Ikhlas: Bertindak dan Beramal tanpa Kepalsuan

ikhlasKata image berasal dari Bahasa Latin imaginem. Di dalam kamus Longman Dictionary of Contemporay English, diterangkan salah satu dari kata image ialah “ a picture esp. In the mind” (- gambar khususnya di dalam benak). Ketika kita berjumpa dengan seseorang yang sama sekali belum kita kenal sebelumnya seringkali kita mendapat gambaran atau kesan tentang orang tersebut di dalam benak kita, apakah dia orang baik-baik atau bukan.

Image tentang seseorang, mungkin sesuai dengan realitas yang sebenarnya, tetapi tidak jarang ia merupakan suatu bentuk kepalsuan, demikian pula image diri kita yang ada di dalam benak orang lain. Kita sering kali mengecoh atau menipu orang lain dan diri kita sendiri dengan menampilkan image palsu yang bukan realitas kita yang sebenarnya. Ini menunjukkan ketergantungan kita yang sedemikian rupa terhadap penilaian orang lain tentang diri kita.

Ketergantungan terhadap penilaian dan pujian telah membuat begitu banyak orang lebih takut kepada sesama manusia daripada kepada Allah. Ketika seseorang berada di lingkungan dimana banyak orang mengenalnya, dia berusaha berperilaku sebaik mungkin untuk menjaga imagenya. Tetapi, ketika dia berada di suatu tempat yang kemungkinan tidak ada seorang pun mengenalnya, dia tidak sungkan-sungkan untuk melakukan perbuatan tercela.

Seseorang yang berprofesi sebagai guru, misalnya, mungkin takut melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas ketika dia berada di suatu tempat yang banyak muridnya mengenalnya. Para pegawai memperlihatkan kinerjanya yang baik ketika mereka berada di depan atasannya. Orang tua mungkin akan menjadi tauladan yang baik ketika mereka berada di dekat anak-anaknya. Seorang suami menunjukkan cinta-kasihnya yang besar kepada istrinya hanya ketika dia sedang berada di sampingnya. Mereka itulah contoh orang-orang yang lebih takut kepada sesama manusia. Ketika mereka berada jauh dari lingkungan orang-orang yang mengenal mereka, tentu ceritanya pun akan menjadi lain.

Selain riya, cara lain yang digunakan orang untuk menjaga imagenya adalah dengan menonjolkan keakuannya, membual, dan keangkuhan. Keakuan adalah menjaga image yang dilakukan seseorang dengan cara memamerkan betapa hebatnya dia. Seseorang yang mempunyai masalah keakuan selalu berusaha memperlihatkan egonya. Tanpa diminta, dia memerinci keberhasilannya kepada setiap orang yang dia jumpai. Dia membeberkan semua kekayaannya, barang mahal yang baru dibelinya, meskipun dengan cara kredit, atau keberhasilan anak-anaknya.

Pembual adalah orang yang berusaha menjaga imagenya dengan cara memutarbalikkan fakta tentang dirinya. Ketika kita berjumpa dengan orang semacam itu untuk pertama kalinya, mungkin kita dibuat terkesima melihat penampilan dan pembicaraannya yang meyakinkan. Dalam waktu beberapa menit saja, si pembual sudah membombardir lawan bicaranya dengan membeberkan segala urusan pribadinya, tentang besarnya penghasilan yang dia peroleh setiap bulannya, tentang promosi jabatannya, tentang rumah tinggal yang dimilikinya, tentang orang-orang yang dikenalnya, bahkan tentang orang-orang yang masih mengharapkan cintanya. Namun, semuanya itu hanyalah bualan belaka.

Adapun keangkuhan berarti membusungkan dada dengan memandang rendah orang lain. Orang yang angkuh memalingkan wajahnya ketika berjabat tangan dengan orang lain yang dia pandang lebih rendah derajatnya darinya. Dia tidak mau duduk bersama orang-orang yang levelnya lebih rendah karena dia beranggapan bahwa duduk bersama mereka dapat menurunkan imagenya. Kebanyakan orang yang angkuh adalah orang yang gila hormat. Oleh karenanya, tingkah laku mereka pun serba dibuat-buat.

Di dalam kehidupan bermasyarakat tentu setiap orang saling memberikan penilaian dan pujian. Tetapi, ketika hal yang demikian itu telah menjadi ketergantungan untuk setiap kali kita bertindak, itu adalah masalah besar. Ketergantungan pada penilaian dan pujian orang lain dapat menjadi manipulator yang berbahaya. Semakin kita membutuhkan penilaian dan pujian, kita semakin dimanipulasi orang lain.

images (35)Riya, keakuan, membual, dan keangkuhan tidak diragukan lagi merupakan bentuk-bentuk ketergantungan terhadap penilaian orang lain. Setiap orang tentu suka pada tepuk tangan sebagai tanda kekaguman, dicium tangannya ketika berjabat tangan sebagai tanda penghormatan, pujian dan sanjungan, atau semacamnya. Tetapi, ketika hal-hal seperti itu telah menjadi ukuran image pada diri kita, ini berarti kita telah menyerahakan harga diri kita pada orang lain. Konsekuensinya, ketika orang lain tersebut menolak memberikannya kepada kita, kita pun terpaksa dibuat hampa dan kehilangan rasa percaya diri.

Ketergantungan pada penilaian dan pujian telah membuat banyak orang tidak dapat bekerja tanpa itu. Ini adalah perilaku tidak sehat. Penilaian, penghormatan, pujian, atau semacamnya dari orang lain hanyalah ilusi-ilusi sementara. Semua itu tidak akan mengisi atau memperkokoh jiwa kita. Bahkan sebaliknya hanya akan melemahkan kekuatan kita, bukan memberdayakannya.

Oleh karena itu, kebiasaan ingin memperoleh penilaian dan pujian dari orang lain harus kita jauhkan dari kehidupan kita jika kita ingin memiliki kepribadian yang baik. Adalah ironis, orang-orang yang hampir selalu memperoleh image yang baik adalah mereka yang bekerja secara ikhlas, yaitu mereka yang tidak membutuhkan, tidak menghiraukan, dan tidak tergila-gila untuk mendapatkan penilaian orang lain tersebut.

images (34)Salah satu misi kerasulan Muhammad Saw adalah beramal secara ikhlas. Allah Swt berfirman di dalam Alqur’an Al-Zumar ayat 11;

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ

“Katakanlah, sesunggauhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah secara ikhlas dalam agama”.

Motivasi seseorang untuk melakukan suatu tindakan itu ada yang bersifat internal atau eksternal. Motivasi pertama datang dari dalam diri seseorang itu sendiri. Dia memilih sendiri secara bebas apa saja yang dilakukannya. Adapun motivasi kedua datang dari luar dirinya; dia melakukan suatu tindakan karena adanya kontrol dari oranga-orang di sekitarnya. Sedangkan tujuan yang menjadi sasaran akhir tindakan tersebut bisa untuk mendatdapatkan keridloan Allah Swt atau mungkin hanya sekedar mendapatkan penilaian orang lain

Motivasi orang yang ikhlas dalam beramal datang dari dalam dirinya sendiri dengan tujuan untuk mendapatkan keridloan Allah Swt. Ini artinya bebasnya dia dari belenggu opini orang lain pada setiap tindakannya. Keberhasilannya memindahkan wilayah kendali eksternal menjadi internal adalah hasil langsung dari keberhasilannya membuat dirinya sendiri bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukannya.

Orang yang ikhlas ini memang berbeda dari kebanyakan orang. Dia sangat mandiri dalam berindak; mampu bergerak maju meski tanpa penilaian orang lain, tidak tergila-gila pada kehormatan, kekaguman, pujian, atau semacamnya karena memang dia tidak begitu peduli pada hal-hal semacam itu. Dia hampir tidak pernah dipusingkan oleh bagaimana orang lain memandangnya. Baginya hanya Allah Swt satu-satunya tujuan.

Orang yang ikhlas ini hampir tidak pernah merasa kesal atau dibuat menjadi tidak berdaya hanya karena cibiran atau kritikan orang lain. Dia selalu menyaring setiap penilaian dan keterangan dari siapa pun datangnya melalui standar penilaiannya sendiri untuk kemudian memanfaatkannya guna memperbaiki diri.

Dan akhirnya, orang yang ikhlas adalah orang yang karena keikhlasannya mempunyai tekad dan kehendak yang kuat untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Mengubah ketergantungan menjadi kemandirian, keputusasaan menjadi harapan, kegagalan menjadi keberhasilan, keguncangan menjadi kestabilan, permusuhan menjadi persaudaraan, dan kedengkian menjadi persaingan dalam berbuat kebaikan. Sesungguhnya dia, karena Allah Swt., adalah orang yang mampu menempuh jalan menuju kepada-Nya.

Artikel ini pernah dimuat di harian Mitra Dialog

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA:
Bersaing tanpa Harus Mendengki
Antara Kebahagiaan Hakiki dan Kesenangan Sesaat
Antara Gemar Memberi dan Ingin Selalu Diberi
Bekal Perjalanan Hidup sesudah Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: