Sarjana berkualitas SD

images (22)

Ada tiga orang masing-masing bernama A, B, dan C mendapat kunjungan tamu asing yang dapat berbicara Bahasa Indonesia meskipun kurang lancar. A berpendidikan sarjana, B berpendidikan SMA, dan C berpendidikan SD. Tamu asing tersebut bertanya kepada ketiga orang itu, pertama dia bertanya kepada C,
“ Ya, kan?”
“O.ooh” jawab C’. Lalu dia bertanya kepada B,
“Ya, kan?”
“Betul” Jawab B. Dan akhirnya dia bertanya kepada A,
“Ya, kan?”
“Benar” Jawab A. Tamu asing tersebut bingung. Lalu dia bertanya kepada A yang berpendidikan sarjana, “Kok jawabnya berbeda-beda: C menjawab, ‘O.ooh’, B menjawab, “Betul”, dan bapa menjawab, “Benar”.
A berkata, “Meskipun jawabnya berbeda-beda, tapi maksudnya sih sama, hanya tingkat pendidikan kami memang berbeda”. “C yang menjawab, “O.ooh” berpendidikan SD, B yang menjawab dengan ucapan, “Betul” berpendidikan SMA”, dan saya yang menjawab, “Benar” berpendidikan sarjana.
Tamu asing itu kemudian berkata lagi kepada A, “Jadi bapak sarjana ya?”
A menjawab, “O.ooh.” Tamu asing itu bertambah bingung, lalu dia kembali bertanya kepada A, “Lo, kok bapak menjawab, “O.ooh,” katanya bapak sarjana?”
Pertanyaan orang asing itu secara serentak dijawab oleh B dan C, “Bapak A itu sarjana, tapi kualitasnya SD”
.
Rendah diri sama buruknya dengan keangkuhan. Rendah diri berarti memandang diri secara negatif yang berarti pula menginjak-injak harga diri sendiri, sedangkan keangkuhan berarti memandang orang lain secara negatif yang berarti pula menginjak-injak harga dirinya
.
Perasaaan rendah diri tidak terbentuk begitu saja, tetapi ia terjadi sebagai efek insidental dari pencitraan diri negatif yang telah berlangsung lama yang berasal dari dalam diri seseorang atau dari orang lain. Pencitraan diri katagori pertama merupakan pilihan seseorang agar dia dapat terhindar dari pekerjaan berat dan beresiko. Pencitraan diri katagori kedua berasal dari orang tua atau sosok dewasa lainnya seperti kakek-nenek, paman-bibi, guru, dan sebagainya. 
.
Ketika seseorang telah menerima salah satu atau lebih citra negatif sebagai realitas bagi dirinya, maka citra negatif tersebut akan menjadi sugesti batiniah yang akan terus bekerja pada dirinya. Dia akan menjalani hidupnya di dunia ini sesuai dengan citra diri negatif yang dia bawa kemana pun dia pergi. Ketika seseorang mempercayai bahwa dirinya bodoh dan tidak berdaya, maka dia telah membuat sugesti terhadap dirinya yang membuatnya benar-benar bodoh dan tak berdaya untuk menyelesaikan suatu persoalan yang sebenarnya bisa dia selesaikan. Ya, dia sudah memfonis dirinya tidak mampu sebelum dia mencoba.
.
Seorang penjahat akan terus melakukan kejahatan selama dia masih memelihara citra dirinya sebagai penjahat dan meganggap bahwa kejahatan adalah sesuatu yang tidak mungkin baginya untuk mengubahnya menjadi kebaikan. Orang bodoh akan tetap dalam kebodohan sepanjang dia menerima citra dirinya sebagai orang bodoh dan percaya bahwa tidak mungkin baginya berubah menjadi pandai. Dan, orang miskin akan tetap dalam kemiskinan selama dia menganggap bahwa kemiskinan adalah realitas hidupnya yang tidak mungkin lagi dapat diubah.

 

Iklan

One response

  1. “ooo…” ketika kwalitas akademis dibentang bagai layar di kehidupan sebenarnya yang kompleks persoalan, ” betul-betul” pertaruhan mutu SDM personal saja bukan latar gelarannya yang mengembel-embel nama seseorang, “Benar” makanya saya ogah ambil ba’da sarjananya karenanya saya cuma sekolahan SD,SMA,PT asyik akselerasi SMP-nya saya lompati, percepatan belajar wuuuush

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: