Antara Gemar Memberi dan Ingin Selalu Diberi

images “Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (yang diberi).” Al-hadits.

Dalam menjalani hidup di dunia ini, manusia dihadapkan dengan berbagai macam kebutuhan yang harus dipenuhinya, baik kebutuhan materi maupun kebutuhan non-materi. Berbagai cara dilakukan orang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya, mulai dari cara-cara yang terpuji sampai pada cara-cara yang tercela.

Sebaik-baik orang adalah mereka yang mampu meringankan beban penderitaan orang lain dan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya didasarkan pada kemampuan dan hasil usahanya sendiri, tidak menjadi beban, apalagi merugikan atau mencelakan orang lain.

Namun, kultur masyarakat kita lebih berorientasi pada mentalitas ingin diberi daripada memberi.Itulah sebabnya ketergantungan kita pada kekuatan eksternal sedemikian rupa sehingga kita mudah dikendalikan dan diperbudak oleh orang atau bangsa lain. Rakyat mudah digiring oleh mereka yang punya uang, para tokoh masyarakat mudah digiring oleh mereka yang sedang berkuasa dan berduit; dan mereka yang sedang berkuasa mudah digiring oleh bangsa lain. Jadilah kita bangsa kelas bebek yang mudah digiring-giring.

Kebiasaan menggantungkan diri pada orang lain telah merasuk dalam berbagai bidang kehidupan dengan begitu banyak cara. Ketergantungan pada orang tua, ketergantungan pada pemerintah, ketergantungan pada pangkat dan jabatan, ketergantungan pada bantuan asing, dan masih banyak lagi ketergantungan yang lainnya.

AffandiMentalitas ingin diberi benar-benar telah merusak jiwa dan harga diri banyak orang. Seseorang yang sebenarnya sangat berpotensi, tetapi karena mentalitas ingin diberi menjadi kurang percaya diri. Pelajar lebih suka menyontek dalam ujian daripada belajar dengan sungguh-sungguh. Para penegak hukum lebih suka menerima suap daripada menegakkan keadilan. Para pejabat lebih suka menyalahgunakan jabatannya untuk memperkaya diri daripada menjalankan tugas dengan jujur dan bertanggung jawab.

Ya, mentalitas ingin diberi telah mengakibatkan disonansi kognitif, yaitu suatu keadaan tidak konsisten ketika seseorang dihadapkan pada dua atau lebih realitas yang saling berlawanan.

Seseorang yang bermental ingin diberi cenderung untuk selalu menyalahkan orang lain atas berbagai kegagalan dan nasib buruk yang menimpanya. Kalimat yang sering dikatakannya, “Saya gagal karena kakak saya tidak sepenuhnya membantu saya”, atau “Saya diganjal teman saya”, “Saya merasa sedih karena dia telah meninggalkan saya”, atau “Dia telah membuat hati saya terluka”.

Keberuntungan dan kebahagiaannya pun dia gantungkan kepada orang lain. “Keberhasilan saya semata-mata karena bantuan paman saya, tanpa dia saya tidak mungkin bernasib baik seperti ini”. “Saya merasa bahagia karena dia baik kepada saya”. Tetapi begitu seseorang yang dibutuhkan meninggalkannya, dia pun terpaksa dibuat tidak berdaya, bangkrut, atau bahkan hancur.

Tindakan melimpahkan kesalahan kepada orang lain, di satu sisi, mungkin saja dapat membuat orang lain merasa bersalah. Tetapi tindakan tersebut bukan merupakan tindakan yang bertanggung jawab. Bahkan bilamana seseorang masuk neraka, dia sama sekali tidak dapat melakukan pembelaan dengan cara melimpahkan kesalahan kepada setan yang selalu menggodanya.

Manusia diberi kebebasan untuk berbuat apa saja dan dia sendiri yang harus mempertanggungjawabkan segala perbuatannya. Bertanggungjawab pada diri sendiri berarti bahwa setiap orang harus menjadi dirinya sendiri. Ini berarti bebasnya seseorang dari belenggu psikologis orang lain, bebas dari sikap ingin selalu diberi, dan bebas dari ketergantungan pada orang lain

Dalam hidup bermasyarakat, tentu kita saling memerlukan, tetapi bukan ketergantungan yang menyebabkan kita menjadi beban bagi orang lain dan kehilangan jati diri.

th_beggar-1 Hal ini dapat terwujud jika kita mau mengubah sikap, dari sikap ingin selalu diberi menjadi sikap suka memberi. Tentu saja, ini bukan perkara yang mudah, terutama bagi mereka yang sudah terbiasa mengambil keuntungan dari ketergantungan pada orang lain.

Sikap suka memberi, sebagaimana sikap ingin selalu diberi, tidak terbentuk begitu saja, tetapi ia terbentuk karena kebiasaan. Segala sesuatu apabila sudah terbiasa akan terasa ringan untuk dikerjakan. Tetapi sebaliknya, segala sesuatu akan terasa berat untuk dikerjakan apabala tidak terbiasa. Seseorang yang sudah terbiasa bangun tengah malam untuk shalat tahajud, maka bangun tengah malam baginya bukanlah sesuatu yang memberatkan, tetapi berat dirasakan bagi yang tidak terbiasa. Demikian pula kebiasaan suka memberi.

Menghindari sikap ingin selalu diberi dan membiasakan sikap suka memberi akan membuat seseorang menjadi pribadi yang tangguh, mandiri,bertanggungjawab, dan tidak tergantung pada orang lain.

Hukum refleksi mengatakan, apa pun yang kita berikan kepada orang lain akan kembali kepada kita. Jika kebaikan yang kita berikan, maka kebaikanlah yang akan kita dapatkan, dan jika keburukan yang kita berikan, maka keburukanlah sebagai balasannya. Siapa yang menabur benih, dialah yang akan memetik hasilnya.

Berikanlah kebaikan, maka ia akan kembali kepada kita; jika orang tersebut tidak membalas kebaikan kita, ia akan datang dari orang lain. Kebaikan yang kita berikan akan menggema dari segala arah untuk kemudian ia akan kembali kepada kita dengan jumlah yang berlipat ganda.

Inayat Khan (200) mengatakan, “Apa yang kita cari dalam kehidupan ini harus kita berikan kepada orang lain. Jika kebajikan yang kita cari, berikanlah. Jika kebaikan, berikanlah. Jika pelayanan, berikanlah. Semua rahasia kebahagiaan dalam kehidupan bertumpu pada hal ini. Jika kita mencari kebahagiaan dalam kebaikan orang lain, bergantung padanya untuk membuat kita bahagia. Dan selama kita memandang orang lain untuk membuat kita bahagia, berarti kita tatap berharap bahwa diri kita harus selalu diberi.

Artikel ini pernah dimuat di harian Mitra Dialog

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA:
Bersaing tanpa Harus Mendengki
Antara Kebahagiaan Hakiki dan Kesenangan Sesaat
Antara Gemar Memberi dan Ingin Selalu Diberi
Bekal Perjalanan Hidup sesudah Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: