Ulul Albab

Islam sangat menjunjung tinggi ilmu dan menempatkan orang-orang berilmu di posisi terhormat. Kitab suci yang menjadi sumber pertama dan utama ajaran Islam mempunyai dua nama yang paling sering disebut, yaitu Al-Qur’an dan Al-Kitab. Al-Qur’an berarti bacaan dan Al-Kitab berarti tulisan. Kegiatan membaca dan menulis adalah dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan menuntut ilmu. Bukti lain bahwa Islam mementingkan ilmu adalah wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw. berupa perintah untuk membaca. Membaca berarti berusaha memahami untuk memperoleh ilmu. Melihat tanpa berusaha untuk memahami bukanlah kegiatan membaca, tetapi hanya memandang.

al-ghazali1Ghazali mengatakan bahwa ilmu dan ibadah merupakan dua mutiara yang sangat bernilai yang harus dijadikan sebagai paradigma berpikir dan bertindak. Untuk tujuan ilmu dan ibadahlah apa yang kita lihat dan apa yang kita dengar, apa yang kita baca dan apa yang kita bicarakan, apa yang kita pikirkan dan apa yang kita perbuat. Para Rasul diutus untuk mengajar manusia apa-apa yang belum mereka ketahui. Langit dan bumi diciptakan dengan tujuan agar manusia memperoleh ilmu yang bermanfaat dengan cara membaca, yakni memahami hukum-hukum penciptaan pada keduanya.

Ilmu adalah pengetahuan tentang realitas segala sesuatu: realitas fisikal, realitas rasional, dan realitas spiritual. Realitas fisikal ialah segala realitas yang bersifat inderawi, yaitu segala realitas yang dapat ditangkap oleh panca indera. Realitas rasiaonal ialah segala realitas yang bersifat logis, yaitu segala realitas yang dapat dipahami berdasarkan hukum-hukum logika. Realitas spiritual ialah segala realitas yang bersifat batiniah yang dapat ditangkap melalui penyucian jiwa.

Ketiga realitas tersebut oleh Islam diakui keberadaannya, dan antara satu realitas dengan yang lainnya merupakan satu kesatuan yang membentuk pengetahuan yang utuh dan holistik. Memisahkan satu realitas dari yang lainnya hanya akan membentuk pengetahuan parsial yang tidak utuh. Dengan demikian, di dalam Islam, tidak dikenal adanya dikotomi ilmu; ilmu agama dan ilmu umum.Keduanya merupakan bagian-bagian integral yang antara satu dengan yang lainnya tedapat keterkaitan yang tidak dapat dipisahkan. Allah Swt. berfirman:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah baik waktu duduk atau berdiri atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya) berkata: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka perihalah kami dari siksa neraka.” (QS, Ali Imran: 190-1910).

Tahir ul Qadri Menurut Dr Mohammad Tahir ul Qadri, ayat di atas menjelaskan ada empat jenis ilmu yang masing-masing mempunyai domainnya sendiri, tetapi antara yang satu dengan yang lainnya haruslah terintegrasikan, yaitu ilmu ta’akkul, ilmu tadzakkur, ilmu tafakkur, dan ilmu ta’arruf.

Ilmu ta’akkul ialah ilmu rasional yang diperoleh dengan penalaran rasio manusia terhadap ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat Alqur’an maupun ayat-ayat kauniyah berupa tanda-tanda yang ada di alam semesta (makro kosmos) dan tanda-tanda yang ada di dalam diri manusia (mikro kosmos). Jika kita menemukan puntung rokok dan cangkir kopi di tengah hutan, maka rasio kita berkesimpulan pasti ada orang yang pernah melewati hutan tersebut, meskipun mata kita tidak melihat orang tersebut secara langsung. Ilmu fiqh dan tafsir termasuk ke dalam ilmu ta’akkul karena diperoleh melalui penalaran rasio manusia terhadap ayat-ayat Alqur’an dan Sunnah. Sebagai hasil penalaran rasio, produk ilmu fiqh dan tafsir pun mungkin saja salah. Kebenaran ilmu taakkul bersifat relatif, bukan kebenaran mutlak.

Ilmu tadzakkur ialah ilmu yang bersifat spiritual yang diperoleh melalui menyucian jiwa secara terus menerus dan bertahap. Termasuk ke dalam ilmu ini adalah ilmu tazkiyah nafs atau tasawuf. Dengan ilmu tadzakkur, kesadaran manusia akan bangkit. Manusia mempunyai dua kesadaran yang bersifat fitri, yaitu kesadarn ilahiah dan kesadaran insaniah. Dengan kesadaran ilahiah, manusia senantiasa berada dalam orbit kerinduannya untuk dekat secara vertikal kepada Allah Swt; dan dengan kesadaran insaniah, manusia senantiasa berada dalam orbit kerinduannya untuk dekat secara horizontal dengan sesamanya. Kedua kesadarn fitri ini akan tenggelam ketika hidup seseorang berada dalam kendali hawa nafsu, mengabaikan akal sehat dan spiritualitas. Agar kedua kesadaran tersebut menyala dan nyalanya terus bertambah besar, menjulang ke langit menerangi jagat raya, jiwa manusia perlu disucikan dengan mempelajari dan mengamalkan ilmu tadzakkur.

Tetapi, ilmu tadzakkur yang tidak diimbangi dengan ilmu ta’akkul dapat menyebabkan orang salah jalan. Imam Malik berkata, “Barangsiapa mengamalkan ilmu tasawuf tanpa fiqh, maka dia menjadi zindik. Barangsiapa mengamalkan ilmu fiqh tanpa tasawuf, maka dia menjadi fasik. Dan barangsiapa mengamalkan keduanya, maka dia meraih kebenaran.”

Ilmu tafakkur ialah ilmu empirik yang diperoleh melalui pengamatan dan eksperimen secara terus menerus tentang hukum-hukum penciptaan. Termasuk ke dalam ilmu tafakkur adalah sains, seperti fisika, kimia, biologi, kedokteran, dan ilmu-ilmu teknis. Dengan sains dan teknologi, hidup menjadi lebih mudah tetapi tidak menjamin hidup menjadi lebih bahagia.

Manusia akan mencapai kebahagian hakiki, baik secara fisikal, sosial, kultural, intelektual, dan spritual apabila mengintegrasikan ketiga jenis ilmu tersebut dan mengamalkannya sebagai perwujudan dari pengabdiannya kepada Allah Swt., dan inilah yang disebut dengan ilmu ta’arruf. Orang-orang yang telah mencapai ilmu ta’arruf, mereka itulah para Ulul Albab.

Untuk sampai pada ilmu ta’arruf bukanlah perkara mudah karena adanya berbagai tantangan, diperlukan kerja keras dan perjuangan yang tak kenal lelah (mujahadah). Ulul Albab adalah manusia-manusia pembelajar dengan mindset berkembang, yang menjadikan ilmu dan ibadah sebagai prioritas utama, menyukai tantangan dan benar-benar menjalaninya. Semakin berat tantangan yang mereka hadapi, semakin berkembanglah mereka. Mereka percaya bahwa bakat dan kemampuan bukanlah dua hal yang bersifat tetap, tetapi keduanya harus terus digali dan dikembangkan. Kehidupan bagi mereka bukanlah sesuatu yang sudah sempurna, tetapi hidup adalah kesempatan bagi mereka untuk terus menyempurnakan diri.

Proses penyempurnaan diri ini mereka lakukan dengan belajar dan perubahan secara terus menerus menuju kepada kehidupan yang lebih baik; dengan terus mengasah ketajaman rasio untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah Swt., kejernihan kalbu untuk terus berdzikir, dan kekuatan indera untuk mengamati dan menemukan hukum-hukum penciptaan langit dan bumi.

Dan akhirnya, kehidupan di alam dunia bagi mereka bukanlah suatu kesia-siaan karena memang Allah tidak menciptakan semua ini dengan sia-sia. Kesia-siaan hidup mereka hindari dengan menjadikan ilmu berperan sebagai imam, dan amal ibadah mengikutinya. Berbahagialah Ulul Albab yang telah mengisi hidupnya dengan ilmu dan amal saleh.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA:
Iedul Fitri: Mengembalikan Kesadaran Diri
Membuka Mata Hati dengan Membaca
Bekal Perjalanan Hidup sesudah Mati
Konflik Internal antara Ruh dan Nafsu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: