Draft

 

 إِنَّكُمْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ كَثِيْرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيْلٍ خُطَبَاؤُهُ، قَلِيْلٍ سُؤَّالُهُ، كَثِيْرٍ مُعْطُوهُ، الْعَمَلُ فِيْهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ. وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيْلٌ فُقَهَاؤُهُ، كَثِيْرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيْرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيْلٌ مُعْطُوهُ،الْعِلْمُ فِيْهِ خَيْرٌمِنَ الْعَمَلِ

“Sesungguhnya kalian hidup di zaman yang fuqahanya (ulama) banyak dan penceramahnya sedikit, sedikit yang minta-minta dan banyak yang memberi, beramal pada waktu itu lebih baik dari berilmu. Dan akan datang suatu zaman yang ulamanya sedikit dan penceramahnya banyak, peminta-minta banyak dan yang memberi sedikit, berilmu pada waktu itu lebih baik dari beramal.” (HR. Ath-Thabrani).

BASYAR ADALAH KENDARAAN DAN INSAN ADALAH SUPIRNYA

 

Tujuan penciptaan manusia adalah untuk mengabdi kepada Allah dan tujuan hidupnya adalah sebagai khalifah yang diberi mandat untuk memakmurkan kehidupan di muka bumi. Manusia dipilih sebagai khalifah karena kapasitas intelektual dan spiritualnya yang melebihi makhluk lain. Dengan mengaktualisasikan potensi intelektual dan spiritualnya manusia dapat menunaikan tugas hidupnnya melalui aktivitas raganya sebagai perwujudan dari pengabdiannya kepada Allah.

 

Dengan demikian, terdapat hubungan fungsional antar insan dan basyar. Sebagai insan manusia telah diberi kemampuan untuk menyusun konsep-konsep ilmu pengetahuan, dan sebagai basyar manusia berkewajiban untuk tunduk dan patuh kepada Allah dengan mengamalkan ilmunya. Insan paripurna adalah orang yang dapat menggunakan semaksimal mungkin raganya untuk menjalankan fungsi kekhalifahan dan kehambaannya dengan berilmu amaliah dan dengan beramal ilmiah.

 

Oleh karena itu, kesempurnaan diberikan kepada seseorang sesuai dengan kualitas ilmu dan amalnya. Semakin tinggi ilmunya dan semakin baik amalnya semakin tinggi dan baik pula kualitasnya sebagai manusia. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah ilmunya dan semakin buruk amalnya semakin rendah dan buruk pula kualitasnya sebagai manusia.

 

Setiap hari berarti suatu kehidupan baru. Berbahagialah bagi orang yang dapat mengisi hari-hari dalam hidupnya dengan ilmu dan amal shaleh.

=========

Apa yang kita inginkan dari anak-anak kita, BERIKANLAH.

BERILAH mereka makanan yang baik dan halal (bukan dari hasil korupsi).

Jika kita menginginkan mereka taat dalam menjalankan agama, BERILAH bantuan kelancaran kegiatan keagamaan.

Jika kita menginginkan mereka menjadi orang-orang berilmu dan mandiri secara ekonomi, BERILAH bantuan pendidikan anak-anak yatim dan dhuafa.

Dal lain-lain.

Keberhasilan dan prestasi mereka merupakan anugerah dari Allah maka lakukanlah Tahadduts binni’mah (bukan ujub/riya) setiap kali mereka mendapatkan keberhasilan sebagai ungkapan rasa syukur dan bersedekahlah sehingga orang lain pun ikut merasakan kebahagiaan ini.

Semua rahasia keberhasilan anak-anak kita bertemu pada kebiasaan kita berbagi epada orang lain didampingi tentu saja dengan usaha-lahir seperti pendidikan dan pergaulan yang baik.

RENUNGAN JUM’AT PAGI

 

Kebutaan mata hati adalah suatu kondisi ketika fitrah seseorang terkubur dan terisolasi sehingga dia lupa tujuan hidup dan kewajiban-kewajibannya, lupa akan jalan kebenaran yang harus ditempuhnya dikarenakan dirinya telah menjadi budak harta, budak pangkat dan jabatan, budak nafsu birahi dan budak nafsu-nafsu lahiriah lainnya. Kebutaan mata hati juga dapat terjadi terutama karena hati terhalangi oleh pikiran-pikiran salah seperti prasangka buruk, egois dan fanatik kelompok, sudut pandang yang keliru, eksklusifisme, kesombongan, iri-dengki, dan lain-lain. Dalam kondisi seperti ini, hati menjadi gelap, tidak mampu melihat hakikat kebenaran karena keterlenaannya pada hal-hal lahiriah dari dunia fenomenal.

 

Kebutaan mata hati ini benar-benar telah mengubah keramahan agama menjadi pembenar terhadap segala bentuk tindak kekerasan dan mengubah kelembutan manusia menjadi sosok makhluk yang lebih kejam dan lebih ganas daripada srigala. Kebutaan mata hati juga disinyalir sebagai penyebab penyalahgunaan  teknologi informasi sebagai sarana penyebaran kebencian, permusuhan, kekerasan dan tindakan destruktif lainnya. Sungguh mengherankan jika mereka yang terlibat atau menyebabkan tindakan atau kebijakan yang mendatangkan malapetaka bagi kemanusiaan bena-benar memahami agama dan pesan-pesan cinta dan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

_&&&&

Ada dua jenis cinta yang bersifat fitri, yaitu CINTA ILAHIAH  dan CINTA INSANIAH. Keduanya dapat dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan antara satu dari yang lainnya.

 

Cinta ilahiah adalah cinta akan diri seseorang dalam kaitannya dengan Yang Maha Ada, Allah Swt. Dengan cinta ilahiah, manusia senantiasa berada dalam orbit kerinduannya untuk semakin dekat secara vertikal kepada Allah Swt. Adapun cinta insaniah adalah cinta akan diri seseorang dalam kaitannya dengan seluruh umat manusia. Dengan cinta insaniah , semua manusia mempunya rasa kemanusiaan yang sama yang membentuak kesatuan faktual dengan satu nurani insani bersama yang membuat manuasia merindukan kedekatan hubungan secara horizontal dengan sesamanya.

 

Kedua jenis cinta tersebut merupakan potensi dasar manusia yang dibawa sejak  di alam primordial. Tugas manusialah untuk mengaktualisasikannya.

 

Ketika cinta ilahiah teraktualisasikan, seseorang yang karena kesadarannya senantiasa mendambakan kedekatan hubungan dengan Allah Azza wa Jall, dan kedekatan hubungan dengan Allah hanya dapat dicapai apabila diserti pula dengan kesediaan untuk mendekati sesama manusia. Para pecinta Allah tidak akan pernah tinggal diam ketika melihat saudara-saudaranya berbalut duka karena kemiskinan, kebodohan, kekerasan, dan penyakitl. Meraeka, baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, terjun ke medan laga untuk membantu nasib orang lain yang hidup serba kekuaangan. Para pecinta adalah mereka yang juga pecinta sesamanya; mereka enggan melakukan tindakan yang merugikan atau mencelakakan orang lain, karena mereka sadar bila mereka tidak suka mendapat perlakuan seperti itu, orang lain pun mempunyai perasaan yang sama. Duka orang lain adalah duka mereka juga.

 

Sumber: Dari akun Instagramku @motivartist. Versi lengkapnya pernah dimuat di harian Radar Cirebon.

=========

Jika fitrah menguasai sebagian besar energi psikis seseorang, maka kepribadiannya akan mengarah kepada kesempurnaan yang selalu membangkitkan visi, kreatifitas, ketahanan mental, integritas, dan komitmen yang menjadi sumber energi dan perasaan, yang mengaktifkan nilai-nilai kemanusiaan yang paling dalam: kejujuran, keadilan, kebijaksanaan, prinsip kepercayaan, pengendalian diri, dan pelayanan. Tetapi sebaliknya, jika hawa nafsu seseorang yang dominan, menguasai hati dan intelek dan membuat fitrahnya terisolasi, maka dia akan bertindak primitif, agresif, dan anti sosial; dan sejak saat itulah dia menjadi terasing dari dirinya yang berdampak langsung pada kegelisahan dan keresahan pada hatinya.

 

Keterasingan dan ketidakdamaian dengan diri sendiri pada akhirnya dapat pula membuat seseorang terasing dari lingkungannya dan susah untuk berdamai dengan orang lain. Ketika seseorang menjalani hidupnya dengan membiarkan fitrahnya terisolasi, tanpa moral dan tanpa prinsip hidup, maka dia tidak ubahnya seperti binatang liar yang berkeliaran di kota-kota dan desa-desa, bahkan kehadirannya di tengah masyarakat dapat membahayakan keamanan dan keselamatan nyawa dan harta orang lain.

 

Dinul Islam bukan sekedar sebuah aturan manual yang dijadikan sebagai paspor menuju surga, tetapi ia adalah sebuah paket sosial, intelektual, dan spiritual yang tujuannya adalah untuk membersihkan jiwa manusia agar fitrahnya teraktualisasikan dalam kehidupan; sebuah paket kehidupan yang bertujuan untuk membentuk manusia-manusia yang bekepribadian nafsul mutmainah, yaitu kepribadian yang mendatangkan ketenangan, kedamaian, keselamatan, dan keamanan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi sesama manusia.

 

 Ketika k

Hati adalah unsur ruhaniah penentu segala perbuatan manusia , apakah seseorang memilih dorongan kamajuan atau kemunduran ditentukan oleh hatinya. Yang dimaksud dengan hati di sini tentu bukanlah hati fisik, tetapi hati spiritual yang berperan sebagai penghubung antara fitrah dengan realitas yang ada di dunia luar. Ia adalah raja yang memerintah, mengatur, dan mengendalikan kepribadian. Dengan kata lain, kepribadian seseorang ditentukan oleh bagaimana hatinya; jika hatinya baik, baiklah kepribadiannya, dan jika hatinya buruk, buruk pula kepribadiannya.

Sebagai pengambil keputusan dan penentu kepribadian, hati menjadi medan pertempuran dan ajang perebutan pengaruh antara fitrah yang memperperjuangkan termanifestasikannya nilai-nilai moral yang agung dalam kehidupan dan nafsu yang memosisikan dirinya sebagai oposisi.

 

Dalam melaksanakan fungsinya sebagai eksekutor perbuatan, hati dibantu oleh akal, yaitu unsur ruhaniah yang berperan sebagai penasihat dan mediator dalam mempertimbangan tingkah laku. Ia adalah kapesitas intelektual yang dengannya manusia potensial mampu membedakan antara perilaku yang secara substansial bernuansa humanistik dan perilaku binatang.

 

Fitrah, hati, akal, dan nafsu adalah struktur kepribadian yang masing-masing mempunyai sistem kerjanya sendiri, namun antara satu dengan yang lainnya haruslah terjalin keharmonisan dan keseimbangan dalam menjalankan fungsinya. Jika tidak, maka akan terjadi apa yang disebut dengan MPD (Multiple Personality Deviancy) atau kepribadian ganda yang menyimpang.

===={{{====

Sebagai individu setiap orang apapun warna kulit, suku, bahasa dan agamanya adalah sama, merupakan perpaduan antara ruh dan jasad; yang membedakan antara satu orang dengan yang lainnya adalah kepribadiannya.

 

Dengan ruhnya, manusia mempunyai fitrah, suara hati yang condong kepada kebenaran dan nilai-nilai luhur yang akan mengantarkan manusia ke derajat yang paling tinggi; dan dengan jasadnya, manusia mempunyai nafsu syahwat yang cenderung untuk senantiasa mengejar kenikmata-kenikmatan lahiriah yang jika tidak dikendalikan akan menurunkan derajat manusia ke tingkat kemundurunan yang paling rendah. Dengan demikian, manusia sepanjang hidupnya senantiasa dihadapkan pada konflik internal di dalam dirinya antara dua dorongan, yaitu dorongan kemajuan (growth motivation) yang bersumber dari fitrahnya dan dorongan kemunduran (deficiency motivation) yang bersumber dari hawa nafsunya.

 

Pilihan setiap orang untuk bereaksi terhadap segala dorongan dan rangsangan mungkin berbeda. Memilih dorongan kemajuan (progression choice) berarti melangkah menuju kepada kesempurnaan; sebaliknya, memilih dorongan kemunduran (regression choice) berarti menjauh dari kesempurnaan.

 

Masyarakat bukan hanya kumpulan individu-individu, tetapi ia adalah pribadi-pribadi yang membentuk kesatuan fungsional bersama. Dengan demikian perilaku kelompok-kelompok masyarakat merupakan perwujudan dari kepribadian tiap-tiap individu di dalamnya. Masyarakat sebagaimana individu selalu dihadapkan pada konflik dua dorongan tersebut. Itulah sebabnya kebaikan dan keburukan selalu ada bahkan seringkali berdampingan di masyarakat manapuun, dan yang paling sulit diketahui oleh kebanyakan orang awam adalah ketika kebathilan dibungkus dengan kemasan kebaikan. Bgaimana cara kelompok-kelompok masyarakat memperjuangkan nilai-nilai luhur mungkin berbeda demikian pula dengan yang memperjuangkan kejahatan. Nilai-nilai manakah yang seseorang pilih dan perjuangkan menentukan ke arah mana dia melangkah, menuju kepada kesempurnaan atau menjauh darinya.

MENGENAL DIRI

 

Manusia dalam bahasa Alqur’an sering disebut basyar atau insan; namun ini tidak berarti ada dua jenis manusia, yaitu manusia basyar dan manusia insan. Basyar dan insan adalah satu kesatuan yang membentuk manusia tunggal dengan dua dimensi, yaitu dimensi basyariyah yang menunjuk kepada jasmaninya dan dimensi insaniyah yang menunjuk lebih kepada ruhnya.

 

Manusia dari dimensi basyariyah adalah sosok makhluk yang dapat berjalan dengan tegak, mempunyai bebagai kebutuhan jasmaniah, dapat terserang penyakit dan ketika mati tubuhnya terurai dari individu ke organ, jaringan, sel, molekul, atom, sub atom lalu kembali ke asalnya, tanah. Adapun manusia dari dimensi insaniyah adalah makhluk yang telah diberinya hati spiritual dan intelek yang dengan keduanya manusia potensial menjadi makhluk terbaik.

 

Spiritualitas dan intelektualitas manusia adalah dua potensi luar biasa. Tugas manusialah untuk mengubah potensialitas tersebut menjadi aktualitas. Jika tidak, maka manusia turun derajatnya ke derajat binatang, bahkan dapat lebih buruk daripada binatang.

 

Dengan spiritualitasnya, setiap manusia potensial menjadi seorang relijius meskipun dia bukan seorang jenius. Dengan intelektualitasnya, manusia potensial menjadi seorang jenius meskipun mungkin saja dia tidak menjadi seorang relijius. Dengan demikian, manusia potensial menjadi seorang relijius yang jenius, atau seorang jenius yang relijius, tetapi dia dapat pula tidak menjadi seorang relijius dan tidak pula seorang jenius.

Relijiusitas tanpa diimbangi intelektualitas dapat membuat orang bergairah dalam beragama tetapi sangat rentan dibodohi dengan hal-hal, termasuk kebathilan, yang dibungkus dengan kemasan agama. Intelektualitas tanpa diimbangi relijiusitas dapat mendorong orang menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan.

 

ORANG YG TAK TERSENTjUH API NERAKA

Rasulullah saw bersabda :

‎ﻋَﻦِ ﺍﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ، ﻋَﻦِ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ،ﻗَﺎﻝَ : ﺃَﻻَ ﺃُﺧْﺒِﺮُﻛُﻢْ ﺑِﻤَﻦْ ﺗُﺤَﺮَّﻡُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ؟ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ : ﺑَﻠَﻰ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ، ﻗَﺎﻝَ : ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﻫَﻴِّﻦٍ، ﻟَﻴِّﻦٍ، ﻗَﺮِﻳﺐٍ، ﺳَﻬْﻞٍ

“Maukah kalian aku tunjukkan orang yang Haram baginya tersentuh api neraka?” Para sahabat berkata, “Mau, wahai Rasulallah!” Beliau menjawab:
“(yang Haram tersentuh api neraka adalah) orang yang *Hayyin, Layyin, Qarib, Sahl*.”
(H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Hiban).

1. Hayyin
Orang yang memiliki ketenangan dan keteduhan lahir maupun batin.
Tidak mudah memaki, melaknat serta teduh jiwanya..

2. Layyin
Orang yang lembut dan santun, baik dalam bertutur-kata atau bersikap. Tidak kasar, tidak semaunya sendiri. Lemah lembut dan selalu menginginkan kebaikan untuk sesama manusia

3. Qarib
Akrab, ramah diajak bicara, menyenangkan bagi orang yang diajak bicara. Dan murah senyum jika bertemu.

4. Sahl
Orang yang tidak mempersulit sesuatu. Selalu ada solusi bagi setiap permasalahan.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: