Materi Halal bi Halal; Arti Min al’Aidin Wal Faizin

images4.jpg Min al’Aidin Wal Faizin adalah ucapan yang sangat populer dikalangan kaum muslimin dalam rangka perayaan Idul Fitri, yang bila diterjemahkan secara harfiah, berarti: (semoga kita) termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kembali dan orang-orang yang beruntung. Sebuah ucapan yang mengandung doa yang diperuntukkan bagi orang-orang yang baru saja selesai melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadan.

Min al’ Aidin (semoga kita) termasuk ke dalam golongan orang-orang yang kembali. Kata ‘kembali’ memberikan kesan bahwa selama ini kita berada jauh dari tempat semula; selama ini langkah hidup kita keliru dan salah arah sehingga perlu diluruskan dengan kembali kepada keadaan semula, yakni kembali kepada fitrah (Idul Fitri).

Id berarti kembali, fitrah menurut M. Quraish Shihab berarti kesucian, asal kejadian, atau agama yang benar. Bila fitrah dipahami dalam arti kesucian maka dengan ucapan Min al-Aidin, kita berdoa semoga, setelah sebulan penuh lamanya berpuasa, kita bersama kembali menjadi manusia yang suci bersih dari segala dosa dan noda seperti bayi yang baru saja dilahirkan oleh ibunya. Bila dipahami dalam arti asal kejadian maka ucapan itu berarti semoga, setelah sebulan penuh lamanya berpuasa, kita semua kembali menyadari jati diri kita sebagai makhluk dua dimensi, yaitu dimensi ruhaniah dan dimensi lahiriah , menjadi manusia yang utuh sehingga tidak terjadi pemisahan antara yang ideal dan yang aktual, ilmu dan amal, akidah dan syariah, moral dan perilaku semuanya saling melengkapi, kebutuhan jasmaniah tidak mengalahkan kebutuhan ruhaniah, dan dunia tidak mengalahkan akhirat. Dan bila fitrah dipahami sebagai agama yang benar, doa itu berarti semoga, setelah sebulan penuh lamanya berpuasa, kita kembali dapat melaksanakan ajaran-ajaran agama sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya yang dijelaskan oleh para ulama.

Wal-Faizin, dan (semoga kita) termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung. Keberuntungan dalam bahasa Alqur’an berarti ketaatan kita dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya, pengampunan atas segala dosa yang telah kita perbuat, dan surga yang dijanjikan. Jadi dengan ucapan itu kita berdoa semoga kita semua setelah menunaikan ibadah puasa di bulan Ramadan menjadi semakin taat dalam beribadah dan mendapat ampunan dari Allah sehingga di akhirat kelak kita mendapatkan surga-Nya.

Orang-orang yang beruntung adalah mereka yang paska Ramadan menemukan kembali kesadaran dirinya, yaitu fitrah yang dengan fitrah itu manusia cenderung kepada kebenaran. Dan orang-orang yang merugi adalah mereka yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga karena mereka masih tetap berada jauh dari kesadaran dirinya.

Manusia mempunyai dua jenis kesadaran fitri, yaitu kesadaran ilahiah dan kesadaran insaniah. Kesadaran ilahiah merupakan kesadaran akan diri seseorang dalam kaitannya dengan Yang Maha Ada, Allah Swt. Dengan kesadaran ilahiah, manusia senantiasa berada dalam orbit kerinduannya untuk semakin dekat secara vertikal kepada Allah Swt. adapun kesadaran insaniah merupakan kesadran akan diri seseorang dalam kaitannya dengan seluruh umat manusia. Dengan kesadaran insaniah , semua manusia mempunya rasa kemanusiaan yang sama yang membentuak kesatuan faktual dengan satu nurani insani bersama yang membuat manuasia merindukan kedekatan hubungan secara horizontal dengan sesamanya.

Tahir ul QadriKedua kesadaran tersebut merupakan potensi dasar manusia yang diwa sejak manusia masih hidup di alam ruh, bersifat primordial dan laten; Syaikhul Islam Prof. Dr. Muhammad Tahir Ul Qadri dalam bukunya “Islamic Concept of Human Nature” halaman 25 mengatakan:
“This potensial awareness of God’s existence is a universal phenomenon. Each human society, in one form or the other, has posited the notion of divinity. Even in various un-Islamic and atheistic societies, people are inclined to ackowledge the precent and relevance of super-natural and supra-rasional forces which they are helpless to explain by perceptual standars.”
(Kesadaran potensial akan keberadaan Allah adalah fenomena universal. Setiap masyarakat manusia, dalam satu bentuk atau yang lain, telah mengemukakan gagasan tentang keilahian. Bahkan dalam masyarakat un-islami dan atheistik sekali pun, orang cenderung mengakui kahadiran dan relevansi dari kekuatan super-natural dan supra-rasional yang mereka tidak berdaya untuk menjelaskan dengan standar yang dapat diterima).

Jadi, bukan manusia dilahirkan terlebih dahulu kemudian kesadarannya datang menyusul pada tahap selanjutnya. Kedua kesadaran itu bersifat fitri yang sudah ada jauh sebelum manusia dilahirkan ke muka bumi. Allah Swt. berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), Bukankah Aku ini Tuhanmu? “Mereka menjawab, betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi” (QS. Al-A’raf: 172).

Setelah manusia lahir ke alam dunia, kesadarannya sering kali terpenjara oleh dorongan-dorongan hawa nafsu dan berbagai rangsangan inderawi yang datang dari luar dirinya yang membuat manusia lupa akan perjanjian yang telah diucapkannya di hadapan Tuhannya, lupa akan amanat yang telah diterimanya sebagai khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi

Meskipun demikian, kesadaran tersebut tidaklah hilang , ia tetap tersimpan di alam bawah sadar yang sewaktu-waktumunculke permukaan. Ketika seseorang hendak melakukan tindak kejahatan, kesadarannnya seringkali muncul dan akan berusaha untuk mencegahnya, dan jika dia terpaksa melakukannya dia akan menyesal; penyesalan adalah sebagai pertanda bahwa dia telah kembali kepada kesadarannya. Para pemabuk, penjudi, perampok, pezina, dan koruptor pada saat-saat tertentu muncul kesadarannya untuk menghentikan semua perbuatan tersebut; namun, karena kuatnya dorongan hawa nafsu , kesadran mereka sering kali terkalahkan dan akhirnya kembali tenggelam ke alam bawah sadar. Mereka pun kembali kumat lagi.

Dengan demikian, ketidaksadaran adalah suatu kondisi ketika seseorang melupakan Allah dan amanat yang telah diterimanya dikarenakan dirinya telah menjadi budak harta, budak pangkat dan jabatan, budak nafsu birahi, dan budak nafsu-nafsu lahiriah lainnya. Ketidaksadaran juga dapat terjadi karena jiwa terhalangi oleh pikiran-pikiran salah seperti prasangka buruk, fanatik kelompok, sudut pandang yang keliru, eksklusifisme, iri-dengki, dan lain-lain. Dalam kondisi seperti itu, jiwa menjadi lemah , tidak mampu melakukan rekoleksi atau pengingatan kembali akan alam yang lebih tinggi dan lebih indah disebabkan oleh keterlenaan hati pada dunia fenomenal.

Yang dimaksud hati di sisni bukanlah hati fisik, tetapi hati spiritual yang berperan sebagai penghubung antara ruh ilahiah dan dunia fenomenal, penentu segala perbuatan manusia. Jika hati mengonstrasikan perhatiannya pada pranata ilahiah, ia akan menentukan sikap yang diambilnya sesuai dengan pranata iahiah tersebut. Sebaliknya jika hati teramat asyik dengan rangsangan-rangsangan inderawi dari dunia fenomenal, syahwatnya akan menguasainya sehingga manusia menjadi budak dari hawa nafsu dan syahwatnya, sama seperti binatang-binatang lain yang berkeliaran di kota-kota dan di desa-desa.

Untuk menemukan kembali kesadaran diri, nafsu harus dikendalikan, hati perlu ditempa dengan iman dan diisi dengan ajaran-ajaran ilahiah yang terkandung di dalam Alqur’an dan Sunnah Nabi Saw. Allah Swt. berfirman:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) Agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Al-Rum: 30). Menghadapkan diri pada agama Allah merupakan jalan praktis bagi hati untuk menemukan kembali kesadaran diri manusia.

Selama berpuasa di bulan Ramadan, kita dilatih agar mampu menahan diri dari segala godaan hawa nafsu dengan berusaha meninggalkan segala perbuatan yang dilarang agama; hati kita diisi dengan iman dan ilmu ilahiah dengan memperbanyak ibadah, baik ibadah mahdoh yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan batin dengan Allah maupun ibadah muamalah yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan baik dengan sesama.

Dengan berlalunya bulan Ramadan, haruslah lahir pribadi-pribadi baru, yaitu pribadi-pribadi yang telah menemukan kembali kesadaran dirinya, yang mampu merekoleksi perjanjian yang telah diucapkannya di hadapan Allah pada saat masih berada di alam ruh dan yang mampu melaksanakan amanat yang telah diterimanya sebagai khalifah atau wakil Tuhan di muka bumi. Pribadi-pribadi tersebut adalah pribadi-pribadi muttaqin.

Pribadi-pribadi muttaqin adalah pribadi-pribadi yang karena kesadarannya senantiasa mendambakan kedekatan hubungan dengan Allah Azza wa Jall. Dan kedekatan hubungan dengan Allah hanya dapat dicapai apabila diserti pula dengan kesediaan untuk mendekati sesama manusia. Pribadi-pribadi muttaqin adalah para pecinta Allah; dan para pecinta Allah tidak akan pernah tinggal diam ketika melihat saudara-saudaranya berbalut duka karena kemiskinan, kebodohan, kekerasan, dan penyakitl. Meraeka, baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, terjun ke medan laga untuk membantu nasib orang lain yang hidup serba kekuaangan. Pribadi-pribadi muttqin adalah mereka yang enggan melakukan tindakan yang merugikan atau mencelakakan orang lain, karena mereka sadar bila mereka tidak suka mendapat perlakuan seperti itu, orang lain pun mempunyai perasaan yang sama. Duka orang lain adalah duka mereka juga. Dan akhirnya, pribadi-pribadi muttaqin adalah mereka yang mnyintai orang lain sebagaimana mereka menyintai diri mereka sendiri, menyayangi dan menghargai orang lain sebagaimana mereka menyayangi danmenghargai diri mereka sendiri.

Artikel ini pernah dimuat di Harian Radar Cirebon.

Ketupat_Nasi

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA:
Konflik Internal antara Ruh dan Nafsu
Mengenal Diri
Fitrah dan Bakat; Urgensinya dalam Pendidikan Anak
Membuka Mata Hati dengan Membaca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: