Jangan Meratapi Kemalangan

images (29)Menrerima keadaan dan mengharapkan keadaan yang lebih baik bukanlah dua hal yang kontradiktif. Keduanya saling melengkapi, dan oleh karenanya dapat didamaikan, hanya waktunya yang berbeda.

Kita menerima apa yang sudah terjadi dan berharap apa yang belum terjadi, jadi bukan sebaliknya. Mengharapkan sesuatu yang sudah terjadi berarti mengada-ada dan mencemaskan sesuatu yang belum teradi berarti menyiksa diri.

Bagaimana seseorag menyikapi peristiwa yang sudah terjadi dan bagaimana memandang masa depannya sangat mempengaruhi perasaan dan tindakan yang harus diambil di masa sekarang.Mereratapi kegagalan, kemalangan, atau kepedihan yang sudah terjadi dan mencemaskan tentang sesuatu yang belum tentu akan terjadi membuat seseorang menjadi tidak berdaya meghadapi masa sekarang dan pesimis dalam menatap masa depannya. Sikap pesimis ini akan melemahkan dan merampas kekuatan besarnya dan menjadi penghalang utama bagi kemajuannya.

Segala peristiwa yang sudah terjadi pada diri seseorang bukan untuk diratapi tetapi diterima untuk diambil hikmahnya sebagai pelajaran paling berharga dan penting bagi perkembangan dirinya selanjutnya. Penderitaan adalah cara yag dipergunakan Allah Swt. untuk mendidik manusia agar memperbaiki sistem hidupnya, membangkitkan antusiasmenya, mempertajam kecerdasannya, berjuang mengatasi kekuatan yang menantangnya sehingga dia menjadi lebih tegar, lebih dinamis,, dan lebih handal.

Allah Swt. Berfirman,

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu meyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, sedang,.Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui”, (QS. Al-Baqarah:216).

Menerima keadaan adalah sikap orang-orang yang jiwanya tercerahkan. Ia menjadi terapi paling efektif dalam mengatasi keputusasaan. Sayangnya, kebanyakan orang keliru dalam menyikapinya.Sikapmenerima ini diperlukan untuk segala apa yang sudah terjadi, tatpi untuk segala apa yang belum terjadi harus disikapi dengan harapan.

Esensi kehidupan adalah keyakinan dan harapan. Ketika seseorang mengharapkan kehidupannya menjadi lebih baik dan dia yakin dengan kuasa Allah dia dapat meraihnya, maka dia pun akan menjadi lebih baik, sementara jika dia selalu merasa cemas berarti dia membiarkan kondisi buruknya terus berlanjut seumur hidupnya.

Realitas hidup yang sesungguhnya adalah masa sekarang. Masa lalu tidak mungkin akan kembali lagi dan masa yang akan datang ketika tiba saatnya, ia pun menjadi masa sekarang. Keadaan kita di masa sekarang merupakan akibat dari segala tindakan yang telah kita perbuat di masa lalu, dan apa yang kita perbuat di masa sekarang berakibat terhadap keadaan kita di masa yang akan datang.

Oleh karena itu, masa sekarang bukanlah saat bagi kita untuk mengeluh tetapi saat bagi kita untuk mulai bertindak merealisasikan harapan –harapan. Jadi, jangan pernah berhenti berharap. Allah Swt. berfirman,

وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir” (QS> Yusuf: 87).

Harapan adalah keterikatan kehendak seseorang dengan sesuatu yang dia inginkan akan terjadi di masa yang akan datang.Dengan harapan, sikap psimis berubah menjadi optimis. Seseorang yang mengharapkan sesuatu dan optimis mampu meraihnya akan berusaha semaksimal mungkin untuk merealisasikan harapan-harapannya itu. Seseorang yang mengharapkan amalnya diterima oleh Allah Swt. akan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas ibadahnya. Seorang pendosa yang mengharapkan mendapat ampunan dari Allah Swt. akan bertaubat dari dari melakukan perbuatan dosanya. Seseorang yang tertimpa musibah dan berharap dapat keluar dari musibah itu akan berusaha keras untuk mengatasinya.Seorang pelajar yang mengharapkan menjadi juara kelas akan berusaha merealisasikannya dengan belajar sungguh-sungguh. Ya, harapan membuat hidup penuh antusias.

Harapan dan antusiasme harus dibangun di atas landasan yang kokoh. Landasan yang dimaksud adalah kesadaran akan segala kekurangan dan kelemahan yang ada pada diri kita. Orang yang sudah merasa cukup dengan ilmu yang dipelajarinya, dengan amal kebajikan yang telah diperbuatnya, maka seketika itu juga antusiasmenya menjadi lumpuh. Sebaliknya, kesadaran akan kekurangn yang ada pada dirinya akan membangkitkan antusiasmenya. Setiap orang harus membiarkan antusiamenya terus berkembang sehingga dengan antusiamenya itu tekadnya untuk merealisasikan harapan-harapannya menjadi semakin kuat. Tentu saja, ini bukan perkara mudah terutama bagi orang yang selalu berusaha menutup-nutupi segala kekurangan yang ada pada dirinya, terlebih lagi bagi mereka yang terjangkiti sifat takabur.

Untuk membangkitkan kesadaran tersebut, kita tidak seharusnya menghitung-hitung sudah berapa banyak ilmu yang telah kita kuasai, tapi pikrkan masih berapa banyak yang belum kita pelajari dan kuasai. Kita tidak seharusnya menghitung-hitung berapa banyak amal kebaikan yang telah kita kerjakan,tapi pikirkan berapa banyak amal kebaikan yang masih belum kita lakukan. Kita tidak seharusnya menutup kedua telinga kita dari kritikan orang lain, tapi dengarkan mereka karena kritikan sering kali membantu kita melihat kekurangan yang ada pada diri kita.

Berawal dari kesadaran akan ketidaksempurnaan ini,kita bergerak maju menuju kepada kesempurnaan. Berawal dari kesadaran bahwa masih banyak ilmu yang belum kita kuasai, kita bergerak maju menuju kepada kesempurnaan ilmu dengan terus menggalinya. Dari kesadaran masih banyaknya perintah Allah dan Rasul-Nya yang belum kita kerjakan, kita bergerak maju menuju kepada kesempurnaan ibadah. Dan dari kesadaran sedikitnya teman yang kita kenal, kita bergerak maju menuju kepada pergaulan yang lebih luas.

Harapan dan antusiasme tidak dimiliki oleh orang-orang yang larut dalam meratapi peristiwa yang telah terjadi dan tenggelam dalam kecemasan terhadap peristiwa yang belum tentu akan terjadi. Harapan dan antusiasme juga tidak dimiliki oleh orang-orang yang merasa cukup dan berhenti dengan kebaikan yang ada di masa sekarang. Tetapi harapan dan antusiasme hanya dimiliki oleh orang-orang yang dapat mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang telah terjadi di masa lalu dan menyadari akan kekurangan yang ada pada dirinya sebagai bahan pertimbangan bagi segala tindakannya di masa sekarang demi masa depannya.

Sikap yang tepat adalah kita menerima dan puas terhadap apa yang telah terjadi dan kita peroleh, tetapi masa sekarang adalah saat bagi kita untuk mulai bertindak merealisasikan harapan-harapan itu dengan penuh antusias.

Setiap hari berarti suatu kehidupan baru. Berbahagialah bagi orang yang dapat mengisis hari-hari selam hidupnya dengan ilmu dan amal saleh,bukan dengan meratapi masa lalu dan mencemaskan masa depan.

ARTIKEL TERKAIT LAINNYA:
Ikhlas: Bertindak dan Beramal tanpa Kepalsuan
Bersaing tanpa Harus Mendengki
Antara Kebahagiaan Hakiki dan Kesenangan Sesaat
Antara Gemar Memberi dan Ingin Selalu Diberi

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: