Bersaing tanpa Harus Mendengki

bersaing Bersaing dan mendengki adalah dua hal yang berbeda dan berlawanan satu sama lain. Yang satu berada di utara dan yang lainnya di selatan. Namun keduanya sering kali berbaur sehingga paesaingan berubah menjadi kebencian. Orang yang bersaing bekerja dengan pikirannya sedangkan pendengki bekerja dengan nafsunya. Sayangnya, pikiran sering kali dikuasai oleh nafsu yang mengakibatkan persaingan menjadi tidak sehat, bahkan mengarah kepada permusuhan.

Persaingan tanpa disertai kedengkian adalah suatu keniscayaan sebab keduanya memang berbeda dan, oleh karenanya, keduanya dapat dipisahkan. Bersaing merupakan usaha seseorang untuk dapat menyamai atau melebihi kualitas utama atau objek yang dimiliki orang lain tanpa sama sekali berharap hilangnya kualitas atau objek tersebut dari pemiliknya. Sebaliknya, dengki adalah perasaan tidak senang terhadap keutamaan dan keberhasilan orang lain dengan disertai harapan dan usaha untuk melenyapkan keutamaan atau keberhasilan itu dari pemiliknya.

Hidup merupakan rangkaian persaingan; persaingan untuk mendapatkan sesuap nasi, persaingan untuk mendapatkan pekerjaan dan kesempatan berusaha, persaingan untuk mendapatkan pendidikan, persaingan untuk mendapatkan tempat berlindung, persaingan untuk memperoleh penghargaan, dan lain-lain. Bahkan surga pun dijadikan bertingkat-tingkat agar manusia bersaing untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas amalnya.

Ada dua macam persaingan, yaitu persaingan yang terpuji dan persaingan yang tercela. Persaingan dikatakan terpuji apabila ia ditujukan untuk meraih berbagai keberhasilan dan kebajikan, dan tercela jika persaingan ditujukan untuk mendatangkan kerusakan atau hanya untuk memuaskan hawa nafsu dan selera rendah. Alqur’an sangat mendorong orang untuk bersaing dalam berbuat kebaikan:

“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Dan berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.” (QS. Albaqarah: 148).

Dalam persaingan, tidak satu pihak pun yang kalah, semua menjadi pemenang. Ketika kita bersaing di bidang kepandaian, kita semua akan menjadi pandai.Bersaing dalam beribadah membuat kita semua tekun beribadah. Bersaing dalam pelajaran membuat para siswa giat belajar. Bersaing di bidang pekerjaan membuat etos kerja menjadi lebih baik. Dan ketika bersaing dalam kemajuan, kita semua akan memperolehnya.

Persaingan mencegah kita berpuas diri dan bermalas-malasan dalam melakukan kebaikan, tetapi sebailiknya, persaingan mendorong kita untuk terus maju menunaikan tugas hidup, mendorong kita untuk menjadi manusia yang lebih baik amal perbuatannya. Ya, kita hidup di alam dunia dunia perlu bersaing dalam berbuat kebaikan. Allah Swt. Berfirman:

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk:1-2).

horse-racing Dengan bersaing, orang akan termotivasi untuk membangkitkan kehendaknya. Kehendak adalah kekuatan yang ada pada diri manusia. Manusia tanpa kehendak adalah manusia tanpa kekuatan. Seseorang dengan perawakan tinggi besar dan kekar tidak akan mampu mengangkat sebatang korek api apabila dia tidak mempunyai kehendak untuk itu. Oleh karena itu, kehendak harus selalu dibangkitkan.

Kehendak adalah raksasa yang ada dalam diri setiap orang. Ia akan bangkit dari tidurnya apabila seseorang termotifasi untuk bersaing meraih kemajuan. Berkumpullah dengan orang-orang yang berilmu, dengan orang-orang ahli ibadah, dengan orang-orang sukses, dan bacalah biografi orang-orang yang berhasil, maka kehendak Anda akan bangkit; Anda akan termotivasi untuk berpikir dan bekerja keras agar sama seperti mereka atau bahkan mengungguli mereka. Dan yakinlah bahwa Anda pun mampu seperti mereka.

Keyakinan memperkuat harapan, harapan memperkuat kehendak. Dengan demikian, semakin kuat keyakinan semakin kuat pula harapan dan kehendak. Esensi dari kehidupan adalah keyakinan dan harapan. Ketika kita berharap agar kehidupan kita menjadi lebih baik dan kita yakin dapat meraihnya, maka besar kemungkinan kita pun akan menjadi lebih baik, tidak akan menjadi sebaliknya.

Segala sesuatu yang kita yakini dan harapkan akan terekam dan terkesankan di dalam batin bawah sadar kita untuk kemudian termanifestasi dalam kehidupan. Oleh karena itu, jika kita ingin meraih kualitas utama seperti yang dimiliki orang lain, sibukkan pikiran kita dengan berbagai harapan baik dan jangan mencampurinya dengan kedengkian, maka batin bawah sadar kita akan menuntun kita untuk meraihnya.

Mengejar ketertinggalan dari orang lain sebenarnya relatif mudah, tetapi ia menjadi sukar ketika kedengkian mengintervensiya. Sebab kedengkian sering kali memalingkan orang dari mengejar ketertinggalan menjadi usaha-usaha menghilangkan kualitas utama dan keberhasilan yang dimiliki orang lain yang membuatnya semakin jauh tertinggal. Belajar untuk tidak merasa iri dan dengki, itulah yang sukar dilakukan oleh banyak orang.

Kedengkian sebenarnya adalah kekaguman yang tersembunyi. Ketika seseorang mendengki orang lain karena kualitas utama dan keberhasilannya, sebenarnya dia secara tersembunyi mengaguminya. Batin bawah sadar hanya akan melaksanakan kesan yang lebih kuat diantara keduanya. Jika kedengkian seseorang terhadap orang lain lebih kuat daripada keinginan untuk menandinginya, maka batin bawah sadarnya akan menuntunnya untuk membenci orang tersebut; sementara keutamaan dan keberhasilan akan menjauh darinya. Oleh karena itu, ketika dia berharap mendapat kualitas utama dan keberhasilan sebagaimana dimiliki orang lain, dia seharusnya tidak memikirkan bagaimana melenyapkannya dari orang itu, sebab kedengkian akan menjadi penghalang spesifik terbesar baginya.

Kedengkian menjadi penghalang bagi kemajuan seseorang karena pendengki lebih banyak menggunakan waktunya untuk mempertentangkan anatar keinginan dan pikirannya. Dia menginginan kemajuan, tetapi pada saat yang bersamaan dia pun membencinya. Pendengki menggunakan pikirannya secara negatif mengenai orang lain yang membuatnya lupa bahwa keinginannya untuk maju hanya dapat direalisasikan ketika adanya keselarasan antara apa yang dia inginkan dan apa yang dipikirkannya. Jika dia menginginkan kemajuan, seharusnya dia tidak merasa risau ketika orang lain mendapatkannya. Ucapkan selamat padanya dengan tulus ikhlas; namun, hal ini tidak terjadi karena pikiran pendengki telah dikuasai oleh nafsu. Sesuatu yang paling sukar dilakukan pendengki adalah mengakui keunggulan orang lain secara terbuka.

Lebih jauh, pendengki juga sibuk mempertentangkan antara doa dan kehendak Allah Swt. Dia berdoa agar memperoleh kualitas utama, namun pada nafas yang lainnya dia mengutuk secara diam-diam atau keras-keras keberhasilan yang Allah berikan kepada orang lain. Dia mengutuk apa yang dia inginkan dalam doanya yang membuat doanya terhalang. Bagaimana mungkin Allah memberinya surga sementara dia sendiri mengharapkan orang lain masuk neraka. Hanya pendengkilah yang tidak pernah meraih kemenangan dalam persaingan.

AERTIKEL TERKAIT LAINNYA:

Antara Kebahagiaan Hakiki dan Kesenangan Sesaat
Antara Gemar Memberi dan Ingin Selalu Diberi
Bekal Perjalanan Hidup sesudah Mati
Ikhlas: Bertindak dan Beramal tanpa Kepalsuan</a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: