Membuka Mata Hati dengan Membaca

stock-vector-heart-love-and-tulips-8845741Salah satu pertanda bangkitnya kesadaran seseorang adalah dia dapat melihat atau merasakan makna batiniah yang tersembunyi di balik hal-hal lahiriah. Hidup ini penuh dengan makna dan pesan, petunjuk dan isyarat sesuai dengan tingkat penyingkapan spiritual seseorang. Ada banyak ayat Al-Qur’an dan Hadits yang mengkonfirmasi fenomena ini. Di sinilah istilah “buta” digunakan dalam Al- Qur’an, mengacu pada orang-orang yang meskipun mempunyai mata, tapi tidak bisa melihat. Memang mereka melihat bentuk dan aspek eksoteris dari dunia fenomenal tetapi tidak mampu melihat makna esoterisnya.

Kebutaan mata hati adalah suatu kondisi ketika seseorang melupakan Allah dan amanat yang telah diterimanya, melupakan agamanya, lupa tujuan hidup dan kewajiban-kewajibannya, dan lupa akan jalan kebenaran yang harus ditempuhnya dikarenakan dirinya telah menjadi budak harta, budak pangkat dan jabatan, budak nafsu birahi, dan budak nafsu-nafsu lahiriah lainnya. Kebutaan mata hati juga dapat terjadi terutama karena hati terhalangi oleh pikiran-pikiran salah seperti prasangka buruk, egois dan fanatik kelompok, sudut pandang yang keliru, eksklusifisme, kesombongan, iri-dengki, dan lain-lain. Dalam kondisi seperti ini, hati menjadi gelap, tidak mampu melihat hakikat kebenaran karena keterlenaannya pada hal-hal lahiriah dari dunia fenomenal.

Kebutaan mata hati ini benar-benar telah mengubah keramahan agama menjadi pembenar terhadap segala bentuk tindak kekerasan, dan mengubah kelembutan manusia menjadi sosok makhluk yang lebih kejam dan lebih ganas daripada srigala. Kebutaan mata hati juga disinyalir sebagai penyebab penyalahgunaan kitab suci dan IPTEK sebagai sarana penyebaran kebencian, permusuhan, kekerasan, dan tindakan destruktif lainnya. Sungguh mengherankan jika mereka yang terlibat atau menyebabkan tindakan atau kebijakan yang mendatangkan malapetaka bagi kemanusiaan bena-benar memahami kitab suci dan pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

akalEntah bagaimana, meskipun kita secara langsung sering melihat hal-hal konkret melintas tepat di atas kepala kita, tapi sebagian besar dari makna esoterisnya tetap tidak terjawab jika kita hanya melihat aspek terluarnya saja. Ini dikarenakan kepala kita bukanlah alat untuk mempersepsi hal-hal semacam itu. Tanda-tanda (ayat) Allah baik yang tertulis di dalam kitab Al-Qur’an atau kitab kosmos, keduanya membutuhkan kemurnian tertentu dari hati dan penglihatan batin kita agar kita diizinkan untuk dapat melihat makna esoteris dari ayat-ayat itu.

Sejak zaman Nabi Muhammad Saw. hingga sekarang, sumber-sumber terpercaya dan para mufasirin mengatakan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an selain memiliki arti eksoteris yang diturunkan terutama sebagai jawaban terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan kejadian dan kebutuhan saat itu, juga memiliki arti esoteris yang berhubungan dengan semua generasi. Sayangnya, kitab suci yang paling religius, Al-Qur’an,, dibaca oleh sebagian muslim pada tingkat eksoteris, dan sebagai hasilnya ayat-ayat Al-Qur’an sering disalahartikan dan disalahgunakan yang justeru membuat mereka semakin jauh dari pesan-pesan Al-Qur’an.

Demikian pula dengan kitab kosmos, seseorang yang dari pagi sampai malam matanya terfokuskan pada setiap benda yang ada di sekelilingnya, ingin melihat apa yang dapat diketahuinya, namun dia tidak mengetahui apa-apa karena dia hanya melihat tapi tidak membacanya. Membaca berarti memahami, melihat tanpa berusaha memahami bukanlah kegiatan membaca, tapi hanya memandang. Betapa banyak orang yang dengan penglihatannya berhasil memperoleh pengetahuan eksoteris tentang benda-benda, namun pengetahuan lahiriahnya itu tidak sampai mengantarkannya kepada pengenalan kepada Pencipta alam karena mereka tidak memahami kedalaman dan rahasianya.

images (22)Perintah membaca di dalam Al-Qur’an bertujuan agar dengan aktifitas membaca itu manusia memperoleh bukan hanya pengetahuan eksoteris tetapi juga pengetahuan esoteris sehingga pengetahuannya itu dapat mengantarkannya kepada keimanan yang semakin kokoh dan mendorongnya untuk senantiasa berzikir kepada Allah Swt. Orang seperti ini dengan indahnya dilukiskan di dalam Al-Qur’an,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah baik waktu duduk atau berdiri atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya) berkata: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka perihalah kami dari siksa neraka.” (QS, Ali Imran: 190-1910).

Prof. Dr. Tahir ul Qadri mengatakan ada empat kegiatan membaca yang disebutkan dalam ayat tersebut, yaitu taaqqul, tadzakkur, tafakkur, dan taarruf. Ta’aqqul ialah aktifitas membaca yang dilakukan dengan penalaran rasio manusia terhadap ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat Al-Qur’an maupun ayat-ayat kauniyah berupa tanda-tanda yang ada di alam semesta (makro kosmos) dan di dalam diri manusia sendiri (mikro kosmos). Ilmu yang diperoleh dari membaca taaqqul disebut dengan ilmu taaqqul atau ilmu rasional. Ilmu fiqh dan tafsir termasuk ke dalam ilmu ta’aqqul karena diperoleh melalui penalaran rasio manusia terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-hadits. Sebagai hasil penalaran rasio, produk ilmu fiqh dan tafsir mungkin saja salah. Kebenaran yang diperoleh dari aktifitas membaca taaqqul bersifat relatif, bukan kebenaran mutlak.

Tadzakkur ialah aktifitas membaca yang bersifat spiritual dengan menggunakan mata hati. Kemampuan membaca tadzakkur ini diperoleh melalui menyucian jiwa secara terus menerus dan bertahap. Ilmu yang dihasilkan dari kegiatan membaca seperti ini adalah ilmu tadzakkur. Termasuk ke dalam ilmu ini adalah ilmu tazkiyah nafs atau tasawuf. Dengan ilmu tadzakkur, kesadaran manusia akan bangkit. Manusia mempunyai dua kesadaran yang bersifat fitri, yaitu kesadarn ilahiah dan kesadaran insaniah. Dengan kesadaran ilahiah, manusia senantiasa berada dalam orbit kerinduannya untuk dekat secara vertikal kepada Allah Swt; dan dengan kesadaran insaniah, manusia senantiasa berada dalam orbit kerinduannya untuk dekat secara horizontal dengan sesamanya. Kedua kesadarn fitri ini akan tenggelam ketika hidup seseorang berada dalam kendali hawa nafsu, mengabaikan akal sehat dan spiritualitas. Agar kedua kesadaran tersebut menyala dan nyalanya terus bertambah besar, menjulang ke langit menerangi jagat raya, jiwa manusia perlu disucikan dengan mempelajari dan mengamalkan ilmu tadzakkur.

Tetapi, ilmu tadzakkur yang tidak diimbangi dengan ilmu ta’akkul dapat menyebabkan orang salah jalan. Imam Malik berkata, “Barangsiapa mengamalkan ilmu tasawuf tanpa fiqh, maka dia menjadi zindik. Barangsiapa mengamalkan ilmu fiqh tanpa tasawuf, maka dia menjadi fasik. Dan barangsiapa mengamalkan keduanya, maka dia meraih kebenaran.”

Tafakkur ialah aktifitas membaca yang dilakukan melalui pengamatan panca indera; hasilnya adalah ilmu empirik, yaitu ilmu yang diperoleh melalui pengamatan dan eksperimen secara terus menerus tentang hukum-hukum penciptaan. Termasuk ke dalam ilmu empirik adalah sains, seperti fisika, kimia, biologi, kedokteran, dan ilmu-ilmu teknis. Dengan sains dan teknologi, hidup menjadi lebih mudah tetapi tidak menjamin hidup menjadi lebih bahagia.

Taarruf ialah aktifitas membaca dengan mengintegrasikan ketiga kegiatan membaca tersebut dan mengamalkan ilmu yang dihasilkannya sebagai perwujudan dari pengabdiannya kepada Allah Swt., dan inilah yang disebut dengan ilmu ta’arruf. Orang-orang yang telah mencapai ilmu ta’arruf adalah orang-orang yang pandai membaca sehingga terbukalah mata hatinya; mereka itulah para Ulul Albab, yang al-din hidup di hati mereka sehingga Allah memperlihatkan kepada mereka untuk mengetahui bahwa yang benar itu benar dan memberikan kekuatan untuk melaksanakan kebenaran tersebut, memperlihatkan kepada mereka bahwa yang salah itu salah dan memberikan kekuatan untuk menjauhinya. Ya, mereka itulah para pecinta Allah yang telah terbuka mata hatinya, dan kecintaan kepada Allah telah mereka gapai dengan kesediaan mereka untuk mencintai sesama sehingga keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat memberikan rasa aman, persaudaraan, dan kasih sayang, bukan mendatangkan malapetaka bagi kemanusiaan.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA:
Fitrah dan Bakat; Urgensinya dalam Pendidikan Anak
Ikhlas: Bertindak dan Beramal tanpa Kepalsuan
Iedul Fitri: Mengembalikan Kesadaran Diri
Bersaing tanpa Harus Mendengki
Ulul Albab
Konflik Internal antara Ruh dan Nafsu
Mengenal Diri
Bekal Perjalanan Hidup sesudah Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: