah lainnya.

Namun, daya tarik bukanlah sesuatu yang harus ditolak karena ia merupakan kelengkapan yang diberikan Tuhan pada diri manusia. Jika ketertarikan pada hal-hal semacam itu tidak ada, maka dasar kehidupan manusia akan runtuh. Tetapi ia juga bukan untuk diperturutkan tanpa kendali. Menolaknya berarti membiarkan diri menjadi sangat pasif, sangat terisolasi, dan kehilangan gairah hidup. Memperturutkannya tanpa kendali dapat menyebabkan orang menjadi egois, serakah, tak kenal malu, buas, dan tak berkerimanusiaan.

Semakin tak terkendali seseorang pada kesenangan lahiriah, semakin jauh dia dari kebahagiaan hakiki. Untuk itu, diperlukan sesuatu yang lebih tinggi yang berfungsi sebagai sumber pertimbangan bagi keselarasan dan keseimbangan dari kedua sisi ekstrim tersebut (menolak dan memperturutkan daya tarik). Sesuatu tersebut adalah akal. Dengan akalnya, manusia dapat mengambil hikmah yang tersembunyi di balik daya tarik.

thumb-php Perbedaan antara manusia dan binatang adalah manusia memilki akal, tapi binatang tidak. Akal adalah perpaduan antara rasio dan kalbu. Yang pertama adalah kecerdasan intlektual dan yang kedua adalah kecerdasan spiritual.

Dengan rasionya, manusia berpotensi untuk dapat memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi; dan dengan kalbunya manusia berpotensi untuk beriman dan hidup beragama. Jadi, seseorang baru dikatakan sebagai manusia dalam arti yang sebenarnya manakala dia berilmu dan beriman. Memiliki salah satunya saja, ilmu saja tanpa iman atau iman saja tanpa ilmu, maka dia baru menjadi setengah manusia. Dan jika tidak memiliki keduanya, maka dia turun derajatnya ke derajat binatang; bahkan dia dapat lebih buruk daripada binatang. Sebab, dalam mengejar kesenangan lahiriah, binatang dapat merasa puas, tetapi manusia tidak pernah. Bajing paling-paling mencuri satu butir buah kelapa, tapi bajingan mencuri miliaran rupiah, mencuri hutan, mencuri pasir, mencuri aspal. Ya, bajingan bisa mencuri apa saja; mereka itulah budak-budak kesenangan duniawi.

Ketertarikan pada kesenangan duniawi bukanlah tujuan, tetapi ia adalah sarana bagi diri untuk menuju kepada kesempurnaan. Dengan berinteraksi dengan dunia, diri dapat mengembangkan fakultas intelek dan spiritualnya. Dan diri hanya akan mencapai kesempunaannya apabila diri intelektual dan diri spiritual teraktualisasikan. Dengan kata lain, manusia akan mencapai kesempurnaannya apabila di dalam dirinya terdapat ilmu dan iman yang membuatnya menjadi manusia bernalar dan bermoral dan inilah kebahagiaan hakiki.

Semakin sempurna ilmu dan imannya, semakin sempurna pula kebahagiaannya. Brbahagialah bagi orang yang dapat mengisi hidupnya dengan ilmu, iman, dan amal saleh.

Artikel ini pernah dimuat di Harian Mitra Dialog

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA:
Ikhlas: Bertindak dan Beramal tanpa Kepalsuan
Bersaing tanpa Harus Mendengki
Antara Kebahagiaan Hakiki dan Kesenangan Sesaat
Antara Gemar Memberi dan Ingin Selalu Diberi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: