Draft

Itu adalah istilah-istilah ilmu keislaman yang sukar dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia tetapi bisa dijelaskan, bu. Wasithotul istianah menerangkan bahwa memohon pertolongan itu berbeda dengan menyembah. Memohon pertolongan bukan berarti menyembah; minta tolong kepada petugas pemadam kebakaran bukan berarti menyembahnya. Baik, saya jelaskan ya bu. Allah berfirman

اياك نعبد و اياك نستعين

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan”

Dalam ilmu nahwu terdapat bermacam-macam kegunaan huruf wawu ( و ) ada wawu athof, wawu qosam, wawu hal dan wawu maiyah. Huruf wawu dalam ayat di atas adalah wawu athof yang berarti “dan” yang digunakan untuk menghubungkan dua hal yang berbeda. Jika ibu Yani mengatakan “Sabrang dan tomat” maka keduanya adalah berbeda. Dalam ayat di atas dua hal yang dihubungkan dengan huruf wawu adalah na’budu (kami menyembah) dan nastain (kami memohon pertolongan). Jadi menyembah dan memohon pertolongan adalah dua hal yang berbeda. Menyembah tidak diperbolehkan menggunakan perantara; tidak ada wasithotutta’abbud, tetapi memohon pertolongan kepada Allah boleh menggunakan perantara, inilah yang disebut wasithotul istianah.

Kemudian اياك (hanya kepada Engkaulah) dalam ayat tersebut disebut dua kali. Ini menunjukkan bahwa menyembah dan memohon pertolongan itu secara hakiki hanya kepada Allah, hanya saja istianah (memohon pertolongan) itu ada istianatul hakikiyyah dan ada pula istianatul majaziyyah. Dimaksudkan dengan istianatul hakikiyyah adalah memohon pertolongan secara hakikat, dan dimaksudkan dengan istianatul majaziyyah adalah memohon pertolongan secara majazi/metaporis. Jika ibu Yani sakit, ibu minta tolong kepada dokter untuk mengobatinya, tetapi pada hakikatnya yang menolong ibu sembuh dari penyakit adalah Allah, bukan dokter. Pertolongan Allah itulah istianatul hakikiyyah dan pertolongan dokter adalah istianatul majaziyyah. Jika ada orang berkeyakinan bahwa dokterlah yang menyembuhkan penyakit, bukan Allah, berarti dia telah menjadikan pertolongan dokter sebagai istianatul hakikiyyah, dan dalam hal ini dia telah jatuh pada perbuatan syirik.

2. Gaji adalah bagian dari rizki, tetapi rizki tidak selalu dalam bentuk gaji. Lalu apakah Rizki itu? Imam Kurtubi menerangkan:

ماصح الانتفاع به

Apa saja yang mendatangkan manfaat. Gaji mendatangkan manfaat berarti gaji juga rizki tetapi rizki tidak selalu dalam bentuk gaji atau uang, ia bisa berupa udara yang kita hirup dll. Rizki ada yang dapat diduga ada pula yang tidak, ada yang diusahakan ada pula yang tidak; semuanya pada hakikatnya adalah pemberian Allah.

Berbagai cara dilakukan orang dalam mencari uang sesuai dengan bidang dan minatnya. Imam Ibnu Athoillah Alasykandari menerangkan:

إِرَ ادَ تُــكَ الـتَّجْرِ يْدَ مَـعَ إِقَامَـةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ اْلأَسْبَابِ مِنَ الشَّـهْـوَ ةِ الْخَفِـيـَّةِ. وَ إِرَادَ تُـكَ اْلأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللَّهِ إِ يَّـاكَ فيِ الـتَّجْرِ يْدِ اِنحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَـلِـيـَّةِ “Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih menegakkan engkau di dalam asbab, merupakan syahwah yang tersamar (halus). Dan keinginanmu kepada asbab, pada saat Allah sudah menegakkan engkau dalam tajrid, merupakan suatu kejatuhan dari himmah yang tinggi.”

Orang yang berada pada posisi ASBAB harus mencari uang, tidak mencari tidak dapet, bisa srbagai employed, self-employed, business owner atau investor. Adapun orang yang berada dalam posisi TAJRID bukan dia yang menari uang, tetapi uanglah yang mencari dia.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: