Materi Khutbah ‘ Idul Adha; Medekatkan Diri kpada Allah dan kepada Sesama

download (4)
Allahu Ak bar 3 X

Allah Maha Besar, allah Maha Agung, dan Maha Suci Allah setiap pagi dan petang baik di masa silam, masa kini, maupun masa depan. Maha Suci Allah yang telah menjadikan hari raya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Saudara-saudara kaum muslimin wal muslimat yang berbahagia.

Marilah kita bersyukur kepada All ah Swt. yang telah mempertemukan kita kembali dengan Idul Adha tahun ini sehingga kita masih diberi kesempatan untuk menyambut dan merayakan hari yang mulia ini.

Kehadiran Idul Adha senantiasa membangkitkan kesadaran jiwa berjuta-juta umat muslim di seluruh dunia akan tanggung jawabnya terhadap Allah Swt. dan terhadap sesamanya. Be tapa tidak, setiap kali Idul Adha datang jutaan manusia di seluruh penjuru dunia berduyun-duyun datang ke masjid-masjid atau lapangan untuk melaksanakan solat Idul Adha dan melakukan zikrullah dengan mengumandangkan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid
الله اكبر- الله اكبر- الله اكبر لااله الاالله والله اكبرالله اكبر ولله الحمد
Yaitu pengakuan yang bulat dan mutlak atas kebesaran dan kekuasaan Ilahi.
Disamping mengagungkan asma Allah, mereka jugamemperbaharui ikrar tauhid mereka dengan mengucapkan kata-kata:
صدق وعده = Janji Allah senantiasa benar
ونصر عبده = Allah selalu menolong hamba-hamba-Nya
وأعزجنده = Allah senantisa memuliakan pejuang-pejuang
وهزم الاحزاب واحده = Allah sendiri saja mampu menghancurkan musuh.

Idul Adha sering juga disebut dengan Idul Haj atau Hari Raya Haji karena pada saat ini juga, jutaan umat muslim lainnya dari berbagai suku, bangsa, bahasa, dan warna kulit yang berbeda berkumpul di tanah suci untuk memenuhi panggilan Tuhan mereka menunaikan ibadah haji. Mereka tinggalkan tanah air dan kampung halaman mereka. Mereka tinggalkan keluarga, saudara-saudara, kerabat, tetangga, dan teman-teman mereka. Mereka tinggalkan pekerjaan, tempat usaha dan harta kekayaan mereka uantuk menghadap Sang Khaliq.

Juga mereka lepaskan segala macam atribut dan topeng yang biasa menempel dan menjadi kebanggaan mereka, baik topeng berupa pangkat dan jabatan, topeng berupa kekayaan, topeng berupa gelar kesarjanaan, topeng berupa keturunan orang tertentu, dan topeng-topeng lainnya. Mereka lepaskan semuanya; yang mereka pakai hanyalah baju ihram yang berwarna sama putih bersih sebagaimana layaknya kain kafan yang membungkus setiap muslim ketika berpulang ke rahmatullah.

Pada hari ini pula umat muslim di seluruh dunia menyembelih hewan kurban baik berupa kambing, sapi, atau unta yang dagingnya dibagi-bagikan kepada mereka yang berhak.Oleh karena itu, Idul Adha sering pula disebut dengan Idul Qurban atau Hari Raya Kurban. Bila ibadah puasa mengajak kita untuk merasakan lapar seperti orang-orang miskin, maka ibadah kurban mengajak kaum msikin merasakan kenyang seperti kita. Ibadah kurban mencerminkan pesan Islam bahwa kita hanya dapat dekat kepada Allah, jika kita mau mendekati saudara-saudara kita yang kekurangan.

Allahu Ak bar 3 X Allah Maha Besar 3X

Saudara-saudara kaum muslimin wal muslimat yang berbahagia.

Idul Adha, festifal agung tahunan warisan Nabi Ibrahim alaihisssalam yang dirayakan umat muslim di seluruh dunia ini, setidaknya mempunyai tiga aspek yang terkandung di dalamnya:

Pertama aspek ubudiyah, sesuai dengan namanya “qurban” , maka Idul Qurban adalah hari yang dirayakan sebagai usaha mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah yang merupakan tugas setiap insan untuk menghambakan diri kepada Sang Khaliq, mempersembahkan segala sesuatunya semata-mata kepada Allah SWT.

Pokok pangkal dari setiap ibadah adalah ikhlas, artinya mempersembahkan segala sesuatu baik berupa tenaga, pikiran, harta bahkan jiwa sekalipun dilakuksn semata-mata untuk mencari keridoan Allah SWT. Sifat Ikhlas dan rela berkorban ini telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS ketika menerima perintah dari Allah untuk menyembelih putranya Ismail AS yang kemudian oleh Allah diganti dengan seekor domba.

Nabi Ibrahim AS adalah figur seorang ayah dan suami yang ikhlas dan bijaksana. Begitu menerima perintah dari Allah SWT. beliau sampaikan terlebih dahulu kepada putranya lalu meminta pendapatnya tentang perintah tersebut. Siti Hajar istri Nabi Ibrahim adalah figur seorang ibu dan istri yang tunduk dan patuh kepada perintah Allah SWT. dan suaminya. Adapun Ismail adalah figur seorang anak yang taat kepada perintah Allah dan berbakti kepada kedua orang tuanya.

Beribadah dan beramal dengan ikhlas yang telah dicontohkan oleh keluarga Nabi Ibrahim AS ini oleh Nabi Muhammad SAW telah dilanjutkan kepada umatnya. Salah satu misi kerasulan Muhammad Saw adalah beramal secara ikhlas. Allah Swt berfirman di dalam Alqur’an Al-Zumar ayat 11;
قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
“Katakanlah, sesunggauhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah secara ikhlas dalam agama”.

Motivasi orang yang ikhlas dalam beramal datang dari dalam dirinya sendiri dengan tujuan untuk mendapatkan keridloan Allah Swt. Ini artinya bebasnya seseorang dari belenggu opini orang lain pada setiap tindakannya. Dia sendiri yang bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukannya.

Orang yang ikhlas ini memang berbeda dari kebanyakan orang. Dia sangat mandiri dalam berindak; mampu bergerak maju meski tanpa penilaian orang lain, tidak tergila-gila pada kehormatan, kekaguman, pujian, atau semacamnya karena memang dia tidak begitu peduli pada hal-hal semacam itu. Dia hampir tidak pernah dipusingkan oleh bagaimana orang lain memandangnya. Baginya hanya Allah Swt satu-satunya tujuan.

Orang yang ikhlas ini hampir tidak pernah merasa kesal atau dibuat menjadi tidak berdaya hanya karena cibiran atau kritikan orang lain. Dia selalu menyaring setiap penilaian dan keterangan dari siapa pun datangnya melalui standar penilaiannya sendiri untuk kemudian memanfaatkannya guna memperbaiki diri.
Dan akhirnya, orang yang ikhlas adalah orang yang karena keikhlasannya mempunyai tekad dan kehendak yang kuat untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Mengubah ketergantungan menjadi kemandirian, keputusasaan menjadi harapan, kegagalan menjadi keberhasilan, keguncangan menjadi kestabilan, permusuhan menjadi persaudaraan, dan kedengkian menjadi persaingan dalam berbuat kebaikan. Sesungguhnya dia, karena Allah Swt., adalah orang yang mampu menempuh jalan menuju kepada-Nya.

Kedua aspek ijtima’iyyah.
Idul Adha dengan ibadah kurbannya mengajarkan kita untuk memiliki sikap gemar memberi dan rela berkorban berbuat kebaikan kepada sesama. Sikap suka memberi dan rela berkorban tidak terbentuk begitu saja, tetapi ia terbentuk karena kebiasaan. Segala sesuatu apabila sudah terbiasa akan terasa ringan untuk dikerjakan. Demikian pula kebiasaan suka memberi.
Sikap suka memberi akan membuat seseorang menjadi pribadi yang tangguh, mandiri, bertanggungjawab, dan tidak tergantung pada orang lain.

Hukum refleksi mengatakan, apa pun yang kita berikan kepada orang lain akan kembali kepada kita. Jika kebaikan yang kita berikan, maka kebaikanlah yang akan kita dapatkan, dan jika keburukan yang kita berikan, maka keburukanlah sebagai balasannya. Siapa yang menabur benih, dialah yang akan memetik hasilnya.

Berikanlah kebaikan, maka ia akan kembali kepada kita; jika orang tersebut tidak membalas kebaikan kita, ia akan datang dari orang lain. Kebaikan yang kita berikan akan menggema dari segala arah untuk kemudian Allah akan mengembalikan kebaikan itu kepada kita dengan jumlah yang berlipat ganda.

Apa yang kita cari dalam kehidupan ini harus kita berikan kepada orang lain. Jika kebajikan yang kita cari, berikanlah. Jika kebaikan, berikanlah. Jika pelayanan, berikanlah. Semua rahasia kebahagiaan dalam kehidupan bertumpu pada hal ini.

Ketiga aspek tarbiyah
Idul Adha juga mendidik kita untuk senantiasa memiliki harapan dan tidak mudah berputus asa menggapai cita-cita sebagaimana dicontohkan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim as., yang mencari sumber mata air untuk anaknya Ismail as. Beliau, dengan harapan yang kuat, mencarinya bolak balik dari bukit sofa ke bukit marwah tujuh kali sampai akhirnya beliau menemukan sumber mata air zam-zam.

Harapan adalah keterikatan kehendak seseorang dengan sesuatu yang dia inginkan akan terjadi di masa yang akan datang. Dengan harapan, sikap psimis berubah menjadi optimis. Seseorang yang mengharapkan sesuatu dan optimis mampu meraihnya akan berusaha semaksimal mungkin untuk merealisasikan harapan-harapannya itu. Seseorang yang mengharapkan amalnya diterima oleh Allah Swt. akan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan kualitas ibadahnya. Seorang pendosa yang mengharapkan mendapat ampunan dari Allah Swt. akan bertaubat dari melakukan perbuatan dosanya. Seseorang yang tertimpa musibah dan berharap dapat keluar dari musibah itu akan berusaha keras untuk mengatasinya.Seorang pelajar yang mengharapkan menjadi juara kelas akan berusaha merealisasikannya dengan belajar sungguh-sungguh. Ya, harapan membuat hidup penuh antusias.

Harapan adalah kekuatan yang ada pada diri manusia. Manusia tanpa harapan adalah manusia tanpa kekuatan. Harapan memperkuat kehendak. Dengan demikian, semakin kuat harapan semakin kuat pula kehendak, dan kehendak yang kuat akan melahirkan kerja keras. Esensi dari kehidupan harapan. Ketika kita berharap agar kehidupan kita menjadi lebih baik maka besar kemungkinan kita pun akan menjadi lebih baik, tidak akan menjadi sebaliknya.

Segala sesuatu yang kita harapkan akan terekam dan terkesankan di dalam batin bawah sadar kita untuk kemudian termanifestasi dalam kehidupan. Oleh karena itu, jika kita ingin meraih keberhasilan, sibukkan pikiran kita dengan berbagai harapan baik, maka batin bawah sadar kita akan menuntun kita untuk meraihnya.

Semoga idul Adha tahun ini dapat mengembalikan kesadaran kita akan tanggung jawab kita kepada Allah dan kepada sesama. Tetaplah jiwa Idul Adha di hati kita sepanjang tahun. Aamiin ya robbal aalamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: